Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Permintaan Turun, Harga Tembakau Anjlok

Rekor Terendah, Hanya Rp 700 per Kilogram

16 September 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

RUGI: Juni Sumardiah, 35, petani tembakau di Desa Ngepung, Lengkong menusuk pangkal daun tembaku untuk dijemur. Mereka tidak bisa menjual daun basah karena harganya sangat murah.

RUGI: Juni Sumardiah, 35, petani tembakau di Desa Ngepung, Lengkong menusuk pangkal daun tembaku untuk dijemur. Mereka tidak bisa menjual daun basah karena harganya sangat murah. (rekian- radarkediri.id)

Share this          

LENGKONG, JP Radar Nganjuk-Penderitaan sejumlah petani tembakau di Nganjuk selama pandemi Covid-19 ini seolah berlipat. Pasalnya, selain harus menanggung beban seretnya ekonomi, harga panenan tembakau mereka September ini jeblok. Yaitu, hanya Rp 700 per kilogram.

Harga tersebut diklaim meme­cahkan rekor terendah harga tembakau basah. “Sebelumnya paling rendah Rp 2.000 per kilogram untuk tembakau basah. Ini harga terendah,” keluh Juni Sumardiah, 35, petani tembakau asal Desa Ngepung, Lengkong. 

Perempuan berambut pendek itu menjelaskan, harga tembakau jeblok akibat permintaan tembakau yang turun drastis selama pandemi. 

Akibatnya, stok di tengkulak atau pedagang besar pun berlimbah.  Dikatakan Juni, para petani tembakau baru bisa meraih untung jika harga tembakau basah Rp 3.000 per kilogram. Karenanya, dengan harga yang jatuh tersebut petani tembakau di beberapa kecamatan di Nganjuk harus merugi. 

Untuk menyiasati agar kerugian mereka tak terlalu besar, Juni dan para petani tembakau lainnya di Lengkong memilih untuk menjual tembakau kering. Harga jual tembakau ini lebih mahal. Yaitu, Rp 5 ribu per ikat. 

Harga tembakau kering ini juga turun dibanding sebelum pandemi yang mencapai Rp 8 ribu per ikat. “Empat ikat ini biasanya satu kilogram. Laku Rp 20 ribu per kilo,” lanjut Juni sambil menusuk batang daun tembakau sebelum menjemurnya. 

Demi mendapat harga yang lebih baik, Juni dan petani lain harus mengeluarkan tenaga ekstra. Mereka harus mau menjemur daun tembakau hingga kering. “Biasanya butuh waktu satu bulan. Tergantung cuaca,” tuturnya. 

Meski tidak bisa mendapat uang dalam waktu cepat, Juni dan petani lainnya tidak punya pilihan selain menjual tembakau kering. Sebab, hasil panenan tersebut jadi tumpuhan petani di musim kemarau.

Pada musim kemarau seperti sekarang, mereka tidak bisa lagi menanam jagung. Pasalnya, tidak ada lagi air yang bisa digunakan untuk mengairi kebun. Risiko gagal panennya terlalu besar. “Tidak berani menanam selain tembakau. Bagaimana lagi. Kena pandemi tapi malah harga tembakau murah,” keluhnya.

Untuk diketahui, tanaman tembakau petani di Desa Ngepung, Lengkong tidaklah terlalu luas. Setiap kali panen mereka hanya bisa mendapat 3-4 kuintal tembakau. 

Jika petani nekat menjual daun basah, mereka hanya bisa men­dapat uang Rp 280 ribu. Jumlah itu tidak bisa menutup biaya perawatan tanaman. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Serbasusah,” tan­das Juni sambil melangkah keluar mengecek daun temba­kau yang dijemurnya. 

Pantauan koran ini, September memang menjadi musim panen tembakau. Selain Juni, ada banyak petani yang terlihat menjemur daun tembakau di samping atau depan rumahnya. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia