Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Hobi di Kala Pandemi yang Ikut Memutar Roda Ekonomi (3)

Omzet Capai 100%, Seli Paling Diminati

01 Agustus 2020, 14: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

BIKIN SEHAT: Para penghobi sepeda sedang melintasi suasana alam pegunungan. Hobi ini ngetren di masa pandemi Covid-19.

BIKIN SEHAT: Para penghobi sepeda sedang melintasi suasana alam pegunungan. Hobi ini ngetren di masa pandemi Covid-19. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

Sejak bersepeda ngetren di masa pandemi, omzet Devita, penjual sepeda di Kota Kediri, melonjak hingga 100 persen. Jumlah pembeli naik lipat lima. Itu pada Mei dan Juni 2020.

Haryo, 45, terlihat istirahat di kawasan wisata Brigif Infanteri 16 Wira Yudha, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, kemarin sore (31/7). Itu setelah ia bersepeda dari rumahnya di Desa Paron, Kecamatan Ngasem.

Sepeda lipat (seli) bercat hitam terparkir di dekatnya. Sepeda itu dia beli seharga Rp 4,5 juta pada Juni lalu. Haryo memang penghobi bersepeda. Untuk tunggangan kesenangannya tersebut, dia sengaja mencari yang nyaman. “Yang enak dinaiki itu juga harus dilengkapi spare part berkualitas,” katanya.

Di rumahnya, Haryo memiliki tiga sepeda. Termasuk sepeda lipatnya yang dinaikinya sore itu. Dua lainnya merupakan sepeda gunung. Masing-masing harga sepeda gunung itu Rp 6 juta dan Rp 7 juta. “Saya beli dua tahun lalu,” ujarnya.

Jarnowo Santoso, 43, pesepeda lain asal Blitar, justru tertarik dengan sepeda bekas. Ia mengaku membeli karena kebutuhan. Selain itu harga lebih terjangkau. Sepeda mini yang dia beli untuk anak perempuannya hanya berkisar Rp 650 ribu.

Beda lagi dengan Zalva Sabila, 15, dan Elsiva Fiorisa, 15, dua anak perempuan ini masih baru menikmati hobi bersepeda ketika ada pandemi korona. Mereka menceritakan, sepeda gunung yang dibelikan orang tuanya berkisar harga Rp 2 juta. Zalva dan Elsiva tidak memiliki kriteria tertentu. Mereka hanya mencari yang nyaman untuk berolahraga sehari-hari.

“Kami bersepeda ya karena ada banyak teman dengan hobi yang sama ketika pandemi ini Mas,” jelas keduanya yang akan memasuki pintu masuk wisata Brigif.

Sementara itu, Devita Riskawati, 33, anak pemilik toko sepeda Polta di Jalan Sam Ratulangi, Kota Kediri, mengaku, mengalami kenaikan penjualan. Omzetnya melonjak hingga 100 persen. Itu terjadi pada Mei dan Juni.

Dalam sehari, menurutnya, jumlah pembeli sepeda bisa mencapai 50 orang. Itu selama masa pandemi Covid-19. “Yang banyak diminati sepeda gunung dan sepeda lipat,” ungkapnya.

Harga sepeda gunung berkisar antara Rp 1,2 juta hingga Rp 25 juta. Semakin besar ukuran roda semakin tinggi harganya. Sebagian yang laku di toko berkisar di atas harga Rp 2 juta.

“Kami baru saja mengirim sepeda gunung yang seharga Rp 25 juta itu ke Madura. Karena stok toko di sana habis,” ujar Devi saat ditemui di tokonya kemarin (31/7).

Sedangkan sepeda lipat dipatok harga Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta. Menurut Devi, seli banyak diminati karena simpel dan mudah dibawa ke mana-mana. Ramai pada Mei-Juni, ia mengaku, pada Juli ini tren sepeda mulai menurun. Hal itu mempengaruhi jumlah pembeli di tokonya. Ada penurunan 20 persen dari bulan sebelumnya.

“Mulai bulan Juli ini banyak pembeli yang meminati sepeda anak-anak. Ini kami jual mulai harga Rp 450 ribu hingga Rp 1,2 juta Mas,” imbuhnya.

Sebelumnya bersepeda ngetren ketika pandemi korona, Devi tak berani mematok harga sepeda di atas Rp 2 juta. Namun karena permintaan melonjak, harga produknya pun naik. Konsumen mampu membeli di atas Rp 2 juta.

Hal serupa dialami Nardi, penjual sepeda Jaya Agung di Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Kediri. Dia mengaku, mengalami kenaikan pembeli pada masa pandemi. Puncaknya pada Juni lalu. “Dalam sehari bisa 50 pembeli. Ada yang beli sepeda dan aksesorisnya,” paparnya.

Jenis sepeda yang diminati sepeda gunung dan seli. Namun, Nardi memprediksi, tren ini akan kembali normal. Itu setelah ia melihat antusias konsumen menurun.

Lain lagi dengan Norman Febri, 28, penjual sepeda minion asal Desa Sumberbendo, Kecamatan Pare. Dia hanya memproduksi dan menjual sepeda minion dalam sebulan sebanyak tiga unit saja. Hal itu karena menunggu permintaan pemesan.

“Kalau harga tergantung dari pemesan Mas. Tapi minimal harga sepeda minion Rp 1,7 juta hingga Rp 3 juta,” ucapnya ketika dihubungi lewat telepon kemarin.

Masa pandemi korona ini, diakui Norman, sangat berpengaruh terhadap bisnisnya. Karena penjualan sepeda minion mengalami kenaikan pembeli hingga 25 persen tiap bulannya. Bisnis yang baru dirintis pada 2020 ini membawa berkah bagi Norman. Bahkan dia telah mengirim sepeda minion ke Solo.

Laki-laki yang juga membuka servis sepatu ini hanya melakoni promosi sepeda minionnya dari mulut ke mulut. Dia baru saja memulai promosi lewat sosial media. Norman merasa beruntung memulai usaha sepeda minion ini ketika tren hobi bersepeda booming. Meskipun juga dibarengi adanya pandemi yang belum mereda, namun dari masa itu bisnisnya mulai meningkat.(jar/ndr)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia