Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (28)

Inskripsi di Gentong Batu itu Sekar Ba Wa Na

10 Agustus 2020, 16: 50: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

TEGUK : Santri Ponpes Mahir Arriyadl meminum air dari gentong kuno di masjid pondok.

TEGUK : Santri Ponpes Mahir Arriyadl meminum air dari gentong kuno di masjid pondok. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

 Gentong batu di Pesantren Ringinagung masih digunakan hingga saat ini. Artefak peninggalan bersejarah yang inskripsinya memiliki makna kehidupan.

Pondok Pesantren Ringinagung berada di Desa Keling, Kecamatan Kepung. Secara kewilayahan, daerah ini terletak di barat aliran Kali Konto dan di utara aliran Kali Serinjing. Sedangkan pondok  pesantren ini tepat berada di bantaran Kali Kembangan. Satu sungai yang merupakan bagian dari Kali Serinjing.

Ponpes ini memang terkenal paling tua di wilayah timur Kabupaten Kediri. Banyak cerita sejarah yang tersimpan di dalamnya. Bahkan ada sejumlah peninggalan bersejarah yang hingga kini masih terawat di pesantren ini. Salah satu peninggalan itu adalah artefak kuno berupa gentong dari batu andesit. Menariknya, pada satu sisi gentong kuno itu terdapat inskripsi atau tulisan Jawa kuno. Dengan model aksara Kediri kwadrat.

Saat ini gentong batu Ponpes Ringinagung ditempatkan di serambi masjid pondok. Hingga kini juga masih difungsikan. Sebagai penampung air untuk minum para santri dan peziarah di makam Syaikh Imam Nawawi, pendiri Ponpes Ringinagung.

Masuk kawasan pondok, suasana khas sangat terasa. Kondisi di lingkungan pondok ini masih sangat asri. Terdapat pohon sawo dan juga kelapa gading di sejumlah sisi. Pepohonan itu menjadi ciri khas masjid kuno milik laskar Pangeran Diponegoro.

Keberadaan gentong di Ponpes Ringinagung itu tak lepas dari sejarah pondok ini. Memang, gentong kuno itu tak berada asli di masjid pondok. Namun asalnya dari sungai di sekitar Kepung. Masih salah satu aliran Kali Serinjing. Lokasinya tepat sebelah selatan dari Desa Keling.

Dari keterangan penggiat Budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, gentong ini memiliki keistimewaan jika dilihat dari inskripsi yang masih ada. Aksara yang ada pada gentong tersebut memiliki empat karakter.

Karakter pertama adalah lambang bunga ceplok. Lambang ini ada di bagian depan. Ia menyebut bahwa lambang bunga itu dibaca sekar. Sementara tiga huruf di belakangnya adalah kata ‘ba’ ‘wa’ ‘na’. Sehingga dari gabungan istilah tersebut bisa diartikan sebagai sekaring bawana atau bunga di dunia.

“Itu bermakna kehidupan. Mengandung nilai ajaran agar kehidupan yang baik itu bisa memberi manfaat bagi sesama makhluk ciptaan Tuhan,” terang Novi.

Adanya inskripsi pada gentong itu, menurutnya, membantu dalam identifikasi pada masa pembuatannya. Gaya penulisan seperti itu sering digunakan pada masa Kerajaan Panjalu.

Masih kata Novi, makna manfaat dari gentong itu juga bisa digambarkan dengan fungsi gentong batu tersebut. Yaitu laiknya persediaan air minum untuk para musafir. Biasanya masyarakat Jawa kuno menyediakan air dalam gentong batu di depan rumah mereka. Bisa juga diletakkan di pinggir jalan sebagai fasilitas air bersih layak minum bagi pengguna jalan.

Dengan demikian keberadaan gentong untuk persediaan air minum itu sangatlah berharga. Seperti saat ini, fungsi tersebut masih terlihat di Masjid Ponpes Mahir Arriyadl tersebut yang berguna sebagai air minum untuk para santri dan peziarah di ponpes tua ini. (din/fud/bersambung)

Tentang Gentong Ringinagung

Diameter total       : 80 cm

Diameter lubang    : 50 cm

Tinggi                  : 50 cm

Diameter alas        : 40 cm

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia