Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Kami Sudah Tak Mampu Bertahan!

13 September 2020, 17: 04: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Beberapa bocah bersepeda melintas di depan tempat kursus Kampung Inggris yang memasang tanda dijual di pagarnya.

Beberapa bocah bersepeda melintas di depan tempat kursus Kampung Inggris yang memasang tanda dijual di pagarnya. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

Ada tren baru di Kampung Inggris saat ini. Di beberapa tempat kursus pagarnya ditempeli selembar vinil. Tulisannya : Dijual!

Jangan berharap menemukan keramaian di ruas-ruas jalan yang ada di Kampung Inggris saat ini. Hiruk pikuk dan riuh-rendahnya suara orang-orang beraktivitas telah menghilang dalam beberapa bulan terakhir. Di Jalan Brawijaya, Anyelir, Kemuning, ataupun Flamboyan, semuanya lengang. Padahal, biasanya di jalanan itu penuh dengan hilir mudik siswa yang hendak atau dari tempat kursus. Bersepeda atau berjalan kaki.

Setali tiga wang dengan beberapa tempat usaha. Penyewaan sepeda kayuh tutup semua. Kafe-kafe hanya beberapa saja yang masih melayani konsumen. Itupun dengan pelanggan yang tak seberapa. Tak sedikit gedung kursusan yang di pagarnya tertempel informasi : Dijual!

Semua karena Korona

Semua karena Korona (ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Dari sejumlah informasi yang dihimpun koran ini, rata-rata pemilik lembaga kursus mengalami minus pendapatan. Sebab, meskipun aktivitas berhenti namun biaya operasional terus berlanjut. Mereka masih harus mengeluarkan gaji karyawan, biaya listrik, dan biaya sewa asrama yang enam bulan ini tak pernah ditempati. Salah satu lembaga kursus mengaku masih harus mengeluarkan biaya sebesar lebih dari Rp 80 juta per bulannya!

Padahal, selama pandemi, omzetnya menurun sangat, sangat, dan sangat drastis. Nyaris tanpa pemasukan. Padahal sebelumnya mereka bisa meraup Rp 650 juta per bulan. Itu dari itungan kasar satu lembaga kursus punya 650 siswa. Dengan biaya pendidikan yang dikeluarkan per siswa Rp 1 juta.

Hal itulah yang membuat 150-an lembaga kursus di wilayah yang masuk Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare ini ingin suasana bisa kembali seperti semula. Bisa segera beroperasi lagi. Pun, bila mereka harus menetapkan protokol ketat. Yang itu sudah mereka rancang dalam beberapa bulan terakhir.

“Sebenarnya kami mencoba untuk buka kembali. Karena sudah tidak mampu bertahan,” keluh Divisi Pengawasan Forum Kampung Bahasa (FKB) Rahmad Aryadi.

Lembaga-lembaga kursus itu bahkan bersedia tak mencari keuntungan. Yang penting mereka mampu bertahan. Itu saja. Juga agar warga desa-desa yang selama ini mendapat imbas ekonomi kembali merasakannya.

Mewakili rekan-rekannya di Kampung Inggris, ia berharap aktivitas belajar bisa dibuka meskipun dengan syarat. Yakni dengan protokol kesehatan adaptasi kehidupan baru (AKB). “Kemudian mangga dikontrol tapi harus dibina dan didampingi oleh pemerintah daerah,” harapnya.

Komar, pengawas lain dari FKB, menyesalkan apabila pemerintah daerah tidak berperan dalam pemulihan ekonomi di Kampung Inggris. Padahal, menurutnya salah satu aset penting Kabupaten Kediri ini bisa memberikan kontribusi untuk pemulihan ekonomi.

“Kami kecewa. Kenapa tidak dikasih solusi dan dukungan? Kalau kami dilarang, seharusnya ada juga kompensasinya. Ada solusi apa yang bisa kami dan rekan-rekan lakukan,” akunya.

Selama ini pemerintah daerah menurutnya hanya memberikan surat edaran larangan saja. Tanpa ada solusi yang jelas. Termasuk adanya kompensasi dan bantuan sosial bagi pelaku usaha di Kampung Inggris. “Padahal ini sudah napas terakhir. Kalau kita tidak dikasih napas lagi ya sudah mati,” tambahnya. (din/fud)

Semua karena Korona :

-       Banyak lembaga dan pengusaha yang jual aset. Baik gedung kursus, kafe, dan asrama. Ada puluhan gedung yang telah dijual.

-       Pemilik lembaga beralih profesi. Rata-rata memilih untuk berjualan online.

-       Kegiatan belajar mengajar berhenti, sementara biaya operasional tetap berjalan. Terutama bagi lembaga yang sewa tempat.

-       Dari 153 lembaga, 30 lebih sudah angkat kaki. Lebih dari 50 pemilik lembaga beralih profesi namun masih ada lembaganya.

-       Sisanya masih bertahan tapi tahan napas. Mereka berinovasi untuk mengadakan kelas online. Pendapatan kelas online untuk membayar honor pengajar.

Usaha Nonformal yang Ikut Terdampak

-       Pedagang kaki lima (PKL)

-       Rental Sepeda

-       Laundry

-       Kos dan asrama

-       Warung makan dan kafe

-       Transportasi (tukang becak, angkot, ojek online dan konvensional, taksi online dan taksi konvensional, jasa travel)

-       Dll.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia