Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Hobi di Kala Pandemi yang Ikut Memutar Roda Ekonomi (1)

Satu Daun Monstera Itu Harganya Rp 7 Juta

30 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

MERAH: Deretan tanaman aglaonema koleksi Solikin, di Desa Doko, Kecamatan Ngasem. Tanaman jenis ini banyak diburu.

MERAH: Deretan tanaman aglaonema koleksi Solikin, di Desa Doko, Kecamatan Ngasem. Tanaman jenis ini banyak diburu. (HABIBAH A. MUKTIARA)

Share this          

Bandriyah sudah 35 tahun berbisnis tanaman hias. Baru kali ini dia merasakan penjualan seramai ini. Omzetnya pun meningkat pesat.

Seorang wanita paro baya bergegas mendatangi kasir di kios bunga di Desa Rembang, Kecamatan Ngadiluwih itu. Tangannya memegang tanaman hias berdaun merah. Tanaman itu bergenus aglaonema. Di kasir dia menyerahkan uang senilai harga bunga berjenis pride of Sumatera itu, Rp 1,5 juta.

Saat ini jangan heran dengan harga tanaman yang ‘menggila’ seperti itu. Tak hanya jenis aglaonema saja yang sudah ‘berganti harga’. Jenis-jenis lainnya pun sama. Rata-rata mengalami kenaikan harga hingga 100 persen!

Menjamurnya warga yang hobi merawat tanaman hias justru jadi berkah saat ini. Di kala kondisi ekonomi secara umum diterpa kelesuan akibat pandemi korona, sektor ini juga bisa menjadi penopang. Perputaran uang yang dihasilkan dari bisnis tanaman hias pun mampu menggerakkan roda pendapatan banyak pihak. Terutama petani dan penjual tanaman hias.

Salah satu contohnya di wilayah Kecamatan Ngadiluwih. Di wilayah ini ada satu wilayah yang merupakan sentra pedagang tanaman hias. Berjajar di sepanjang jalan yang menghubungkan Kediri dan Tulungagung. Paling banyak berada di Desa Rembang. Namun, sejatinya para pedagang dan petaninya tersebar di banyak desa di kecamatan ini.

Saat ini desa tersebut ibarat lokasi industri tanaman. Nyaris semua rumah memanfaatkan halamannya untuk produksi dan etalase berbagai jenis tanaman. Tidak sedikit yang harus sewa tempat karena usahanya berkembang pesat.

Salah satu pengusaha tanaman hias itu adalah Bandriyah. Kiosnya yang agak masuk ke dalam gang tak mempengaruhi minat pembeli. Penjualannya laris manis.

“Toko setiap hari didatangi pengunjung. Paling ramai Sabtu dan Minggu,” kata wanita yang biasa dipanggil Mbak Yah ini.

Akibat banyaknya pembeli membuat kios Mbak Yah sedikit kewalahan. Stok tanaman hiasnya banyak yang kosong. Apalagi pengiriman dari petani di Kota Batu atau Kabupaten Malang sering tersendat.

Sayang, Mbak Yah enggan menyebut berapa peningkatan omzetnya. Dia mengaku tak menghitung berapa pendapatannya setiap hari karena langsung dikeluarkan lagi untuk membeli tanaman baru.

“Yang jelas pemasukan pasti bertambah. Karena pembeli memang ramai saat ini,” elaknya ketika ditanya nilai omzet per harinya.

Mbak Yah mengatakan bahwa penjualannya meningkat pesat setelah Hari Raya Idul Fitri. Peningkatan penjualan hingga 200 persen dari sebelumnya. Di kios miliknya semua tanaman hias laku terjual. Mulai dari janda bolong, air mata pengantin, kaktus, hingga aglaonema.

Begitu larisnya kaktus membuat stok di kios Bandriyah kosong. Apalagi kaktus sering mengalami telat barang.

Tidak hanya tanaman hias saja yang laku keras. Peralatan-peralatan penyertanya pun demikian. Seperti pot hingga media tanam. Kebanyakan pembeli ada yang digunakan sendiri ada juga yang kembali dijual.

Salah satu pembeli tersebut adalah Solikin. Dia adalah pedagang bunga di Desa Doko, Kecamatan Ngasem. Menjadi penjual bunga mulai 2007, Solikin tidak hanya menyediakan satu jenis bunga saja. Tanaman yang dijual mulai tanaman jenis monstera hingga kaktus.

“Penjualan bunga ini meningkat setelah hari raya kemarin,” terang Solikin.

Sebelum mengalami peningkatan, dalam satu hari ia mendapatkan pendapatan sekitar Rp 1 hingga Rp 2 juta. Namun setelah tanaman hias ini diburu dalam satu hari ia bisa mendapatkan  sekitar Rp 5 hingga Rp 15 Juta.

Solikin mengatakan bahwa meningkatnya harga bunga ini karena beberapa faktor. Seperti karena penjual pemula dan kolektor yang kini jadi penjual. “Penjual bunga banyak namun barangnya sedikit,” terangnya.

Salah satu tanaman yang kini langka adalah aglaonema. Kelangkaan aglaonema ini terjadi secara nasional. Penyebab langkanya barang ini karena kebanyakan didatangkan dari Thailand. Akibat pembatasan pengiriman membuat suplai aglaonema hanya mengandalkan dari petani lokal saja. Padahal petani khusus aglaonema tak terlalu banyak.

Tidak seperti kaktus, meski banyak peminatnya namun harga masih tetap stabil. “Kalau kaktus selalu dicari, berbeda dengan aglaonema,” kata Solikin.

Dari semua tanaman hias yang ia jual, yang paling mahal ini adalah monstera variegata. Satu lembar daun dijual dengan harga Rp 2,5 hingga Rp 3 Juta. Sedangkan untuk monstera induk, satu lembar daun dapat dijual mulai dari Rp 3 hingga Rp 7 Juta. “Dari penjualan selama dua bulan, sudah dapat membeli satu mobil (Daihatsu) GranMax,”aku Solikin. (ara/fud)

Sebagian Tanaman Hias yang Paling Diburu

1. Sukulen

Succulent atau sukulen, tanaman hias hemat air paling populer belakangan ini. Memiliki bagian tebal dan berdaging untuk menyimpan air. Tanaman ini dijual mulai harga Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu per pot.

2. Monstera

Genus ini punya dua jenis yang paling banyak diburu. Monstera deliciosa atau keju swis karena daunnya yang terbelah seperti keju serta monstera obligua yang juga disebut janda bolong. Coraknya estetik dan cocok jadi pemanis dekorasi indoor. Monstera variegata merupakan yang berharga mahal. Dijual mulai harga Rp 1 juta ke atas sesuai besar dan keunikannya.

3. Aglaonema

Merupakan  tanaman hias daun yang populer. Terdiri dari 30 spesies yang tersebar luas termasuk di Indonesia. Sering disebut juga dengan dengan Sri Rejeki. Di Indonesia aglaonema ini memiliki 13 jenis. Harganya berkisar Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.

4. Kaktus

Masuk dalam famili Cactaceae. Memiliki lebih dari 2 ribu  varietas dengan berbagai warna dan bentuk. Habitat alami kaktus adalah di gurun atau padang pasir. Kaktus memiliki keunikan dapat hidup dan tumbuh tanpa air dalam waktu yang sangat lama. Perawatan yang mudah membuat kaktus banyak dicari Harga bergantung jenis. Mulai Rp 5 ribu hingga Rp 55 ribu.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia