Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Tanaman Hias Jadi Tren saat Pandemi

Barang Langka, Antre Kulakan Setengah Hari Jadi Hal Biasa

10 Agustus 2020, 20: 45: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

PALING DICARI: Rohani, 41, pemilik kios bunga di depan stadion Anjuk Ladang, Kota Nganjuk membersihkan tanaman hias aglaonema yang selama pandemi ini paling diminati pembeli.

PALING DICARI: Rohani, 41, pemilik kios bunga di depan stadion Anjuk Ladang, Kota Nganjuk membersihkan tanaman hias aglaonema yang selama pandemi ini paling diminati pembeli. (sri utami- radarkediri.id)

Share this          

Tren tanaman hias saat pandemi Covid-19 membuat omzet pedagang tanaman melonjak tinggi. Meski mendapat untung yang besar, mereka harus berburu dagangan hingga antre lebih dari enam jam untuk memilih bunga. 

SRI UTAMI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk 

“Jenis ini yang paling dicari,” ujar Rohani, penjual bunga di depan stadion Anjuk Ladang, sambil mengelap bunga aglaonema lulaiwan di kiosnya pada Jumat (7/8) sore. Sejak April lalu, berbagai jenis aglaonema memang banyak diburu pembeli. 

Jika biasanya kios pria berusia 41 tahun itu menyediakan banyak varian aglaonema, kemarin dia hanya menjual untuk jenis lulaiwan saja. Selebihnya sudah habis diborong pembeli. 

Sejak tanaman hias kembali ngetren, pria yang tinggal di Kelurahan Ploso, Kota Nganjuk itu memang tidak bisa lagi leluasa mendapatkan tanaman yang dicari. Stok di agen tanaman hias banyak yang kosong. Terutama untuk beberapa jenis yang sedang “naik daun”. Selain aglaonema, ada beberapa jenis lain yang diburu. Termasuk jenis monstera, anthurium, hingga kaktus lokal yang sekarang mendadak hilang di pasaran. “Kaktus yang dulu hanya lima ribu rupiah itu juga sulit dicari. Sekarang semua jenis bunga laku. Tidak ada yang tidak laku,” lanjutnya terkekeh. 

Berjualan tanaman hias sejak 1999 lalu, bapak dua anak itu mengakui jika tren tanaman saat pandemi ini yang paling ramai. 

Dia lantas membandingkan dengan tahun 2005 hingga 2006 lalu saat gelombang cinta jadi tren. Kala itu hanya salah satu jenis tanaman anthurium itu saja yang dicari pembeli.

Adapun sejak April lalu, semua jenis anthurium dan bunga lainnya diminati. Akibatnya, harga tanaman hias langsung melonjak dua kali lipat. Rohani lantas mencontohkan harga aglaonema lulaiwan yang sebelumnya Rp 75 ribu kini menjadi Rp 150 ribu.

Demikian juga tanaman hias monstera yang dulu hanya Rp 350 ribu, sekarang menjadi Rp 650 ribu. Harga mahal juga untuk jenis anthurium suruh yang sekarang menjadi Rp 450 ribu. “Dulu hanya Rp 250 ribu,” urainya.

Yang membuatnya heran, tanaman hias jenis sansivera katak yang dahulu tidak laku dijual, sekarang juga banyak dicari orang. Bahkan, harganya mencapai Rp 35 ribu. 

Dengan bergairahnya penjualan tanaman hias, Rohani tak memungkiri merasa senang. Meski demikian, di saat yang sama dia juga mendapat kesulitan. “Sekarang kulakan susah. Pembeli di agen yang biasanya hanya lima orang sekarang jadi puluhan orang. Banyak penjual bunga baru,” tuturnya. 

Pria yang kakinya terkena polio sejak duduk di bangku sekolah dasar itu pun kini tak cukup hanya kulakan di agen tanaman hias Kediri. Sebab, stoknya banyak yang kosong.

Untuk memenuhi ratusan koleksi bunga di lapak berukuran 7x24 meter yang ditempatinya, dia harus kulakan ke Batu, Malang tiap seminggu sekali. Di sana, dia juga tak bisa mendapatkan tanaman hias yang dicari dengan mudah. 

Di salah satu sentra tanaman hias di Jatim itu, Rohani harus rela antre. Berangkat dari Nganjuk selepas Subuh, dia tiba di Kota Apel itu sekitar pukul 08.00. Meski demikian, dia tidak bisa langsung berbelanja. “Dulu satu sampai dua jam sudah selesai. Sekarang tidak bisa. Harus antre,” bebernya. 

Sedikitnya dia harus menunggu lebih dari enam jam agar semua transaksi selesai. Mulai antre giliran dengan pedagang lain, memilih bunga, sampai waktu melakukan pembayaran. “Modalnya harus sabar. Kalau tidak sabar, tidak bisa jualan,” imbuhnya sambil tetap tersenyum.

Kesabaran Rohani memang dibayar mahal. Selama beberapa bulan terakhir, dia bisa mendapat untung sekitar 50 persen atau lebih untuk tiap tanaman hias yang dijual. Keuntungannya akan naik lebih tinggi saat akhir pekan. Sebab, banyak orang yang mampir ke kios bunganya selepas menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. 

Meski keuntungan yang didapat naik, risiko yang dihadapi saat bunga jadi tren juga naik. Kios yang biasanya aman ditinggal saat malam hari itu sering disatroni pencuri.

Dia mencontohkan pada Juli lalu kiosnya tiga kali dijarah pencuri. Seolah tahu jenis bunga yang diminati, sang tamu tak diundang itu memilih bunga yang harga jualnya mahal. Yaitu, tanaman hias bonsai seharga Rp 1,5 juta. Di lain kesempatan pencuri mengambil dua rak bunga yang tiap unitnya seharga Rp 250 ribu. 

Tidak hanya itu, Rohani juga kehilangan tanaman hias dolar yang harganya Rp 500 ribu. “Biasanya tanaman yang hilang itu yang di ujung (pinggir jalan, Red). Harganya hanya Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu per pot. Saya anggap hal lumrah. Sekarang pencuri berani masuk ke dalam,” keluhnya. 

Tak ingin pencurian terus berulang, Rohani pun memasang closed circuit television (CCTV) di kiosnya. Cara itu rupanya cukup efektif. Selama Agustus ini kiosnya tidak lagi dijarah pencuri. “Mungkin tahu kalau sekarang ada CCTV-nya. Saya pasrah saja. Yang penting berdoa,” tegasnya. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia