Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Ketika Latif Merasakan ‘Berkah’ Pandemi di Bisnisnya

Tiap Menit Pelanggan Terus Berdatangan

31 Juli 2020, 16: 52: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

PANEN: Latif memperhatikan ikan di akuarium kiosnya.

PANEN: Latif memperhatikan ikan di akuarium kiosnya. (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Pasang surut bisnis jual beli ikan sudah dia rasakan. Termasuk banting setir dari jualan ikan konsumsi ke ikan hias. Saat pandemi korona menerjang, pundi-pundi rupiah menggerincing keras di sakunya.

LU’LU’UL ISNAINIYAH, Kabupaten, JP Radar Kediri

Kios ikan itu berada di tepi jalanan yang membelah Desa Canggu di Kecamatan Badas. Papan nama yang tertera adalah Surya Gurami. Namun, justru yang banyak dijual di tempat ini adalah ikan hias beraneka rupa.

“Dulu saya memang hanya jual ikan konsumsi. Tapi sejak 2002 mulai jualan ikan hias,” aku Latiful Mustamiin, lelaki pemilik kios tersebut.

Saat inipun bila ada yang mencari ikan gurami Latif, panggilannya, masih bisa menyediakan. “Namun yang banyak dicari saat ini ya tetap ikan hias,” lanjutnya.

Kios milik lelaki 42 tahun memang paling ramai didatangi pengunjung. Terutama bila dibandingkan dengan deretan kios-kios ikan hias yang ada di sekitarnya. Kebetulan di desa ini merupakan salah satu tujuan para penghobi ikan untuk mencari buruannya.

Seperti pagi itu, jarum jam memang masih menunjukkan 09.30. Tapi antrean pembeli sudah terlihat. Halaman depan kios milik Latif sudah dipenuhi kendaraan roda dua maupun empat. Beberapa di antaranya bernopol luar kota. Bahkan, ada yang berkode huruf H, Semarang, di antara mobil berplat N, W, atau L.

“Saya mulai berjualan ikan pas tsanawiyah (sekolah di bawah Kemenag setara SMP, Red),” kata latif.

Sudah 26 tahun Latif menggeluti bisnis jual beli ikan. Sejak 1994. Tentu, saat tahun awal dia belum sesukses sekarang. Dia juga harus membagi waktu dengan sekolah.

Modal awalnya pemberian orang tua. Yang mendorongnya menjual ikan konsumsi. “Diberi uang oleh orang tua disuruh jualan ikan gurami, nila, atau tombro,” kenangnya.

Saat itu keuntungan yang dia peroleh langsung diputar lagi untuk membeli ikan. Terus seperti itu hingga bertahun-tahun. Hingga penjualannya kian membesar. Pengirimannya pun sudah ke berbagai daerah.

Dia pun bisa membeli tanah dari hasil jerih payahnya sendiri. Lokasinya di Dusun Surowono. Dia kemudian membangun toko di lahan tersebut.

Awal mula berpindah ikan hias terjadi pada 2002. Saat itu mulai muncul kendala di bisnis ikan konsumsinya. “Saat itu kalau tidak salah Jakarta pas banjir. Pengiriman gurami juga berhenti,” jelasnya.

Saat itu yang merasakan bisnis macet tak hanya dirinya. Para tetangga yang memang mayoritas berjualan bibit ikan konsumsi pun mengalaminya. Latif pun berpikir cepat untuk mengatasi masalah itu.

“Waktu itu saya main ke (wilayah) Ngadiluwih Mbak. Ke tempat penjual ikan hias. Saya lihat banyak orang dari utara beli di sana,” kenangnya.

Melihat peluang tersebut, akhirnya Latif pun beralih. Dari semula menjual ikan konsumsi ke ikan hias. Bisnis yang dia geluti hingga saat ini.

Bisnisnya sempat melebar luas. Bahkan hingga ke luar negeri. Ia pernah mengirim ikan ke Singapura, Malaysia, hingga Amerika Serikat. Sayang, langkah itu harus terhenti karena faktor non-teknis. Partner bisnisnya di Surabaya bermain curang.

“Sekarang sudah tidak (kirim ke luar negeri). Dulu karyawan teman saya penipu,” aku pria yang juga menggeluti dunia pertanian ini.

Bagi Latif, kejujuran adalah kunci segalanya. Dalam mencari karyawan pun dia mendasarkan pada hal itu. Tak heran bila dia memercayakan pengelolaan toko ikannya kepada karyawan. Sementara dia lebih banyak mengurusi sawah dibanding menunggu toko.

“Saya percaya dengan karyawan. Jadi tidak perlu ditunggu. Karena mereka bekerja yang saya utamakan adalah kejujuran,” tegasnya.

Sebenarnya, toko ikannya memang ramai sejak dulu. Namun, diakuinya, saat pandemi korona pelanggan yang datang kian banyak. Baru kali ini dia merasakan lapaknya tak pernah sepi dari pembeli. Setiap jam, setiap menit, orang bergantian berkunjung. Kondisi itu mulai terasa usai Idul Fitri lalu. Penjualannya pun meningkat hingga 200 persen!

Saat ini karyawannya pun bertambah. Dari semula tiga orang menjadi lima orang. Tentu pundi-pundi rupiah pun banyak ia dapatkan. Namun ia tidak pernah lupa menyisihkan uang hasil jualan untuk bersdekah ke orang yang lebih membutuhkan. “Alhamdulillah, setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing,” imbuhnya. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia