Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Kegigihan Wijianto Mengedukasi HIV/AIDS

Ajak ODHA Berkreasi agar Bertahan di Pandemi Covid

16 September 2020, 16: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

APRESIASI: Wijianto, ODHA asal Nganjuk menunjukkan piagam dan medali yang didapat dari Leprid Semarang 7 September lalu.

APRESIASI: Wijianto, ODHA asal Nganjuk menunjukkan piagam dan medali yang didapat dari Leprid Semarang 7 September lalu. (dokumen jawa pos radar nganjuk- radarkediri.id)

Share this          

Kegigihan Wijianto Gareng mengedukasi HIV-AIDS keliling Indonesia pada 2015-2017 lalu berbuah prestasi. Minggu lalu dia mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) Semarang. 

SRI UTAMI, NGANJUK.   JP Radar Nganjuk

“Saya awalnya juga kaget menda­pat penghargaan ini,” ujar Wijianto membuka pembicaraan tentang penghargaan yang didapatnya dari Leprid Semarang, kemarin sore. 

Berkeliling Indonesia untuk memberi pemahaman tentang HIV/AIDS, Wijianto atau yang akrab disapa Gareng ini tak pernah menyangka jika dirinya akan mendapat penghargaan. Apalagi, perjalanan yang dimulai pada 7 November 2015 lalu itu memang sudah selesai pada 10 November 2017 silam.

Rupanya, cerita tentang perjalanan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam melakukan edukasi tentang penyakit yang menyerang kekebalan tubuh tersebut sampai juga ke Leprid. Mereka membaca kiprah Gareng lewat website yang dibuat oleh pria asal Desa Ngadirejo, Tanjunganom.  

Sebagai penyandang HIV/AIDS, pria kelahiran 7 November 1982 itu memang sudah membuat langkah yang luar biasa. Dia melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan mendatangi 110 kota/kabupaten di 30 provinsi di Indonesia. 

Di tiap daerah yang dikunjungi, lulusan SMPN 1 Tanjunganom ini memberi edukasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat. Di saat yang sama, dia juga menyemangati para ODHA, kelompok minoritas yang ada di tiap daerah tersebut. 

“Mungkin itu dianggap menarik bagi Leprid,” lanjutnya.  Wijianto mengungkapkan, sejak awal memutuskan untuk ber­keliling Indonesia memberi edukasi tentang HIV/AIDS, dia tidak pernah berpikir akan mendapat penghargaan. Ma­kanya, begitu mendapat apre­siasi dari Leprid, dia berharap hal itu bisa menjadi pendorong semangat bagi ODHA lainnya. 

Dalam kondisi pandemi Co­vid-19 seperti sekarang, pria berusia 38 tahun itu sadar benar jika beban yang dirasakan ODHA sangat berat. Meski demikian, menurutnya ODHA tidak boleh terpuruk.

Penulis buku tentang edukasi HIV/AIDS dan narkoba itu menyebut, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk survive. “ODHA juga begitu. Siapapun bisa bertahan,” jelasnya. 

Setidaknya, bapak satu anak ini sudah membuktikannya. Divonis AIDS sejak 2011 lalu, pria berstatus dua ini tidak langsung terpuruk. Dia memoti­vasi diri untuk terus berkarya.

Caranya dengan bekerja sebisanya. “Yang penting kita harus sehat dulu agar bisa berkreasi. Bekerja sesuai dengan kemampuan kita,” jelasnya.   

Jika semangat itu tumbuh, Wijianto yakin, ODHA, seperti halnya orang yang menderita penyakit menular lainnya, tetap bisa beraktivitas normal. Ter­masuk bersosialisasi dengan banyak orang. 

Pria yang memilih tak menutup statusnya sebagai ODHA itu kini aktif menulis buku. Dia juga berkeliling daerah untuk melakukan pertemuan dengan sesama ODHA dan kelompok masyarakat lainnya. “Memberi pemahaman tentang HIV/AIDS. Memberi edukasi,” paparnya. 

Beberapa hari lalu, Wijianto juga didapuk sebagai narasumber webinar tentang HIV/AIDS oleh Universitas Negeri Jember (UNEJ) kampus Pasuruan. Selebihnya, dia aktif  berdiskusi dengan berbagai organisasi tentang penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu. 

September ini, sedianya Wijian­to juga mendatangi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta terkait masalah HIV/AIDS. Tetapi, rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena pandemi Covid-19. “Masih menunggu waktu yang tepat untuk penjadwalan (ke Kemenkes, Red),” urainya. 

Jika banyak orang “mengerem” aktivitas akibat wabah korona, Gareng memang memilih sebaliknya. Dia tetap berke­giatan dengan memperhatikan protokol kesehatan. 

Dia berharap ODHA lain bisa melakukan hal serupa. Wijianto mengajak ODHA lain untuk bangkit agar bisa mengalahkan virus yang ada di tubuh mereka. Sebab, hanya dengan cara demikian mereka bisa bertahan. “Jangan pasrah. Dalam kondisi pandemi ini yang bisa bertahan bukan orang kaya atau kuat, tapi yang mampu beradaptasi dengan dirinya dan lingkungan,” tuturnya memotivasi. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia