Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Den Basito, Musisi Reggea Kediri dan Harapan Memberdayakan Seniman

13 Agustus 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

GIMBAL: Den Basito memegang benih jahe yang ditempatkan di polybag di markasnya, di Desa Tulungrejo, Pare (10/8).

GIMBAL: Den Basito memegang benih jahe yang ditempatkan di polybag di markasnya, di Desa Tulungrejo, Pare (10/8). (RENDI MAHENDRA/JPRK)

Share this          

Lagu itu diputar berulang-ulang di pengeras suara. Bercerita tentang berkebun dan membangunkan lahan tidur. Lirik lagu ditulis dalam sekali goresan tinta.

RENDI MAHENDRA, JP Radar Kediri, Kabupaten

Ayo kembali ke sawah

Tanam padi, jagung dan buah

Kita mulai dari bawah

Tanam sayur dan rempah-rempah

 

Kutipan di atas adalah sepenggal lagu bergenre reggae. Lagu itu terdengar dari pengeras suara di satu tempat di Desa Canggu, Kecamatan Badas. Tempat yang jadi markas para musisi seniman. Judul lagu itu adalah ‘Daulat Rempah’. Ciptaan musisi reggae Kediri bernama Den Basito.

Seperti menyambung dengan makna lagunya, tempat yang menjadi markas Den Basito dkk itu juga diwarnai area untuk berkebun.

Bangunan utama markas itu, dari luar, mirip gudang. Gerbang besinya menjulang tinggi. Namun ketika masuk ke dalam suasana seperti kebun langsung terasa. Polybag berisi bibit jahe berjajar rapi. Berbaris mengitari ruangan tempat para seniman berkongkow-kongkow itu.

Sore itu, sekitar pukul 15.00 WIB, Den Basito duduk di lincak kayu. Di luar matahari masih terasa terik meskipun mulai condong ke barat. Udara juga terasa sedikit gerah. Membuat rambut gimbal sang musisi disanggul ke atas. Memberi ruang bagi tubuhnya terembus angin. Tubuhnya berbalut kaos singlet warna hitam. Berpadu dengan celana jeans pendek warna abu-abu.

“Lagu yang mana, yang ini atau yang itu? Yang ini spesial,” ujarnya sembari tertawa ngakak, saat diminta menyanyikan salah satu lagu ciptaannya.

Dari luar, penampilan Den Basito tampak awut-awutan. Tak terurus. Tapi jangan salah dia sangat ramah. Suka bercanda. Seperti gurauannya itu.

Den Basito juga musisi yang produktif. Salah satu ciptaannya adalah yang dia maksudkan dengan lagu yang ini tersebut. Judulnya Daulat Rempah. Yang diputar berulang-ulang dari pengeras suara. Berdasarkan ceritanya lirik lagu itu ditulis dalam sekali gores.

“Langsung jadi, tak sampai sehari,” kata Den Basito.

Maret lalu, Den Basito dan kawan-kawannya gelisah menghadapi pandemi. Mereka menggelar obrolan  di Malang. Dihadiri kalangan seniman, budayawan, dan akademisi. Topiknya tentang nasib seniman yang terpinggirkan. Seperti seniman jaranan, bantengan, dan lain-lain. Terlebih jika peraturan PSBB di Malang diberlakukan.

“Beliau-beliau cari makan itu kan dari ngumpulin orang,” kata pria kelahiran 1971 ini.

Lantas obrolan makin mengurucut. Mencari solusi. Meskipun mereka tak manggung harus bisa bertahan hidup. Maka tercetus ide ‘membangunkan’ lahan tidur. “Atau istilahnyanggugah lemah turu,” tutur pria yang bernama asli Abdul Basid Prasetyo ini.

Den Basito menjelaskan, jika  ada tanah pemerintah yang nganggur bisa disewakan pada seniman terpinggir itu. Sewa dengan harga murah  tentu saja. Bahkan jika bisa hanya membayar biaya administrasi saja.

 “Yang tadinya harga sewa Rp 1 juta cukup bayar Rp 50 ribu. Untuk biaya administrasi,” kata Den Basito menceritakan impiannya.

Di Malang, ide itu berhasil. Menurut Den Basito kawan-kawannya di Malang memanfaatkan lahan tidur milik Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. “Mereka di sana berkebun,” kata Den Basito.

Maka dia pun membawa ide itu ke Kediri. Saat kembali ke Kediri pada Maret lalu, Den Basito mencari lahan tidur. Terutama di sekitar Pare dan Badas. Alhasil dia menemukan lahan tidur seluas sekitar 20 meter persegi di Canggu. Tempat itulah yang kini jadi markas Den Basito itu.

“Pemiliknya pengusaha, kami dikasih harga murah,” aku Den Basito.

Cara Den Basito membangunkan lahan tidur itu dengan cara membikin lahan itu produktif. Maka, Den Basito dan kawan-kawan membikin pembibitan jahe.

“Nanti rencana juga untuk kongko bersama para seniman lainnya,” tutur pria yang juga pernah menciptakan lagu berjudul Gajah Kupu-kupu (2009) itu.

Jadi, lagu Daulat Rempah yang diciptakan Maret itu tak hanya enak didengar. Bagi Den Basito lagu itu meruak jadi aksi nyata. “Isolasi di sini, sambil terus berkebun,” katanya.

Sementara memilih jahe sebagai tanaman untuk berkebun juga tak jauh dari pandangan filosofisnya. Menurutnya, jahe merupakan salah satu rempah khas Indonesia yang bikin Belanda tertarik untuk menjajah Indonesia.

“Selain itu, rempah-rempah seperti jahe juga termasuk tanaman obat. Lebih murah dibandingkan yang ada di apotek,” kata Den Basito.

Sementara lagu Daulat Rempah yang dihayatinya selama pandemi ini masih dalam proses editing. Belum diluncurkan ke publik. Den Basito berencana meluncurkan pada  17 Agustus nanti. “Sambil mengadakan upacara di sini,” pungkas Den Basito. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia