Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (17)

Satu Untaian dari Gurah hingga Kandangan

30 Juli 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

BUKTI PENINGGALAN : Situs Adan-adan di Kecamatan Gurah menjadi salah satu sub-area Kerajaan Kadiri yang terangkai hingga lereng utara Kelud

BUKTI PENINGGALAN : Situs Adan-adan di Kecamatan Gurah menjadi salah satu sub-area Kerajaan Kadiri yang terangkai hingga lereng utara Kelud (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

Bukti peninggalan bersejarah di Kabupaten Kediri utamanya lereng utara Kelud mulai bermunculan. Banyak dugaan bahwa cakupan sebarannya sangat luas.

Seluruh kecamatan di Kabupaten Kediri telah diketahui memiliki peninggalan bersejarah dari era klasik. Baik yang saat ini berada di permukaan tanah maupun yang masih tertimbun di dalam tanah. Tak hanya berupa artefak saja namun beberapa juga berupa struktur bangunan.

Sejumlah pakar sejarah juga telah memastikan bahwa masa Kadiri bukan hanya peninggalan tekstual saja yang luar biasa. Peninggalan berupa bangunan arsitektural juga mulai banyak terungkap. Membuktikan bahwa Kediri juga kaya akan peninggalan bangunan bersejarah dari era Kerajaan.

Sejarawan M. Dwi Cahyono menungkapkan, sebaran peninggalan purbakala di Kediri cakupannya sangat luas. Banyak yang saat ini kondisinya berada di kedalaman tertentu di bawah tanah.

“Bisa satu meter, dua meter, bahkan ada yang lebih dari tiga meter di bawah tanah,” ungkap pria yang juga dosen di Universitas Negeri Malang ini.

Ia menguatkan bukti itu dengan temuan-temuan pada abad 20 hingga 21. Yang pertama adalah ekskavasi Candi Gurah. Ia menilai bahwa situs yang saat ini sudah menjadi permukiman warga itu masih satu kawasan dengan Situs Tondowongso yang ditemukan pada awal abad 21. Yakni pada 2007 silam. Serangkaian dengan temuan lainnya di wilayah barat Gunung Kelud tersebut juga menjadi penguat bahwa Kediri kaya akan bangunan arsitektural.

“Paling tidak sejak temuan situs Tondowongso, Semen, dan Situs Adan-Adan. Diawali juga dari temuan Candi Gurah,” ungkapnya.

Dari kawasan tengah Kabupaten Kediri tersebut, Dwi juga menarik sebaran peninggalannya ke wilayah timur dan utara. Termasuk temuan sebelumnya di lereng utara Kelud pada 1980. Bukti sejarah itu juga semakin kuat setelah mendapat jejak berupa Petirtaan Jatimulyo atau Candi Kepung.

“Jika digabungkan, temuan-temuan bangunan ini membentang dari Gurah, Pagu, Pare, Puncu, Kepung, hingga Kandangan. Satu per satu mulai tersingkap,” ungkapnya.

Dwi memastikan bukti peninggalan itu sangat luar biasa. Yang bisa digunakan untuk mengungkap sejarah peradaban di Kediri dari berbagai zaman. Paling tidak mulai dari abad 9, 10, hingga abad 14 sudah didapati jejak-jejak tekstual atau epigrafis berupa prasasti. Dan jumlahnya tak hanya satu dua saja. Total lebih dari lima prasasti yang ada di sub-area ini.

“Keberadaan prasasti ini bisa jadi informasi awal tentang adanya jejak-jejak peradaban,” jelasnya.

Kemungkinan masih banyak prasasti yang saat ini terpendam. Prasasti-prasasti itu, kata Dwi, bisa mengungkapkan jejak permukiman dan adanya aktivitas sosial budaya sejak dulu. “Paling tidak dilihat dari angka tahunnya, aktivitas di kawasan ini dimulai dari era pra-Sindok atau Mataram Kuno hingga Majapahit,” tandasnya. (din/fud/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia