Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Jual 4 Box Sound untuk Nyaur Utang

12 Agustus 2020, 17: 13: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

PENGHIBUR: Melly saat ber-MC dan Yudi ketika rekaman lagu yang dia lakukan untuk mengisi kekosongan job (foto kanan) .

PENGHIBUR: Melly saat ber-MC dan Yudi ketika rekaman lagu yang dia lakukan untuk mengisi kekosongan job (foto kanan) . (HABIBAH A. MUKTIARA)

Share this          

Izin yang dikeluarkan Pemkab Kediri perihal hajatan ternyata belum sepenuhnya membuat pekerja seni kembali mendapat job seperti biasanya. Ada beberapa poin peraturan justru berakibat takutnya penyelenggara hajatan mengundang hiburan. Akibatnya, sejumlah job yang sebelumnya dipesan pun harus dibatalkan.

Tiga bulan ini, Juli hingga September, sebenarnya menjadi bulan-bulan banyak orderan bagi pekerja seni, juga persewaan sound system dan alat pesta. Memang pada bulan-bulan ini pula, sejumlah pekerja seni sempat mendapatkan job. Namun banyak juga yang harus batal. Yang jadi alasan adalah banyaknya peraturan untuk izin penyelenggara hajatan.

“Pada peraturan yang baru dikeluarkan itu, persyaratannya masih memberatkan,” kata Gunawan Wibisono, pelaku seni elekton saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Persyaratan itu, menurutnya terkait risiko pada penyelenggara yang cukup berat. Termasuk semua izin yang dilimpahkan ke pihak pemerintah desa. Rata-rata si penggelar hajatan enggan untuk mengurus izin yang ditakutkan justru berisiko itu. “Pastinya yang tidak punya punya uang banyak tidak mungkin nanggap karena persyaratan yang memakan biaya besar,” ujarnya.

Akhirnya, rata-rata masyarakat yang sebenarnya ingin menggelar pesta dengan menerapkan protokol kesehatan pun harus berubah pikiran. Mereka memilih pesta kecil-kecilan yang tidak memakai sound system dan terop serta hiburan.

“Padahal sebenarnya kalau tetap mengedepankan protokol kesehatan itu tidak masalah. Tetap mau menjaga satu sama lain dengan pakai masker, jaga jarak,” tambahnya.

Jadi menurutnya, sebelum keluar surat edaran tentang pesta dan setelah keluar itu sama saja. Bahkan sebelumnya sudah ada yang sempat pesan hiburan elekton justru membatalkannya karena beberapa hal.

“Padahal ekspektasinya sudah besar. Bisa main normal tapi tetap protokol kesehatan. Ternyata malah dibatalkan,” tandas pria yang kerap disapa Iwan tersebut.

Ia mengaku sebelum Lebaran juga sempat ada 15 pesanan. Tapi semuanya batal karena tak boleh ada acara. Termasuk pada Agustus ini juga sebenarnya ada 3 pesanan, namun beberapa hari lalu yang punya hajatan membatalkannya.

Ia berharap sosialisasi pemerintah hingga tingkat bawah sangat diperlukan. Jangan justru membuat takut masyarakat. “Padahal kami sudah siap jika tetap melaksanakan protokol kesehatan,” tambahnya. Padahal, menurutnya, penghasilan para pekerja seni dan persewaan alat pesta ini memang ketika ada acara pesanan dari pemilik hajatan.

Pak Pri, salah satu pemilik persewaan audio asal Kepung juga merasakan hal sama. Sejak Maret ia sama sekali tak mengeluarkan peralatannya. Sebenarnya sudah ada pesanan tapi semua dibatalkan. “Karena semua masih takut jika dibubarkan,” ujarnya.

Ia sangat bergantung pada persewaan audio milikinya itu. Begitu juga dengan rekan-rekannya persewaan audio yang lain. Karena pendapatan utama memang dari situ. Bahkan ia sampai jual 4 box sound. “Kalau butuh ya dijual lagi untuk nyaur utang Bang,” ungkap pemilik Audio Muda Jaya ini.

Ia mengaku biasanya di Agustus ini setidaknya ada 25 titik untuk acara tujuh belasan. Namun saat ini tak ada sama sekali. Semua yang sudah pesan untuk acara dibatalkan. Alasan mendasar adalah karena peraturan dari pemerintah yang masih memberatkan.

“Kalau bisa buat aturan ya tidak memberatkan. Kami padahal sudah bersedia menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan, pakai masker, dan lain sebagainya,” tandasnya.

Apalagi ada sanksi yang berat  itu yang menurutnya jangan sampai terjadi. Ia berharap adanya sosialisasi secara masif dari pemerintah. Namun yang dipertegas adalah protokol kesehatan bukan sanksi yang memberatkan. “Padahal bulan ini waktunya panen tapi gagal semua,” pungkasnya. (din/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia