Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Gelar Razia 5 Titik, Jaring 10 Gepeng dan Anak Jalanan

Satpol PP Waswas Ada Klaster Baru

06 Agustus 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PENERTIBAN: Petugas Satpol PP Kabupaten Kediri ketika merazia anak jalanan dan gelandangan pengemis di perempatan jalan Desa Bogo, Kecamatan Plemahan kemarin.

PENERTIBAN: Petugas Satpol PP Kabupaten Kediri ketika merazia anak jalanan dan gelandangan pengemis di perempatan jalan Desa Bogo, Kecamatan Plemahan kemarin. (LU’LU’UL ISNAINIYAH/JPRK)

Share this          

 Sementara itu, Satpol PP Kabupaten Kediri merazia anak jalanan (anjal) dan gelandangan pengemis (gepeng) kemarin (5/8). Aparat penegak perda ini menyasar lima titik. Yakni di Kecamatan Gurah, Pare, Badas, Plemahan, dan Papar. Sebanyak 10 anjal dan gepeng terjaring.

Menurut Kasi Operasi Pengendalian Satpol PP Kabupaten Kediri Toni Subianto, tujuan razia untuk menekan penyebaran virus korona. Anjal dan gepeng yang berkeliaran di jalan disasar karena tidak mengindahkan protokol kesehatan. Dikhawatirkan muncul klaster baru.

“Hal ini akan terus kami lakukan mengingat mereka bisa saja tertular Covid-19,” terang Toni.

Dari 10 anjal dan gepeng yang terkena razia, dua orang diciduk dari perempatan Jalan Kilisuci, Pare. Kemudian, tiga pengamen dan dua anjal di perempatan Bogo, Kecamatan Plemahan. Lalu, satu anjal di perempatan Desa/Kecamatan Gurah. “Yang ngamen diamankan dengan alat musiknya,” kata Toni.

Beberapa dari mereka, ungkap personel satpol PP ini, ada yang merupakan wajah baru. Salah satunya gepeng di perempatan Bogo. Beberapa hari lalu, ia sempat diperingatkan dan pergi. Namun, ternyata masih mengulangi kegiatan mengamennya di perempatan jalan itu. Asalnya dari Nganjuk.

“Untuk yang di Bogo ini kapan hari sudah kami beri peringatan, tapi masih diulangi lagi,” tegas Toni.

Di antara anjal yang terjaring ada yang masih di bawah umur. Bahkan ada yang berstatus pelajar. “Kalau seusia mereka ini kan sangat disayangkan Mbak. Seharusnya di rumah saja tapi ya terpengaruh pertemanan juga,” ungkap Toni.

Ironisnya, satu anjal yang terjaring di Bogo adalah perempuan. Ia ngamen di traffic light bersama seorang temannya. Usianya masih 14 tahun. Ia kelas 3 MTs di Gurah. Mengakunya, mengamen atas ajakan temannya. “Kenal beginian dari temen saya Mbak, terus saya nyoba ikut,” ujar SA, anjal asal Desa Gempolan, Kecamatan Gurah itu.

Dari rumah ke Plemahan, SA menumpang truk. Orang tuanya tak tahu aktivitasnya. “Saya ngakunya ke ibu pergi main aja gitu,” tuturnya.

SA bergabung dengan anjal sudah dua bulan. Selama itu, dia pernah sampai ke Solo. Toni mengatakan, anjal dan gepeng dibawa ke Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kediri untuk pendataan dan pembinaan. “Seperti yang dari Nganjuk ini, kami ingatkan agar tidak ngamen ke Kediri lagi,” urainya. (luk/ndr)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia