Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Ale Betta, Raup Omzet Jutaan Rupiah

Susuri Selokan, Cari Jentik Nyamuk untuk Pakan

09 Agustus 2020, 17: 30: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PROSPEK: Yoga (kiri) dan Andra menunjukkan ikan cupang hias hasil beternak di Jalan Sawo 3, Kelurahan Pelem, Kertosono kemarin.

PROSPEK: Yoga (kiri) dan Andra menunjukkan ikan cupang hias hasil beternak di Jalan Sawo 3, Kelurahan Pelem, Kertosono kemarin. (andhika attar- radarkediri.id)

Share this          

Ikan cupang hias sedang ngetren beberapa bulan terakhir ini. Tak ayal, para peternak yang berkecimpung di dalamnya kecipratan pundi-pundi rupiah. Seperti yang dirasakan Yoga dan Andra.

ANDHIKA ATTAR, Kertosono,  JP Radar Nganjuk

Sabtu (8/8) pagi biasanya dimanfaatkan untuk bersantai atau bermalas-malasan. Namun, apa yang dilakukan M. Azandra PS, 28, dan Yoga Pratama, 31, justru kebalikannya. Kedua warga Kertosono tersebut malah bersiap panas-panasan di bawah terik mentari.

Dengan kaus oblong dan celana pendek, keduanya bersiap menggeber motor. Bukan untuk berjemur. Apalagi berniat berlibur. Mereka justru berniat kotor-kotoran. Sembari membawa sepasang jaring kecil dan timba, keduanya hendak mencari jentik nyamuk.

Setiap selokan, parit, atau sungai yang mampet di wilayah Kertosono menjadi sasaran mereka. Kegiatan tersebut telah dilakukan keduanya setiap hari sejak awal tahun ini. “Jentik nyamuk bagus untuk pakan ikan cupang,” celetuk Andra, panggilan akrab Azandra.

Ya, keduanya memang sedang menggeluti budidaya ikan cupang hias. Bahkan, usaha yang dilakukan tersebut sudah diterjuni keduanya jauh-jauh hari sebelum tren ikan cupang hias semakin meroket. Pertengahan 2019 lalu mereka telah mulai belajar berternak dan mempromosikannya.

Hanya saja, kala itu keduanya masih memulai usaha masing-masing. Namun, lantaran menyadari kesamaan hobi tersebut, mereka memutuskan bekerja sama. Terlebih, keduanya merupakan teman sedari kecil. Akhirnya, tercetuslah budidaya ikan cupang hias yang diberi nama Ale Betta.

“Ya, setiap hari kami memang seperti ini (mencari jentik nyamuk, Red),” sambung pria yang mengidolakan band Radiohead tersebut.

Keduanya pun tak menyangkal kerap dipandang sebelah mata oleh orang di sekitarnya. Memang, tak bisa dipungkiri gaya keduanya hampir tak ada bedanya dengan gembel. Tak jarang orang yang lewat heran dengan mereka. Tak terkecuali anak-anak kecil yang kebetulan lewat.

Belum lagi, tak hanya jentik nyamuk yang dikumpulkan. Mereka juga mengumpulkan daun ketapang yang diyakini bagus untuk tumbuh kembang ikan cupang hias. Itu berfungsi untuk menjaga atau bahkan menurunkan keasaman air. “Pokoknya mirip dengan pemulung lah,” urai Yoga yang ditimpali tawa keduanya.

Namun, siapa sangka, dengan dandanan ala pemulung, omzet yang dihasilkan dari berternak ikan cupang hias mencapai angka jutaan. Yoga mengaku, setelah berhasil menggaet pasar, omzet per bulan bisa di angka Rp 5 juta.

Yang lebih menggelikannya, pengeluaran per bulan mereka bisa dibilang sangat kecil. Terlebih jika dibanding omzet yang diraup. Mulai dari nutrisi dan makanan pendukung lainnya, mereka hanya perlu mengeluarkan uang Rp 250 ribu.

“Tapi tetap saja seperti pemulung. Kami kadang juga mencari botol air mineral bekas untuk wadah cupang,” eyel Yoga.

Namun, hasil yang didapat keduanya tak begitu saja hinggap seperti sekarang ini. Awal mula merintis usaha budidaya ikan cupang hias tersebut, keduanya mengaku juga pontang-panting. Terlebih, untuk membudidayakan ikan cupang hias hingga menjadi ikan yang berwarna indah.

Pasalnya, mereka mengaku bahwa tidak ada mentor atau guru yang langsung mengajari mereka tentang budidaya tersebut. Semuanya dimulai dengan otodidak. Video tutorial di Youtube lah yang menjadi referensi untuk memberanikan diri terjun di bidang usaha tersebut.

Dari pengalaman dan kegagalan yang dialami di awal-awal mulai berternak ikan cupang itulah mereka mendapat formula terbaik. Mulai dari perawatan dan apa saja pakan yang diyakini dapat menjadi stimulus kemolekan dan kecantikan dari ikan cupang hias tersebut.

“Kami sedang berusaha untuk menciptakan warna cupang baru yang belum ada di pasaran,” tegas Andra dengan mantap.

Hingga detik ini, mereka mengatakan, dalam setiap 200 ikan cupang yang dipanen, hanya sekitar 20 persen yang memiliki kualitas terbaik. Oleh karena itu, ikan yang dipasarkan melalui media sosial Instagram dan Facebook dengan akun @ale_betta tersebut dipatok harga beragam. Mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 1 juta.

Keduanya mengakui bahwa berbisnis ikan cupang hias memiliki prospek yang bagus. Terlebih, perawatan yang mudah dan tidak membutuhkan tempat yang luas untuk budidaya. Kolam dan tempat budidaya keduanya pun bertempat di halaman belakang rumah Andra yang berada di Jl Sawo 3, Desa Pelem, Kertosono. “Kalau berminat beli bisa lewat media sosial kami di @ale_betta atau langsung datang ke sini juga boleh,” tandas Andra.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia