Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Ikhtiar (Sa’i)

29 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Ikhtiar (Sa’i)

(Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

“Allah mewajibkan manusia membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan agar usahanya lebih kuat dan berguna.”

 

Oleh : Badrus

Sa’i adalah salah satu rukun ibadah haji yang memerlukan tenaga ekstra kuat. Sa’i merupakan perjalanan jamaah haji mulai dari bukit Shafa hingga Marwa sebanyak 7 kali. Karena sangat penting pesan di dalamnya, sa’i diabadikan oleh Allah SWT sebagai bagian dari haji. Mengapa pesan sa’i perlu mendapat perhatian khusus bagi umat Islam saat ini? Tulisan ini akan memberikan gambaran sekilas kronologi terjadinya sa’i dan pentingnya perjuangan hidup kini dan masa yang akan datang.

Munculnya ibadah sa’i tidak terlepas dari keluarga Nabi Ibrahim AS. Berdasarkan riwayat, drama kehidupan  Nabi Ibrahim penuh tantangan dan keberanian dalam memperjuangkan Islam saat itu. Di sisi lain, kehidupan beliau juga mengalami godaan iman yang begitu dahsyat karena kecantikan istrinya. Diceritakan, pada saat Nabi Ibrahim menerima risalah kenabian dan diperintahkan menyampaikan risalah itu kepada kaumnya, tidak satu pun masyarakat Babilonia yang mau menerima ajakan Ibrahim, kecuali istrinya Sarah dan Luth. Karena itu Ibrahim dan Sarah memutuskan untuk hijrah ke Hauran, sebuah daerah dekat Syam.

Sesuai perintah Allah, di daerah Hauran Ibrahim diutus untuk mencegah segala kebatilan dan kemungkaran. Saat itu Mesir dipimpin oleh raja Amr bin Amru Al-Qais bin Mailun. Seorang raja  yang suka hidup mewah dan dhalim. Selain kafir raja itu mempunyai kebiasaan buruk, yakni setiap mendengar ada wanita cantik ia selalu berambisi memilikinya. Sekalipun sudah mempunyai suami. Namun sisi unik raja ini adalah ketika si cantik saudara orang yang dikenalnya maka ia tidak mau mengganggunya. Sarah adalah figur perempuan yang sangat cantik nan menwan saat itu. Kepribadiaannya mengagumkan bagi masyarakat.

Kedatangan Ibrahim dan istrinya di Hauran didengar oleh pengawal kerajaan. Pengawal itu bergegas memberitahukan perihal tersebut kepada rajanya. Lantas sang raja memanggil mereka berdua. Mengetahui gelagat panggilan raja, Ibrahim membisik pada Sarah “jangan bilang kamu istriku, tapi saudaraku”. Sesaat kemudian raja pun bertanya pada Ibrahim “siapa wanita bersamamu itu?” “Saudaraku,” jawab Ibrahim. “Nikahkan wanita itu denganku.” “Dia sudah berkeluarga” jawab Ibrahim. Mendengar jawaban terakhir Ibrahim, raja dengan penuh nafsu mengambil paksa Sarah untuk dinikahi.

Sarah di awal hidupnya dalam istana, hatinya berkecamuk. Takut akan disentuh raja yang liar. Ketika Sarah melihat raja hendak mendekatinya ia berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang ini merusak kesucianku!”. Tiba-tiba raja merasa tercekik dan menghentak-hentakkan kakinya. Sarah terkejut dan kembali berdoa. ”Ya Allah andaikan raja ini mati, tentu orang-orang menuduh bahwa aku yang membunuhnya”.

Setelah Sarah berdoa, raja itu kembali sehat seperti biasa. Namun, raja itu tetap bernafsu mendekatinya. Sarah berdoa lagi seperti semula, kemudian raja tak mampu lagi menyentuhnya. Kejadian itu berulang sampai tiga kali.

Akhirnya setelah sembuh yang ketiga, raja merasa ketakutan dan menyuruh pada pengawalnya untuk mengembalikan Sarah pada Ibrahim. Dan memberikan  dia seorang hamba sahaya (budak wanita). Budak inilah yang bernama Siti Hajar.

Kehadiran Siti Hajar di rumah Ibrahim mewarnai harapan kelurga. Karena Sarah merasa yakin dirinya tidak mungkin mempunyai anak. Lalu Sarah meminta pada Ibrahim untuk menikahi. Tak lama kemudian Siti Hajar mempunyai anak yang bernama Ismail. Entah apa alasanya, Sarah kemudian meminta Ibrahim untuk membawa keluar Siti Hajar dan anaknya dari rumahnya di Palestina.

Sangat berat hati Ibrahim melakukan itu. Tetapi atas bimbingan Allah, Ibrahim membawa anak dan istrinya keluar menelusuri padang pasir dan perbukitan yang panas. Sampailah ke lembah Bakkah, yang sekarang dikenal kota Makkah.

Di bukit itu Ibrahim membuat tenda seadanya untuk berteduh. Lalu Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di perbukitan yang panas dan kembali ke Paleistina. Dalam hati Ibrahim sebenarnya menangis kasihan pada darah dagingnya. Seakan menelantarkan sendirian tanpa suami. Karena dikehendaki Allah, Ibrahim tetap berjalan meninggalkannya. Setelah beberapa hari, Siti Hajar kehabisan makanan dan minuman. Ismail kecil pun tak henti-hentinya menangis karena kehausan.

Kecemasan Siti Hajar semakin memuncak, maka meninggalkan Ismail begitu saja di hamparan perbukitan. Berlari ke sana kemari barangkali ada orang lewat atau apa saja yang dapat menolong diri dan anaknya dari kelaparan. Bahkan berlari bolak-balik dari bukit Shafa ke bukit Marwa sampai tujuh kali. Sebegitu kuat usaha atau ikhtiar (sa’i) dan harapan Siti Hajar untuk selamat, akhirnya Allah memberikan rizki. Sumber air memancar dari tanah di bawah kaki Ismail, yang kemudain disebut zamzam.

Cerita Siti Hajar di atas, memberikan pelajaran (ibrah) bagi kita bahwa ikhtiar yang kuat dan penuh harap, Allah tidak akan menyia-nyiakan usahanya. Masih banyak teman-teman muslim kita yang masih meragukan sebuah ikhtiar. Mereka masih menganggap bahwa Tuhan telah memberikan garis nasib yang tidak dapat diubah oleh manusia sendiri. Ketika mereka mengalami kelambanan dalam hal kesejahteraan. Mereka mangatakan, bahwa Allah memang menghendaki demikian. Seakan mereka tak berdaya untuk mengubah nasibnya sendiri.

Prinsip hidup seperti ini tidak saja menghalangi gerak-gerik mereka dalam mengembangkan diri mereka. Akan tetapi lebih dari itu akan menghambat pembaruan (inovasi) yang seharusnya mereka lakukan untuk kesejahteraan umat manusia. Memang ada ayat Alquran yang mengatakan bahwa ”Apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’d: 13).

Namun perlu dipahami bahwa potongan ayat Ar-Ra’d: 13 itu, hanya tambahan dari firman Allah sebelumnya, yang berbunyi “sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (nasib) suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri(QS. Ar-Ra’d: 13). Bahkan Allah menegaskan lagi di ayat lain “dan bahwasanya seorang  manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (illa ma sa’a) (QS. An-Najm: 53). Masih banyak peringatan Allah yang menyatakan bahwa manusia tergantung apa yang diusahakan. Bahkan termasuk apakah mereka akan mendapat pahala atau siksa adalah tergantung apa yang mereka kerjakan atau usahakan.

Cerita Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya sendirian harus berjuang hidup di padang pasir dan perbukitan yang panas, bukan tanpa maksud. Itu adalah gambaran yang mesti dipahami, bahwa hidup adalah perjuangan. Karena itu untuk memperkuat usaha manusia, Allah mewajibkan manusia untuk membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan (mind on and hand on) agar usahanya lebih kuat dan berguna.

Dulu orang bisa makan ketika ia menanam, atau kerja kemudian mendapat upah untuk membeli makanan. Kini berbeda. Abad 21 ini menuntut manusia  berjuang menguasai skill online. Di sana manusia, dengan kreativitasnya dapat menjual soft ware atau aplikasi untuk mendapatkan uang. Karena itu sekali lagi, ikhtiar menguasai pengetahuan dan skil adalah sebuah keniscayaan. Semoga sukses. (Penulis adalah dosen Program Pascasarjana Tribakti Lirboyo Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia