Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Apapun Asal Dapur Ngebul

13 September 2020, 17: 08: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

TE..SATE..: Iman, pedagang sate asal Madura mulai berjualan lagi di Kampung Inggris. Lelaki ini sempat berhenti berjualan akibat pandemi korona.

TE..SATE..: Iman, pedagang sate asal Madura mulai berjualan lagi di Kampung Inggris. Lelaki ini sempat berhenti berjualan akibat pandemi korona. (LU’LU’UL ISNAINIYAH/JPRK)

Share this          

Di Kampung Inggris, mereka yang terdampak secara ekonomi tak hanya pemilik kursus. Kehilangan pendapatan juga menimpa pemilik usaha lain. Pemilik tempat kos, penyedia rental sepeda, hingga penjual makanan. Sebagian ada yang memilih bertahan. Tapi tak sedikit yang memilih gulung tikar.

“Sejak korona pemasukan turun hingga 75 persen,” aku Anna Manurun, pemilik tempat kursus Inspire di Jalan Asparaga.

Penurunan itu terjadi karena berkurangnya murid. Banyak orang tua khawatir yang akhirnya meminta anak mereka pulang. Terakhir, jumlah siswa mereka 25 orang. “Ini hanya tinggal tiga orang yang masih di sini. Tidak bisa pulang karena masalah biaya,” terangnya.

Anna sempat membuat kelas online. Awalnya ada tiga siswa. Kini menyusut tersisa satu orang. Belajar bahasa membuat sistem online tidak cocok.

Agar dapur tetap mengebul, Anna melakukan semua upaya. Mulai online shop hingga dropshiping. Hasilnya, lumayan untuk makan sehari-hari.

Masalah besar bagi wanita 32 tahun ini adalah biaya operasional. Dia masih harus membayar sewa tempat kursus, tagihan listrik, dan biaya wifi yang tak bisa diputus karena masih dibutuhkan. Untung, sewa gedung sudah dia bayar di muka untuk tiga tahun. Masih tersisa dua tahun lagi.

Kesusahan yang sama juga dirasakan Dewi Ratnasari, pemilik rental sepeda di Jalan Anyelir. “Tidak ada pemasukan sama sekali,” keluhnya.

Sebelum pandemi, 25 unit sepedanya bisa mendatangkan penghasilan Rp 2 juta per bulan. Kini sepeda-sepeda itu hanya terparkir. Tidak ada yang menyewa.

“Masih bertahan dari gaji suami. Kalau kurang nantinya mungkin akan melakukan pinjaman,” akunya.

Kondisi serupa juga menimpa Arnold Herianto. Warga asal Medan, Sumatera Utara ini punya beberapa usaha. Laundry, kos-kosan, dan sewa sepeda di Jalan Flamboyan. Kini semuanya tutup. Sama seperti usaha lain di jalan itu yang tutup selama beberapa bulan terakhir.

Dia pun terpaksa melepas tiga karyawannya. “Nanti kalau sudah ramai lagi saya minta kembali,” aku pria yang mengaku mampu menghasilkan Rp 7,5 juta dalam sebulan sebelum ada pandemi itu.

Asa mulai muncul saat geliat kursus mulai ada. Meskipun belum ramai. Setidaknya, dalam sehari dia bisa mendapatkan hasil Rp 70 ribu.

Indriana, warga Desa Sekoto, Kecamatan Badas, yang menjadi penjaga rumah kos di Jalan Anyelir, mengakui adanya geliat itu. Setelah lama kosong, tempat kosnya mulai ada yang menghuni.

“Ini baru saja tiga kamar ditempati.  Sekitar 1 minggu yang lalu,” ujar perempuan yang biasa disapa Ana tersebut.

Padahal, rumah kos yang dia jaga berkapasitas 30 kamar. Harganya bervariasi, paling murah Rp 750 ribu per bulan. Sebelum korona menerjang kamar yang ada selalu hampir penuh. Paling hanya dua kamar saja yang kosong.

‘Mati surinya’ Kampung Inggris juga berimbas pada pendapatan Iman, 49, penjual sate ayam keliling.Warga Bangkalan, Madura ini bahkan sempat tiga bulan tak berjualan. Padahal menjual sate adalah pekerjaan satu-satunya, yang dia jalani selama empat tahun terakhir.

Saat normal, sehari dia bisa menjual 50 porsi sate ayam. Harga per porsinya Rp 13 ribu. Namun, semenjak ada korona ia hanya bisa menjual 4 hingga 5 porsi saja. Kondisi yang membuatnya memutuskan untuk menutup usahanya sementara waktu. “Sehari pernah hanya dapat uang sekitar Rp 9 ribu dulu,” keluh Iman.

Perlahan, kini penjualannya mulai naik lagi. Tidak seramai dulu memang. Setidaknya, 20 porsi bisa dia jual dalam sehari.(ara/luk/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia