Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Suka Duka Guru SDN Kapas 4 Sukomoro Terapkan Pembelajaran Luring

Mengajar Tanpa Papan Tulis

03 Agustus 2020, 12: 57: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

SABAR: Wijiatin, 55, guru SDN Kapas 4, Sukomoro membimbing lima anak didiknya yang mengikuti pembelajaran tatap muka di rumah salah satu siswa pada Rabu (29/7) lalu. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Tidak semua siswa punya smartphone untuk pembelajaran dalam jaringan (daring). Menyiasati hal itu, SDN Kapas 4 Sukomoro menerapkan pembelajaran luar jaringan (luring) atau tatap muka selama sebulan terakhir.

REKIAN, SUKOMORO, JP Radar Nganjuk

Jarum jam menunjukkan pukul 08.30, Rabu (29/7) lalu. Rumah Sabrina, 6, di Lingkungan Santren, Kelurahan Kapas, Sukomoro mulai sedikit riuh. Ada lima anak yang tak lain adalah siswa SDN Kapas 4 Sukomoro yang pagi itu berada di sana.

Keberadaan anak-anak yang rata-rata berumur enam tahun itu bukan untuk bermain. Melainkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Sebelum masuk ke dalam rumah, anak-anak yang memakai masker itu tangannya disemprot hand sanitizer. 

Mencangklong tas dan menenteng meja belajar kecil, beberapa siswa langsung mengambil tempat masing-masing di ruangan berukuran sekitar 5x5 meter itu. Membuka meja sambil duduk, anak-anak yang tak memakai seragam sekolah tersebut saling mengambil jarak.

“Ayo duduk seperti biasa,” ujar Wijiatin, guru SDN Kapas 4 memberi instruksi setelah lima anak beada di dalam ruangan. Tak menunggu lama, perempuan yang juga asal Kelurahan Kapas itu langsung membimbing anak didiknya.

Dimulai dengan berdoa, lima anak itu lantas membaca pancasila. Salah satu siswa diminta maju ke depan memandu teman-temannya. Sejurus kemudian, mereka belajar pelajaran tematik.

Mulai membaca, menulis angka dan huruf. Untuk memastikan anak didiknya memahami pelajaran yang disampaikan, perempuan berusia 55 tahun itu mendekati muridnya satu per satu. “Sekarang tulis nama sendiri ya,” pinta perempuan berjilbab sembari meminta mereka juga menulis nama teman-temannya di buku.

Lima anak itu tidak sedang belajar berkelompok. Mereka adalah peserta didik baru di SDN Kapas 4 tahun ajaran 2020/2021. Jumlahnya memang hanya lima anak. Tidak sampai memenuhi satu rombongan belajar (rombel).

Dengan jumlah siswa yang sedikit, mereka justru bisa belajar dengan nyaman. Demikian pula gurunya. “Mengajar kelas I itu harus bisa ngemong (momong, Red),” ungkap Wijiatin.

Siswa yang baru masuk sekolah dasar itu memang belum bisa mandiri sepenuhnya. Kadang masih ada yang buang air kecil dan buang air besar di celana. Jika terjadi demikian, guru juga harus menggantikan peran orang tua mereka.

Beruntung, selama belajar di masa pandemi ini siswa yang belajar tatap muka di rumah ini belum ada yang buang air kecil saat belajar. “Sebulan ini belum ada (yang buang air kecil di celana, Red),” lanjutnya sambil tersenyum.

Wijiatin menuturkan, pembelajaran tatap muka di rumah siswa itu tidak dilakukan tiap hari. Melainkan, hanya dua kali dalam seminggu. Cara ini ditempuh menyiasati beberapa kendala dalam pembelajaran daring.

Pertama, masih ada orang tua siswa yang belum memiliki gawai. Jika ada, jenisnya belum smartphone. Tidak hanya itu, kendala lainnya adalah masalah sinyal.

Suatu kali, Wijiatin pernah memberikan tugas tetapi oleh si anak tidak kunjung di kerjakan. Setelah guru mendatangi rumahnya, ternyata siswa tersebut terkendala sinyal. Akibatnya, tugas dari guru itu tidak masuk ke ponsel anak karena sinyal yang jelek.

Kendala lainnya adalah kuota data. Lima siswa baru ini belum masuk daftar BOS (bantuan operasional sekolah). “Ada orang tua yang menggunakan HP tapi digunakan untuk bisnis. Jika harus bareng sama anak tidak akan bisa maksimal,” urainya.

Belum lagi masih ada orang tua yang khawatir anaknya kebablasan bila anak sering diberikan gawai. Dari masalah itu, sekolah akhirnya memutuskan untuk mengambil kebijakan pembelajaran luring dengan tetap tatap muka.

Proses belajar di masa pandemi ini sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka di sekolah. Bagi Wijiatin, dengan belajar di rumah dia bisa berkunjung ke rumah wali murid. Ini menjadi hal positif karena guru bisa mengetahui langsung kondisi orang tua.

Meski harus menempuh jarak paling jauh satu kilometer, Wijiatun merasa senang karena belajar di rumah siswa memberikan suasana baru. Meski, fasilitas di sana terbatas. Ia mencontohkan fasilitas papan tulis yang pasti tidak ada.

Terpisah, Mujiatun, 40, salah satu orang tua siswa mengaku senang dengan pembelajaran tatap muka di rumah wali murid. Sebab, mereka bisa konsentrasi dengan pekerjaan rumah dan tak perlu repot menemani anak-anak belajar menggunakan ponsel. “Tidak sempat lagi melihat anak belajar memakai HP. Kami juga takut anak kebablasan kalau diberi HP,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia