Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Mbah Gandrung, Wayang Asli Kediri yang Tetap Bertahan

Simbol Rasa Cinta dan Kesenangan

07 Agustus 2020, 19: 52: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

LANGGENG: Wayang Mbah Gandrung yang masih bertahan hingga kini. Selasa (4/8) lalu mereka juga menggelar pementasan.

LANGGENG: Wayang Mbah Gandrung yang masih bertahan hingga kini. Selasa (4/8) lalu mereka juga menggelar pementasan.

Share this          

Mbah Gandrung hanya ada di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Wayang ini punya cerita yang kebanyakan diwarnai mistis dan mitos. Masih kuat bertahan di tengah gempuran budaya kontemporer.

Tak mudah bagi masyarakat menyaksikan pagelaran budaya lokal Kediri yang bernama wayang Mbah Gandrung ini. Mereka hanya pentas setiap Suro, bulan di penanggalan Jawa. Atau bila beruntung, menunggu bila ada orang yang nanggap karena sedang ada nazar yang harus dipenuhi.

Seperti pentas di Desa Pagung, Selasa (4/7). Pagelaran itu tersaji karena ada yang bernazar. Bila anaknya sembuh dari sakit, akan mementaskan wayang tersebut. Akhirnya, ketika anaknya benar-benar sembuh, niat itupun dia wujudkan. Sayangnya, karena berbarengan masa pandemi, pagelaran itu jadi tertutup. Hanya disaksikan oleh keluarga penanggap saja.

Hingga saat ini, menurut cerita, wayang Mbah Gandrung sudah berusia tujuh abad. Konon, Mbah Gandrung ini bermula pada 1447. Masa transisi era Majapahit ke masa Islam yang ditandai dengan munculnya Kerajaan Pajang.

Menariknya, tak mudah bagi orang untuk menjadi dalang wayang ini. Prosesnya harus melalui ‘wangsit’ atau penunjukkan berdasarkan amanat khusus. Yang menjadi dalang pun biasanya dari jalur keturunan. Meskipun sempat ada dalang yang di luar keturunan dalang tersebut.

Kini, dalangnya adalah Abdul Akad, 63. Menjadi dalang generasi ke-9. Akad menceritakan banyak hal yang berbau supranatural yang mengiringi ‘kelahiran’ wayang yang dia mainkan.

Salah satu cerita terkait asal mula wayang ini adalah tentang orang misterius yang menemukan pohon jati yang hanyut terbawa banjir. “Orang misterius itu membelah pohon dan menemukan dua wayang Mbah Gandrung,” cerita Akad, saat ditemui di warung kopi beberapa hari setelah menggelar pementasan bercerita Dewi Sekartaji.

Dua wayang itu berupa Mbah Gandrung kakung (Panji Asmarabangun) dan Mbah Gandrung putri (Galuh Candrakirana). Namun, ada tiga wayang utama lagi yang juga ditemukan terpisah. Yaitu Mbah Sedanapapa, Mbah Jaka Luwar, dan Mbah Semar.

Laki-laki yang juga pedagang bakso itu menyebutkan bila wayang Mbah Sedanapapa ditemukan di dekat prasasti Watutulis di Desa Brumbung. Sedangkan wayang Mbah Joko Luwar ditemukan di Kelurahan Setonopande, Kota Kediri. Dan terakhir, wayang Mbah Semar ditemukan di Gunung Wilis.

Kelima wayang itu diletakkan disebuah peti oleh kakek buyut dalang wayang Mbah Gandrung itu.

Ada lagi cerita yang sulit dicerna akal terkait wayang ini. Seperti cerita anak wayang yang menjadi 40 setelah lima wayang utama tersebut dijadikan satu di dalam peti.

Terlepas dari cerita-cerita di luar akal itu, wayang Mbah Gandrung sangat unik. Gamelan pengiringnya berupa kendang, gong, kenong, rebab, dan gambang. Badan gambang bukan terbuat dari kayu seperti gamelan umumnya. Tapi dari batang pisang. Sedangkan pemain gamelannya, nayaga, hanya empat orang. Satu merangkap dua alat musik.

Mereka dipilih dari orang asli Desa Pagung. Seperti kemarin, orang-orang pilihan Akad sebagian belum terlalu mahir memainkan gamelan.

Yang khas lagi adalah soal perawatan wayang. Setiap Selasa Kliwon dan Jumat selalu digelar selamatan. Juga, lima wayang utama tak boleh disentuh oleh perbaikan. Kondisi mereka, konon, asli sejak awal ditemukan. Sedangkan yang lain boleh diperbaiki bila ada kerusakan.

Paling menarik adalah setiap pentas yang harus berjalan kaki ke lokasi tujuan. Termasuk dalam membawa peralatannya. Tak peduli harus berkilo-kilo meter jauhnya.

Akad bercerita, pernah mereka mengangkut gamelan dan peralatan dengan mobil ketika hendak pentas ke suatu daerah. Ternyata, mobil justru  macet di jalan. “Saat ini di mana pun kami pentas saya menyuruh warga yang berumur 30 tahunan yang membawa wayang dan perlengkapannya,” terang Akad.

Akad sendiri tak terlalu paham kenapa harus membawa wayang dan perlengkapannya dengan berjalan kaki. Dia mengaku hanya meneruskan kebiasaan para pendahulunya. Tanpa diberi tahu alasannya.

Cerita mistis lain yang melingkari pagelaran ini adalah saat orang bernazar tak segera melaksanakan janjinya itu. Konon, orang tersebut akan diingatkan dengan kedatangan ular jenis weling. Karena itulah ular weling dijadikan simbol pengingat.

Juga, para nayaga yang terlibat pagelaran wayang harus dalam keadaan suci. Sesajen, cok bakal, jambe suruh, dan tumpang genep tidak boleh kurang. Jika bahan tersebut berkurang maka pagelaran wayang tidak berjalan dengan lancar.

Di luar semua cerita mistis itu, ada pesan moral dari kata gandrung yang menyusun nama wayang ini. Dalam bahasa Jawa gandrung bisa bermakna senang, cinta, atau suka. Orang yang mengalami gandrung bisa seperti orang yang lupa hal yang lain. Kecuali satu, yakni apa yang dicintainya. Hal yang dicintai itu bisa seseorang, sesuatu, atau perilaku kehidupan yang baik di dunia ini. (jar/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia