Kamis, 29 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Banyak yang Beralih ke Tembakau Linting

Efek Pandemi, Perokok Filter Berpindah Kretek

04 Agustus 2020, 12: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

DIMINATI: Siswanto, 33, menunjukkan tembakau yang dijual di tokonya di Jl Trunojoyo, Kelurahan Banaran, Kertosono kemarin.

DIMINATI: Siswanto, 33, menunjukkan tembakau yang dijual di tokonya di Jl Trunojoyo, Kelurahan Banaran, Kertosono kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian justru jadi hal positif bagi para pedagang tembakau kering. Mereka kebanjiran pembeli setelah banyak perokok filter beralih ke kretek alias rokok lintingan.

Seperti diakui oleh Siswanto, 33, penjual tembakau kering di Jl Trunojoyo, Kelurahan Banaran, Kertosono. Menurutnya, pembeli tembakau kering mulai ramai sejak tiga bulan lalu. “Sejak pandemi banyak yang membeli tembakau untuk dilinting sendiri,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Pria yang tinggal di Kelurahan Warujayeng, Tanjunganom yang baru berjualan tembakau selama 40 hari itu pun mengaku kiosnya ikut ramai didatangi pembeli. Setiap hari omzetnya naik terus. Tiap hari, dia bisa mendapat uang penjualan sekitar Rp 500 ribu.

Sis berujar, dibanding penjual tembakau lama, omzet yang didapatnya belum seberapa. Sebab, banyak pedagang yang omzet hariannya mencapai jutaan rupiah. “Bahkan, ada yang omzet jualan per harinya mencapai puluhan juta,” tandas pria yang gemar bercanda tersebut.

Dia tak mengelak jika melon­jaknya jumlah pembeli tembakau kering itu karena terdampak pandemi. Wabah Covid-19 mem­buat perekonomian masyarakat menurun. Akibatnya, warga yang biasanya membeli rokok filter beralih ke rokok lintingan. 

Hal senada diamini oleh Hanif Nur Taufiq, 28, salah satu pelanggan di toko tembakau Alfino tersebut. Menurutnya, dengan merokok lintingan, dia bisa sedikit berhemat. “Kalau dibandingkan dengan rokok pabrikan memang lebih murah ini,” aku pria brewok tersebut.

Lebih jauh, warga Jombang tersebut mengatakan, lingkungan pergaulannya juga banyak yang mulai mengikuti tren tersebut. Ia mengamini bahwa tren itu mulai menjamur di kalangan masyarakat.

Pantauan koran ini, pembeli tembakau yang masuk ke Sis memang tergolong banyak. Setibanya di sana, pembeli mendapat banyak alternatif pilihan tembakau yang diberi nama sesuai merk rokok. Mulai gudang garam surya, sampoerna, wismilak, djarum 76, dan beberapa merk rokok lainnya.

Apakah rasa tembakau yang dijual Sis memang menyerupai merk-merk rokok tersebut? Ditanya demikian, pria yang kemarin bertopi putih itu menjawab dengan tersenyum. “Katanya mirip,” tuturnya. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia