Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Antara Asem dan Anjay

02 September 2020, 17: 24: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Febri Taufiqurrahman

Febri Taufiqurrahman (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Berita Terkait

Beberapa hari terakhir, masyarakat sedang diresahkan oleh kata umpatan yang diucapkan seorang figur publik (artis), yaitu “Anjay”. Kata ini mungkin terasa asing di telinga masyarakat Jawa Timur, apalagi warga Kota Kediri. Namun, kata tersebut menjadi viral setelah Komnas Perlindungan Anak mengeluarkan surat pernyataan dan meminta publik untuk menghentikan penggunaan kata “Anjay”.

Komnas PA beralasan bahwa kata “Anjay” dapat berpotensi mengandung unsur kekerasan. Bahkan, dalam konteks berbahasa, penggunaan kata “Anjay” juga termasuk bentuk kekerasan verbal dan dapat dipidanakan berdasarkan UU RI No 35 Tahun 2014.

Lalu, apakah “Anjay” memang termasuk kata umpatan? Bagaimana dengan kata umpatan lain yang selama ini sudah terlebih dulu muncul, seperti banyak kata khas yang dimiliki masyarakat Jawa Timur?

Sebetulnya seluruh kata memiliki potensi menjadi kata umpatan. Tergantung bagaimana intonasi/nada yang digunakan ketika mengucapkannya. Jika intonasi/nada tinggi, maka kata tersebut bisa menjadi sebuah umpatan. Sebaliknya, jika intonasi/nada yang digunakan rendah, sebuah kata cenderung hanya menjadi sebuah ungkapan seperti kekecewaan, kekaguman, atau keakraban.

Contoh, kata “Asem”. Jika diucapkan dengan intonasi/nada tinggi “Asem!” maka berpotensi menjadi umpatan. Tetapi, jika diucapkan dengan intonasi/nada rendah dan ada penambahan huruf vokal /u/ di depannya menjadi “Uasem” maka cenderung hanya sebagai sebuah ungkapan kekecewaan.

Kembali kepada sifat suatu bahasa yang arbitrer (mana suka). Suatu kata bermakna umpatan atau tidak, bergantung pada bagaimana cara mengucapkan, di mana diucapkan, dan ditujukan kepada siapa diucapkan.

Permasalahannya adalah hari ini penggunaan kata maupun istilah baru semakin banyak, bebas, dan bervariasi. Keterbukaan informasi dan kemudahan akses dalam jaringan internet (online) membuat seluruh masyarakat dapat mengakses secara cepat. Yang dikhawatirkan adalah ketika anak-anak yang hari ini sedang melakukan pembelajaran secara daring, maka mereka juga akan dapat dengan cepat mengakses berita maupun konten-konten yang berseliweran di sosial media.

Bisa jadi, pada saat mereka mengakses, menemukan kata atau istilah baru yang menarik sehingga membuat ikut mengucapkannya. Salah satunya kata “Anjay” yang mereka sendiri sebenarnya tidak tahu makna dan tujuan penggunaanya. Hal ini yang mungkin membuat orang tua resah. Ini baru satu kata “Anjay”. Bagaimana dengan ‘teman-temannya’ yang lain? Dalam kondisi seperti ini, perlukah pembatasan dan pengawasan penggunaan kata “Anjay” dan kata-kata lain yang berpotensi memiliki konotasi negatif dan mengandung unsur kekerasan verbal?

Secara prinsip, kata-kata yang mengandung makna negatif dan mengandung unsur kekerasan verbal sebaiknya tidak diucapkan di depan publik. Pertanyaannya, bagaimana mengukur sebuah kata itu bermakna negatif dan mengandung unsur kekerasan verbal atau tidak?

Dalam teori kesantunan bahasa (language politeness), suatu kata yang digunakan untuk komunikasi kepada lawan bicara akan tidak berterima jika lawan bicara terancam atau kehilangan muka (Face Threathaning Act). Apalagi jika lawan bicara merasa dipermalukan atau diserang kepribadiannya.

Yang bisa menentukan sebuah kata itu baik diucapkan atau tidak hanyalah diri kita sendiri. Kita dapat melihat kepribadian seseorang dari bahasa yang diucapkan. Oleh karena itu kita juga memiliki tanggung jawab moral terhadap keberlangsungan generasi penerus bangsa, terutama anak-anak yang selalu mencontoh dan menirukan apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan dari apa yang mereka lihat. (Febri Taufiqurrahman, pengurus ISNU Kota Kediri, dosen linguistik Universitas Negeri Malang)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia