Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Komunitas Pemancing Nganjuk Berburu Nila hingga ke Luar Daerah

Terjun ke Waduk untuk Mencari Sarang Ikan

12 September 2020, 12: 14: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

BEKAL LENGKAP: Komunitas pemburu ikan nila bersiap berangkat memancing. Waduk di berbagai daerah sudah pernah mereka jelajahi. (Dokumen Komunitas Pemancing for radarkediri.id)

Share this          

Jika sudah cinta, apapun akan dilakoni. Seperti komunitas pemancing pemburu nila Kota Angin yang rela mendatangi danau, waduk, dan tempat berbahaya lain demi mendapatkan ikan buruannya.

REKIAN, NGANJUK, JP Radar Nganjuk         

Tiga anggota klub memancing Kota Angin berkumpul di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk, Senin (7/9) lalu. Sekitar pukul 20.00, sejumlah pria terlihat gayeng ngobrol di salah satu toko alat-alat memancing yang tak lain adalah milik Sugeng Priyanto, 48.  

Diselingi canda dan tawa, pembicaraan para “pemburu” sering kali terdengar serius. Rupanya, mereka tengah membahas teknis acara berburu ikan nila di bendungan Jati Barang, Semarang, Jawa Tengah. “Ini lokasi yang paling terjauh,” ujar Deny Vazaki, ketua klub pemburu nila Nganjuk.

Dengan jauhnya jarak yang akan ditempuh, mereka memang harus berhitung secara rinci. Terutama perbekalan mereka. Selain akomodasi, pria berusia 42 tahun asal Kelurahan Mangundikaran ini juga menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa.

Pembicaraan malam itu memutuskan hari keberangkatan dan anggota yang bisa mengikuti acara “perburuan”. Saat membahas detail lokasi yang akan dituju, pria yang sehari-hari bekerja di kantor pos itu terlihat bersemangat.

Semarang memang bukan destinasi luar kota pertama yang akan mereka datangi. Sebelumnya, klub pemburu nila ini sudah pernah menjajal waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Demikian pula waduk Kedungombo di Boyolali, Jawa Tengah.

Untuk Jawa Timur, mereka kerap ke Ngawi dan Lamongan. Adapun untuk lokal Nganjuk, spot favorit mereka adalah di waduk Kali Bening, Saradan, Madiun.

Bersama teman-temannya, Deny memang suka menjajal tempat baru. Baginya, setiap lokasi memiliki sensasi dan keunikan masing-masing. Termasuk jenis nilanya. Ada nila gift, lokal, gif merah dan slayer. “Kali Bening nilanya terkenal gurih, kalau jenis paling banyak nila lokal,” urai lelaki berbadan besar ini.

Untuk bisa mendapatkan ikan yang dicari, Deny dan teman-temannya tidak bisa duduk diam di tepi waduk. Mereka harus menumpang perahu lalu memilih lokasi di tengah waduk. Tak jarang Deny harus menceburkan diri ke sungai hingga hanya terlihat bahu dan kepala saja. Dengan cara demikian, pemancing lebih mudah menemukan tempat nila bersarang.

Usaha besar yang dikeluarkan pun biasanya membawa hasil besar. Meski demikian, bukan berarti risiko yang dihadapi kecil. Saat memutuskan terjun ke air, mereka harus siap menghadapi bahayanya.

Beberapa kali Deny mengaku bertemu dengan ular. Baik ular air hingga ular kobra. “Kobra itu kalau di air biasanya hendak menyeberang,” tuturnya.

Meski sempat kaget karena melihat ular kobra, pria berjenggot ini berusaha tenang. Sejak awal dia tahu jika saat berpapasan dengan ular tidak boleh melakukan gerakan. Mematung di tengah waduk. Dengan cara itu, kobra tidak merasa tergganggu dan bisa pergi dengan sendirinya.

Tak hanya Deny, Sugeng Priyanto, 48, anggota klub memancing lainnya juga pernah mengalami hal pahit. Saat itu, dia sengaja naik perahu untuk menuju ke tengah waduk. Semua peralatan dan bahan makanan pun dibawa ke perahu.

Berbeda dengan biasanya, saat di tengah waduk perahu yang ditumpanginya oleng. Dia pun terjatuh. “Kalau sudah jatuh ya bekal makanannya juga ludes,” kenangnya sambil tersenyum.

Dengan lokasi memancing yang beragam, Sugeng dan teman-temannya tidak selalu bisa mendapat bekal makanan dengan mudah. Beruntung, warga atau petani di sekitar waduk selalu bermurah hati.

Mereka mempersilakan anggota klub memancing untuk membeli singkong atau buah dengan harga murah. Cukup dengan Rp 5 ribu mereka sudah mendapat pepaya atau apapun yang ditanam di hutan.

Bertahun-tahun menjelajahi spot-spot memancing di beberapa daerah, bagi Sugeng kawasan Nganjuk tetaplebih ekstrim. Bukan karena lokasinya yang jauh masuk ke dalam hutan. Melainkan karena faktor cuaca.

Angin yang kencang membuat banyak pemancing tidak kuat bertahan lama. Terutama, saat mereka harus terjun ke waduk untuk mendekati sarang ikan nila. “Masing-masing tempat ada suka dan dukanya,” urai Sugeng.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia