Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Semai Kemandirian lewat Program Keluarga Harapan

Tergraduasi, Ribuan KPM “Lulus”

14 September 2020, 13: 32: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

PKH

MENGADU: Tri Wahyuni, 34, warga Desa Rowomarto, Patianrowo mendatangi sekretariat PKH di dinsos PPPA Jumat (11/9) lalu. Dia mempertanyakan status keponakannya yang masuk kategori miskin tapi belum mendapat bantuan sosial. (Sri Utami - radarkediri.id)

Share this          

Dari puluhan ribu penerima program keluarga harapan (PKH) tiap tahunnya, ada ribuan yang dinyatakan “lulus”. Mereka lepas dari kategori miskin setelah dinyatakan mandiri.

Adalah Asih Widiyani, 44, salah satu contoh keluarga penerima manfaat (KPM) yang berhasil mandiri secara ekonomi setelah menerima bantuan PKH. Pemilik usaha jamu Widoro Asih yang kini omzet kotor penjualannya mencapai Rp 40 juta itu mengaku memulai usaha dari bantuan PKH. “Dulu dapat bantuan pokok Rp 500 ribu. Yang Rp 350 ribu itu saya pakai kulakan jamu,” kenangnya.

Perempuan yang tinggal di Dusun Gimbal, Desa Ngliman, Sawahan itu menjadi KPM PKH sejak 2016 lalu. Selanjutnya, pada 2019 dia dinyatakan graduasi karena mengundurkan diri. Alasannya, secara ekonomi dia mengaku mampu.

PKH

Graduasi PKH 2020 (Grafis: Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Sebelumnya, selain bantuan pokok, sebelumnya Asih juga menerima bantuan senilai jutaan rupiah per tahun karena ada anaknya yang sekolah TK dan SD. “Selain untuk biaya sekolah anak, uang PKH saya pakai untuk usaha. Alhamdulillah usaha jamu saya berkembang,” lanjut perempuan yang jamunya sukses dijual ke luar negeri itu.

Setelah berhasil lepas dari PKH, Asih yang menjadi ketua KPM untuk Desa Ngliman mengaku berusaha mengajak tetangganya untuk berkembang. Caranya, dengan memaksimalkan keterampilan yang dimiliki. “Ada yang bisa membuat kue, menjahit, saya ajak bikin produk. Pokoknya harus bisa lepas dari PKH. Harus maju,” jelasnya.

Selain Asih, menurut Koordinator Kabupaten PKH Nganjuk Khusnul Kholik, setiap tahun ada ribuan KPM yang tergraduasi alias dinyatakan lulus.

Selama 2020, total ada 8.470 KPM yang tergraduasi dari PKH. Mereka dinyatakan “lulus” dan tidak lagi menerima bantuan dari Kementerian Sosial itu karena beberapa sebab. Yakni, KPM dinyatakan mandiri atau sudah memiliki usaha baru dan tidak perlu lagi mendapat PKH.

Ada pula KPM yang dinyatakan mampu secara ekonomi. Kemudian, KPM tergradusasi secara alami karena mereka tidak lagi memenuhi kriteria komponen untuk menerima PKH. “Misalnya, tidak punya anak sekolah, tidak ada lansia, tidak hamil, dan tidak ada komponen lainnya,” terang pria berkaus putih itu.

Jumlah KPM yang tergraduasi sekaligus mencerminkan keberhasilan pendampingan PKH. “Jika KPM yang didampingi tidak ada yang tergraduasi, berarti bisa dipertanyakan pendampingannya. Akan dievaluasi,” tegasnya.

Bergulir sejak 2013, sesuai hasil final closing PKH tahap 4 Agustus lalu, total ada 62.318 keluarga penerima manfaat (KPM) PKH di Nganjuk. Jumlah itu naik dibanding hasil final closing PKH tahap 3 Mei lalu sebanyak 55.917 KPM.  “Jumlah penerima PKH memang terus berubah sesuai hasil verifikasi dan validasi yang dilakukan pendamping,” urai Kholik.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia