Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Belasan Titik Hutan Terbakar

BPBD Dirikan Tiga Posko untuk Pemantauan

11 Agustus 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Kebakaran

BERBAHAYA: Petugas dari BPBD bersama warga memadamkan kebakaran di hutan Desa Genjeng, Loceret kemarin sore secara manual. (BPBD Nganjuk for radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Bencana kebakaran hutan harus jadi serius Agustus ini. Pasalnya, selama dua minggu terakhir sudah ada belasan titik hutan di Kota Angin yang terbakar. Bencana yang rutin terjadi setiap musim kemarau ini tersebar di lima kecamatan di Nganjuk.

Data dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), kebakaran hutan sudah terjadi sejak 25 Juli lalu. Hingga kemarin total ada 14 titik hutan yang terbakar. Lima lokasi kebakaran berada di Kecamatan Wilangan, tiga lokasi di Berbek, tiga lokasi di Bagor, dua lokasi di Gondang, dan satu lokasi di Loceret (selengkapnya lihat tabel).

Kahutla

Kebakaran Hutan (Grafis : Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Luas hutan yang terbakar juga bervariasi. Mulai satu hektare hingga 4 hektare. “Sore ini (kemarin sore, Red) juga terjadi kebakaran hutan di Loceret,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Nganjuk Soekonjono sembari menunjukkan titik lokasi kebakaran yang terpantau satelit.

Dikatakan Soeko, dari total 14 titik lokasi kebakaran selama dua minggu terakhir, luas lahan yang terbakar mencapai 25,5 hektare. Kebakaran rata-rata terjadi sejak pukul 12.00 hingga pukul 16.00. Kejadian tersebut diakui Soeko jadi warning atau peringatan agar semua pihak lebih waspada.

Di luar belasan titik kebakaran tersebut, menurut Soeko sebenarnya hampir setiap hari terjadi kebakaran. Tetapi, skalanya masih kecil. “Hot spot-nya (titik api, Red) terpantau di satelit,” lanjutnya.

Menindaklanjuti kebakaran yang terjadi di Loceret kemarin sore, Soeko berujar tim BPBD terjun ke lapangan untuk melakukan pemadaman di hutan Desa Genjeng, Loceret. Selama musim kemarau ini, kebakaran di hutan Loceret baru pertama kali terjadi.

Melihat bencana kebakaran yang terus meluas, Soeko menjelaskan, pihaknya bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dibantu anggota koramil dan polsek sudah membuat posko pemantauan. Total ada tiga titik pos pantau yang didirikan. Satu pos di kawasan selatan dan dua lainnya di bagian utara Nganjuk. “Pos pantau sudah beroperasi beberapa hari. Logistik untuk mereka juga sudah dikirim,” jelasnya.

Merespons prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geologi (BMKG) yang menyebut puncak musim kemarau terjadi pertengahan Agustus ini, Soeko sudah memberi imbauan kepada tim di lapangan agar melakukan pendekatan kepada warga yang menggantungkan hidupnya di hutan.

Mereka diminta menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar. Apalagi, lokasi lahan yang akan dibuka luas dan sulit dikontrol. Termasuk mereka yang biasanya berburu di hutan agar tidak melakukan pembakaran hutan. “Saat musim kemarau seperti ini, api cepat menyambar dan meluas. Angin di Nganjuk juga kencang. Sangat berbahaya,” tegasnya mengingatkan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia