Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Usia Masih 11 Tahun, Azriel Juarai Turnamen BMX Nasional

Tidak Minder Lawan Rival Lebih Dewasa

06 Agustus 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

LATIHAN KERAS: Azriel Galang Za’i Risqullah ketika berlatih gerakan jump shot di depan rumahnya dengan alat buatan ayahnya.

LATIHAN KERAS: Azriel Galang Za’i Risqullah ketika berlatih gerakan jump shot di depan rumahnya dengan alat buatan ayahnya. (FAJAR RAHMAD)

Share this          

Tahun pertama berlaga, Azriel tak naik podium. Namun mentalnya kuat ketika melihat teman-temanya membawa piala. Hingga akhirnya pada 2019 ia dapat menyabet juara umum turnamen sepeda BMX nasional.

FAJAR RAHMAD, Kabupaten, JP Radar Kediri

Rumah di samping musala itu tak jauh dari gerbang perbatasan Kabupaten Kediri dengan Kabupaten Blitar. Tepatnya di Desa Jemekan, Kecamatan Ringinrejo. Di sinilah terlahir atlet cilik Bicycle Motocross (BMX). Namanya Azriel Galang Za’i Risqullah.

Pada Januari 2020 lalu, ia menjuarai turnamen internasional di Jakarta. Lawan-lawanya dari India, Jepang dan negara Asia lain. Prosesnya tak mudah hingga menjadi juara di banyak turnamen olahraga ekstrem ini.

Ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya, Azriel ditemani Yuslan Arifin, 31, ayahnya. Dalam kesehariannya, Yuslan beternak sapi. Dia selalu mendampingi anaknya setiap latihan sepeda BMX. Tempat latihannya di Kecamatan Srengat, Blitar. Dari rumah berjarak sekitar 7 kilometer (km).

“Saya setiap hari mengantarkan Azriel dengan motor, lalu sepedanya kami letakkan di atas motor Mas,” ujar Yuslan yang memakai baju biru.

Azriel latihan sepeda setiap sore bersama anggota klub sepeda Gunesto Gun Muji Manajemen (GGMM). Namun selama pandemi korona dia sering latihan pagi. Malah tidak ada libur latihan selama pandemi. Azriel justru lebih keras mengayuh sepedanya di sirkuit.

Azriel baru bergabung di klub sepeda pada 2017. Berawal dari melihat turnamen BMX di sirkuit Blitar. Saat itulah, adrenalin untuk mencoba olahraga tersebut muncul. “Saya tertarik bersepeda dan balapannya itu Mas,” akunya.

Selain latihan di sirkuit, Azriel juga latihan di rumah. Biasanya push up dan jump shot dilakukan di halaman dengan alat yang dibuat sendiri. Di awal masuk klub, bocah tahun ini tak diperhatikan pelatihnya selama satu bulan. Bahkan tak diberi informasi jadwal latihan.

Namun Azriel ke sirkuit setiap hari. Sang pelatih pun melihat keseriusan Azriel. Sejak itu dibimbingnya hingga sekarang. Pada tahun pertama di klub sepeda, Azriel langsung mengikuti 8 seri turnamen. Namun hasilnya belum memuaskan. Pulang dengan tangan kosong, ia sempat menangis melihat teman-temannya membawa piala.

Meski begitu, Yuslan terus memotivasi agar Azriel tidak mudah patah semangat dan kuat mentalnya. “Tahun pertama masih adaptasi, baru pada 2018 Azriel mulai naik podium. Saya terus menanamkan kerja keras untuk membentuk mentalnya,” tutur Yuslan.

Puncaknya pada 2019, Azriel menjadi juara umum 8 seri berturut-turut di Jepara, Jogjakarta, Blitar dan kota lain. Bahkan saat itu lawan-lawannya berumur di atas Azriel. “Jika dihitung dia telah menjuarai lebih dari 20 turnamen selama masuk klub sepeda BMX,” ungkap Yuslan.

Orang tuanya  memang tidak menurunkan bakat bersepeda. Namun sejak umur dua tahun, ketertarikan Azriel terhadap sepeda mulai terlihat. Sebelum masuk klub sepeda, ia sempat masuk sekolah sepak bola (SSB). Tapi hanya bertahan satu hari.

Setelah itu, dia menjajal les renang. Hingga akhirnya menemukan minatnya di sepeda yang mengantarkan namanya dikenal. Azriel masih bersekolah di madrasah ibtidaiyah (MI). Makanya, ia harus menyeimbangkan hobi dengan pendidikannya. Selama ini, Yuslan mengatakan, Azriel masih menempati ranking 3 besar di sekolahnya. (ndr)

                                         

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia