Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

‘Klepon Tak Islami’ Viral, Kampung Klepon Desa Wonosari Kian Eksis

Justru Bingung Jualan Mendadak Ramai

11 Agustus 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

LEGENDARIS : Seorang pembeli menunggu pelayan klepon Miroso yang sedang menyajikan makanan khas Jawa ini kemarin.

LEGENDARIS : Seorang pembeli menunggu pelayan klepon Miroso yang sedang menyajikan makanan khas Jawa ini kemarin. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

Klepon Miroso di Desa Wonosari, Kecamatan Pagu ini memang legendaris. Selama pandemi, kedai jualan klepon sering tutup karena sepi pembeli. Namun kini kondisinya berbeda, makin ramai setelah camilan itu viral di media sosial.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Sebelum pandemi, nama Klepon Miroso sudah terkenal di wilayah Kediri dan sekitarnya. Saking terkenalnya, Desa Wonosari, Kecamatan Pagu ini dikenal menjadi Kampung Klepon.

Kedai klepon yang terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Pagu ini sebelumnya tak pernah sepi pengunjung. Hanya saja, kondisnya berbeda ketika pemerintah menetapkan bahwa penyebaran virus ini menjadi bencana darurat pada awal Maret lalu.

Sri Natun, 57, pemilik kedai klepon ini mengaku masa pandemi sangat terasa sekali. Pembatasan aktivitas diterapkan pemerintah. Parkiran kedai yang biasanya dipenuhi mobil dan motor itu nyaris kosong. Pun demikian dengan akhir pekan yang biasanya ramai pembeli itu tak berpengaruh pada peningkatan penjualannya. “Jadi ya sering tutup,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Sebenarnya dipikir-pikir kalau hendak menutup kedai yang berada di rumahnya itu, Ia kasihan dengan pelanggan yang kadang datang tapi kecewa karena tutup. “Ya bagaimana lagi,” tambahnya.

Biasanya Sri bisa menghabiskan bahan baku berupa ketan hingga 20 kilogram lebih, empat bulan hingga Juli lalu ia hanya mengeluarkan bahan tak lebih dari 10 kilogram. Termasuk untuk waktu jualan, jadwal penjualan juga berubah total. Yang biasanya sore hari sudah tutup karena kehabisan bahan, namun kala pandemi bisa sampai pukul 21.00.

Bahkan, ia harus mengurangi karyawan yang bekerja di tempatnya. Hanya tiga orang saja saudara yang masih aktif bekerja di sana selama pandemi. Situasi sulit itu berubah. Dua minggu ini, kedai miliknya kembali ramai. Sri mengaku tak tahu alasan kenapa pengunjung tiba-tiba datang. Padahal status pandemi di Kabupaten Kediri belum sepenuhnya stabil. “Alhamdulillah, tapi juga kaget kok tiba-tiba banyak yang datang,” tambahnya.

Bahkan, perempuan tiga anak ini juga tak tahu bahwa beberapa waktu lalu jajanan tradisional ini sempat viral di media sosial karena dianggap sebagai makanan tak Islami. “Saya tidak tahu karena tidak mengikuti berita di HP. Kenapa tidak islami? Saya juga masih bingung,” ungkapnya.

Kondisi saat ini berbeda. Kemarin, sejumlah pelayan Klepon Miroso tampak sibuk meladeni pembeli yang silih berganti. Tempat parkir juga kembali dipenuhi mobil dan motor.

Beberapa bangku pun penuh dengan pembeli, mereka semua mengenakan masker. Atik salah satunya, pelanggan setia asal Kota Kediri ini mengaku rindu dengan jajanan klepon yang sudah digandrunginya sejak SMP itu.

“Dari dulu suka ke sini. Sejak SMP,” ungkapnya. Ia mengaku tak memikirkan apa yang dibilang orang soal klepon tidak Islami itu. Ia juga heran padahal tak ada sangkut pautnya klepon dengan status keagamaan itu. “Lucu saja. Karena ini kan makanan kok dibilang tidak Islami,” akunya.

Di sekitar rumah Sri, masih ada tiga penjual klepon lainnya. Saat ini berjualan di depan Telkom Gurah dan juga di depan Klinik Siti Khadijah Gurah. Tetap menjadi ikon Desa Wonosari sebagai kampung klepon, jajanan hijau yang sudah ada sejak 1970-an itu dan legendaris di Kediri.  (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia