Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
OBITUARI

Sosok Ramah dan Ringan Tangan Itu Berpulang

11 September 2020, 17: 07: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

Sri Utami

Sri Utami (Ilustrasi : Nakula Agie Sada)

Share this          

“Semua sepakat jika dia adalah sosok yang baik. Sangat baik malah. Ramah. Ringan tangan.”

Oleh : Sri Utami

"Utami, itu pasien hidrosefalus yang kamu muat alamatnya mana? Suruh bawa ke Gambiran (RSUD Gambiran). Nanti tak operasi. Tak kasih selang gratis. Dia masih bisa sembuh." Ucapan dr Machmud di ujung telepon pada suatu siang, beberapa tahun lalu, mengejutkan saya.

Panggilan telepon dari dokter spesialis bedah syaraf satu-satunya di Kota Kediri itu memang mengagetkan. Bukan apa-apa. Sejak pindah tugas liputan di Kabupaten Nganjuk pertengahan 2015 lalu, saya memang belum kontak lagi dengan dokter senior itu.

Beberapa tahun tidak bertemu, ternyata kebiasaannya mencermati berita-berita bertema kesehatan masih belum hilang. Dulu, hampir setiap kali saya menulis berita tentang kesehatan, terutama tentang kesulitan pasien miskin mengakses kesehatan di rumah sakit, dia selalu merespons. Mulai sekadar berkomentar, jadi bahan obrolan di ruang kerjanya di RSUD Gambiran, hingga pemberian bantuan.

Kekagetan saya siang itu tak lain karena kepeduliannya yang tak kenal sekat wilayah. Kesulitan warga Nganjuk yang saya tulis di koran hari itu pun tak luput dari perhatiannya. Hingga dia menawarkan bantuan.

Tentang sifat dr Machmud yang satu ini, orang-orang yang mengenalnya tentu tidak heran lagi. Semua sepakat jika dia adalah sosok yang baik. Sangat baik malah. Ramah. Ringan tangan.

Suatu kali, saya pernah menelepon dr Machmud pada hari Sabtu. Seperti dokter lain, seharusnya dia libur. Tetapi hari itu saya memohon agar dia ke rumah sakit. Menangani teman saya yang koma setelah mengalami kecelakaan hebat malam harinya.

Tanpa banyak kata, dia langsung mengiyakan. Pagi itu dia ke rumah sakit dan memeriksanya. Meski demikian, kondisi pasien yang tak stabil membuatnya tidak bisa melakukan operasi. Dan, sesuai prediksinya, teman saya mengembuskan napas terakhir keesokan harinya. 

Entah butuh berapa banyak kata jika harus menceritakan semua kebaikan dr Machmud. Bagaimana dokter yang sibuk itu mau meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan saya. Menceritakan penanganan kasus bedah syaraf rumit yang baru ditanganinya.

Menunjukkan foto-foto awal pasien yang datang dengan bentuk kepala tak beraturan hingga dijahit rapi setelah operasi. Lengkap dengan suka duka yang dirasakan dalam penanganan bersama tim. Bukan meminta untuk dipublikasikan. Tetapi sekadar berbagi cerita. Berbagi kelegaan.

Suatu saat dia juga mengajak saya ikut visite ruangan. Melihat dia berkomunikasi dengan pasien. Saat itulah saya tahu, di depan pasiennya dia tidak bersikap seperti dokter. Bisa menjadi ayah atau menjadi teman. Mengajak berbincang. Memberi motivasi.

Sesekali mengajak bercanda sambil tersenyum dengan mimik wajahnya yang sering terlihat serius. Sikap itu tidak hanya ditunjukkan di depan saya. Cerita dari para mantan pasiennya menunjukkan jika sikapnya memang tulus.

Saya sudah lupa kapan pastinya mulai mengenal dr Machmud. Sebagai dokter spesialis bedah syaraf, seharusnya saya tidak banyak bersinggungan dengannya. Tema-tema liputan saya lebih banyak tentang kesehatan anak, penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, serta tema-tema umum lainnya.

Tetapi, begitu mengenalnya, bisa langsung enak saja mengobrol. Tanpa perlu membuat janji, saya bisa dengan santai mendatangi ruangannya jika sedang ke RSUD Gambiran. Berbincang tentang banyak tema kesehataan. Memberi “kuliah” singkat istilah-istilah kedokteran saat dia tidak sedang operasi atau melakukan pelayanan di poli.        

Begitu kabar kepergian dr Machmud saya terima Rabu (9/9) malam lalu, rasa-rasanya seperti tak percaya. Memang, berita tentang dia terinfeksi Covid-19 bersama keluarganya sudah menyebar di kalangan dokter Kota Kediri sejak beberapa minggu lalu. Tetapi, saya pikir dokter tangguh itu akan bertahan dan bisa melewatinya.

Ternyata Allah SWT berkehendak lain. Covid-19 menjadi perantara dia meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Menghadap Sang Khalik. Sugeng tindak, Dok. Selamat beristirahat. Kebaikan-kebaikanmu akan tetap lekat dalam ingatan kami. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia