Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Panen Serentak di Tiga Provinsi Membuat Harga Merosot

Pangkas Biaya, Petani Menanam Jagung Sendiri

01 Agustus 2020, 12: 35: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Jagung

HEMAT BIAYA: Falem, 55, petani di Desa Sumengko, Sukomoro menanam jagung bersama istrinya agar biasa menghemat biaya tenaga. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Penurunan harga jagung di pasaran agaknya sulit untuk dibendung. Pasalnya, stok jagung secara nasional diperkirakan juga tengah melimpah. Sebab, saat ini panen raya tengah terjadi di tiga provinsi di Indonesia.

Tiga provinsi tersebut mulai Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Kalimantan Timur. “Kalau untuk Jawa Timur baru sebagian yang panen,” ujar Kepala Dinas Pertanian Nganjuk Judi Ernanto.

Lebih lanjut Judi mengungkapkan, di Nganjuk sebenarnya belum terlalu banyak area tanaman jagung yang dipanen. Hingga kemarin menurutnya baru sekitar 60 hektare saja yang dipanen. Adapun selebihnya belum.

Puluhan hektare tanaman jagung itu tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya di Ngronggot dan Pace. Adapun daerah lain mayoritas belum panen. Meski demikian, penurunan harga agaknya sulit untuk dicegah. Sebab, stok melebihi jumlah permintaan.

Menurut Judi jagung kebanyakan digunakan oleh para peternak. Padahal, selama pandemi ini banyak peternak yang menurunkan populasi ternaknya. Sehingga kebutuhan pangannya juga ikut turun drastis. “Kondisi ini membuat harganya menjadi anjlok,” lanjut Judi.

Diakui Judi, penurunan harga jagung juga jadi dilema bagi dinas pertanian. Sebab, selama ini pemerintah pusat terus mendorong agar petani menanam tanaman pangan. Salah satunya adalah jagung.

Di Nganjuk, dari total target luasan tanaman jagung sebanyak 15 ribu hektare, saat ini sudah ada 10 ribu hektare. Jumlah ini menurut Judi masih akan terus bertambah hingga sebelum Oktober nanti.

Dikatakan Judi, sebenarnya dispertan sudah berupaya membendung agar harga jagung tidak terus merosot. Sebaliknya, bisa berpihak kepada para petani. Caranya, dispertan melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian.

Mereka diminta mencarikan distributor baru untuk para petani agar harga jual panenan mereka tidak terlalu merosot. Meski demikian, menurut Judi penurunan harga memang sulit ditahan. “Ini dilema. Luas tanaman mencapai target tapi hasil yang diperoleh petani minim,” akunya.

Seperti diberitakan, harga jagung terus merosot. Jika sebelumnya mencapai Rp 3.400 per kilogram, kemarin sudah menjadi Rp 3.100 per kilogram. Para petani memprediksi harga jagung bisa terus turun hingga Rp 2.400 per kilogram.

Hal itu diungkapkan oleh Falem, 55, petani asal Desa Sumengko, Sukomoro. “Hampir setiap tahun terjadi, sejauh ini belum ada solusinya,” keluh pria yang kemarin menanam benih jagung di sawah bersama istrinya itu.

Diakui Falem, para petani banyak dirugikan. Sebab, dengan harga panenan yang murah, mereka tetap harus membeli bibit dengan harga mahal. Jika biasanya harga bibit sebesar Rp 100 ribu per bungkus, kini menjadi Rp 115 ribu.

Menyiasati hal tersebut, Falem harus memutar otak agar kerugiannya tak besar. Salah satunya memangkas biaya produksi dengan mengerjakannya sendiri bersama istrinya. Pria tua itu kemarin berbagi tugas dengan sang istri saat menanam benih.

Falem bertugas membuat lubang dan menyiram benih. Adapun istrinya memasukkan benih ke lubang yang dibuat suaminya. “Biar hemat,” ujarnya singkat.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia