Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Dari Masa Panjalu hingga Majapahit

15 September 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

TERTIMBUN: Bongkahan bata kuno terlihat jelas pada irisan tanah di galian yang digunakan sebagai bata merah.

TERTIMBUN: Bongkahan bata kuno terlihat jelas pada irisan tanah di galian yang digunakan sebagai bata merah. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/JPRK)

Share this          

Bukti jejak peradaban di Desa Pagu memang cukup banyak. Diperkirakan sudah ada sejak masa Panjalu dan berlanjut hingga Majapahit.

Bukti adanya peradaban di kawasan ini diperkuat dengan temuan-temuan benda masa lampau yang saat ini tersebar di penjuru desa. Dari kawasan ini rata-rata temuan artefaktual kini statusnya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.

Dari temuan-temuan itu, memang belum ada bukti tertulis sejak masa kapan peradaban di Pagu ada. Namun dari bukti ciri-ciri temuan, itu sudah dibuat sejak masa Panjalu.

Terkait masa peradaban penemuan itu dari zaman apa, pemerhati sejarah Novi Bahrul Munib juga belum bisa memastikan. Menurutnya perlu penelitian lebih jauh. Termasuk mengetahui angka tahun yang ada di uang gobog (uang yang berlaku di era Majapahit) yang ditemukan di areal persawahan.

“Mungkin sezaman dengan (era) Panjalu, kemudian bersambung hingga Majapahit akhir,” ungkap pria yang juga ketua Komunitas Pelestarian Sejarah Budaya Kadhiri ini.

Untuk bukti dari era Panjalu itu, salah satunya adalah ukuran bata kuno yang terserak di desa tersebut. Rata-rata berukuran besar, mengindikasikan dibuat sebelum era Majapahit. Sementara terkait bukti lain, sebenarnya ada tulisan yang secara toponomi menyebut kata Pagu. Yakni pada penemuan lempengan berupa prasasti bernama Paguhan. Itu ditemukan di Desa Bogem, Kecamatan Gurah. Desa itu hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari Pagu.

“Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta,” terang Novi.

Prasasti tersebut kata Novi merupakan surat atau kwitansi jual beli tanah pada masa itu. Dari catatan yang tertulis pada bendoa kuno itu, disebutkan tentang pembelian tanah untuk kebutuhan Almarhum Raja Paguhan.

“Apakah itu Pagu sini, atau Pagu yang lain, belum bisa memastikan,” tambahnya.

Yang jelas dari sejumlah sumber, catatan dalam prasasti yang terdiri atas tiga lempeng itu berkaitan dengan Situs Bogem. Cirinya adalah tulisan berukuran besar. Yang menarik, format isinya mirip dengan format isi kwitansi zaman sekarang. Nilai uang disebut dua kali. Dengan bilangan dan angka, ada juga paraf dari yang menerima uang tersebut.

Prasasti lempeng ini berbunyi "Sudah terima dari para 'angucap gawe' di Gedong Dingdiwa sejumlah uang untuk pembayaran sebidang tanah untuk kepentingan Bhatara di Paguhan yang meninggal di Pramalaya. Jumlah uang 200.000 (dua ratus ribu) kepeng banyaknya. Tertanggal 13 paroterang, bulan Asuji, 1338 Saka atau 4 September 1416 masehi. Tertanda: Sang Kawasa".

Raja yang dimaksud ini bersemayam di Pramalaya. Nah "Pramalaya" ini yang di identifikasi oleh Novi sebagai tempat pendarmaan atau sebuah candi untuk Raja Paguhan. “Lokasinya bisa kita ajukan ke Puthuk Bogem. Karena ditemukan jejak-jejak percandian di lokasi itu,” ungkapnya. (din/bersambung/dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia