Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Limbah Medis Berserakan

Dibuang di Lokasi TPA Kedungdowo

14 Agustus 2020, 09: 01: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Sampah

SULIT TERURAI: Pemulung memungut sampah masker di area TPA, Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk Selasa (11/8). Selain masker, limbah medis lain juga dibuang di sini. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk kini mulai dipenuhi sampah medis. Limbah dari sisa perlengkapan alat kesehatan itu masuk ke pembuangan sampah tersebut sejak dua bulan terakhir.

Pantauan koran ini, limbah medis yang dibungkus dengan kantong plastik itu berisi masker, baju hazmat, sarung tangan karet, dan penutup kepala. Semua limbah tersebut berserakan di tumpukan sampah.

Beberapa pemulung tampak membuka kantong plastik pembungkus limbah. Menurut mereka, sampah seperti masker, sarung tangan karet, dan baju hazmat di TPA Kedungdowo tidak diambil. Alasannya, karena tidak laku dijual.

“Kami hanya memungut sampah plastik dan kertas karton saja,” kata Dami, 56, pemulung asal Rejoso.

Perempuan yang rambutnya memutih ini menganggap, sudah terbiasa dengan sampah yang ada di sana. Dia tidak peduli, limbah medis tersebut bisa membahayakan kesehatannya atau tidak.

Bagi Dami, memulung sampah sudah jadi mata pencahariannya. Sehingga ia akan menanggung apapun risikonya. Dami dan pemulung lainnya tidak mengetahui dari mana asal limbah medis tersebut.

Ketika limbah itu datang, dia bersama teman-temannya yang lain hanya memungut sampah plastik yang ada di dalam kantong plastik hitam. Sisanya dibiarkan saja di tempat pembuangan sampah.

Pembuangan limbah medis ini pun mendapat sorotan dari aktivis lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Direktur Ecoton Prigi Arisandi menyayangkan ada limbah medis di TPA Kedungdowo. Pasalnya, dampak limbah medis ini sangat serius. Terutama bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Apalagi saat dalam kondisi wabah korona seperti ini. Prigi waswas, limbah medis yang ada di TPA Kedungdowo itu bisa saja membawa petaka bagi para pemulung. Mereka bisa tertular virus ketika memegang sampah yang ternyata adalah alat pelindung diri (APD) seperti hazmat, sarung tangan, dan penutup wajah.

Prigi menegaskan, kejadian ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap pembuangan limbah medis. “Pemerintah sudah abai. Padahal selama ini getol mengurangi penularan virus korona,” tandasnya.

Terkait kejadian di Nganjuk tersebut, Ecoton akan mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim untuk melakukan pengawasan penanganan limbah medis. Dalam jangka panjang, Prigi mengatakan, setiap kabupaten harus disediakan instalasi pengolah limbah medis atau limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Ini dalam skala secara regional.

Dengan kata lain, sambung dia, Jawa Timur harus memiliki instalasi regional yang bisa mengelola limbah medis. Idelanya fasilitas itu, menurut Prigi, tidak hanya di Nganjuk. Tetapi di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.

“Limbah medis ini seharusnya dikumpulkan lalu dimusnahkan. Tidak boleh dibuang sembarangan. Termasuk ke TPA,” paparnya.

Saat ini, Prigi menambahkan, penggunaan masker sekali pakai telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Sebab tidak bisa diurai. Dan berdampak bisa menularkan virus ke orang lain. Karena itu, Ecoton berharap sampah-sampah seperti masker ataupun baju hazmat harus dimusnahkan.

Dikonfirmasi mengenai masalah ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nganjuk Tri Koenjtoro belum memberikan tanggapan. Hingga pukul 19.00, ketika dihubungi koran ini, Tri belum memberikan respons terkait hal itu. Nomor teleponnya aktif, tetapi ketika ditelepon tidak diangkat. Pesan singkat lewat WhatsApp pun belum dibalas.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia