Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Forum Anak Nganjuk Jembatan Aspirasi

Manfaatkan WA Bisnis untuk Tempat Curhat dan Konsultasi

29 Juli 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

BERBAUR: Pengurus Fantasi berfoto bersama dengan anak-anak rentan pada perayaan hari anak nasional (HAN) di Dinsos PPPA Nganjuk, Kamis (23/7) lalu.

BERBAUR: Pengurus Fantasi berfoto bersama dengan anak-anak rentan pada perayaan hari anak nasional (HAN) di Dinsos PPPA Nganjuk, Kamis (23/7) lalu. (andhika attar- radarkediri.id)

Share this          

Isu perundungan masih menjadi momok bagi anak. Forum anak Nganjuk jembatan aspirasi (Fantasi) berusaha memeranginya. Para pengurus yang juga berstatus pelajar itu melakukan edukasi pada sesama pelajar.

ANDHIKA ATTAR. NGANJUK, JP Radar Nganjuk.

Puluhan anak bermain dengan riang di halaman Dinsos PPPA pada peringatan hari anak nasional (HAN), Kamis (23/7) sore. Sekilas, tak ada yang berbeda dengan anak-anak di sana. Semua terlihat ceria dan bisa saling membaur. Namun, sebagian besar anak tersebut sejatinya adalah anak golongan rentan.

Mulai dari disabilitas, anak jalanan, korban dan pelaku kekerasan seksual, dan semacamnya. Namun, ketika sudah dikumpulkan dalam satu wadah, sekat-sekat tersebut perlahan sirna. Mereka menjadi tak berjarak lagi. Selayaknya anak-anak pada umumnya, mereka saling berbagi tawa. Tanpa beban.

Di antara anak-anak itu, ada sekumpulan remaja dengan atasan berwarna putih. Sejatinya, mereka juga masih berusia anak. Yaitu di bawah umur 18 tahun. Mereka lah pengurus forum anak Nganjuk jembatan aspirasi (Fantasi).

“Forum ini dibentuk sebagai wadah untuk menjaring aspirasi dan menangkap isu yang terjadi di kalangan anak. Kebetulan, tahun ini kami fokus pada isu perundungan,” ujar Ketua Fantasi Cahyaning Rianawati kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Gadis 17 tahun itu nampak fasih membahas isu yang tengah berkembang di akar rumput. Dengan gaya bahasa khas remaja seusianya, penyampaiannya tidak terkesan menggurui. Namun, kedewasaan dapat tertangkap dalam setiap ide-idenya.

Cahya, begitu ia akrab disapa, memang aktif berkecimpung dalam kegiatan anak-anak di Kota Angin. Wajar, ia pernah terpilih menjadi Duta Anak Nganjuk 2019 lalu. Berbekal pengalaman itu, ia bersama 30 pengurus lainnya berusaha mengembangkan ide sosial. Yakni, membantu anak-anak di luar sana untuk berbagi atau bahkan mengadu. “Salah satu produk unggulan kami adalah chat sahabat anak (Casa),” imbuh pelajar kelas XII tersebut.

Casa merupakan sebuah wadah bagi anak-anak untuk sharing atau mengeluarkan unek-unek mereka. Termasuk menjadi tempat untuk mengadukan isu perundungan bahkan kekerasan fisik maupun seksual yang dialami. Platform yang digunakan adalah WhatsApp bisnis.

“Teman-teman bisa berbagi atau mengadu lewat platform Casa tersebut. Nanti akan ada konselor dari Fantasi yang menanggapinya,” sambung siswi SMAN 2 Nganjuk tersebut.

Baru diluncurkan tahun ini, Cahya mengakui keberadaan Casa sedikit-banyak dapat menjaring problema di lapangan. Meski, mayoritas penggunanya masih berkutat di Kota Nganjuk dan beberapa kecamatan lain di sekitarnya.

Selama satu bulan, rata-rata selalu ada laporan sebanyak 10-15 item. Tak hanya akan ditanggapi, namun konselor juga akan membantu memberikan solusi. Tergantung dengan tingkatan problem yang dihadapi.

Apabila dirasa masuk dalam kategori tinggi, akan disediakan psikolog untuk membantunya. Namun, hal itu kembali menjadi hak dari si pelapor. Apakah berkenan untuk dibantu dan dicarikan psikolog atau tidak. “Kerahasiaan identitas pelapor kami pastikan terjaga. Pengaduan di sini juga tidak dipungut biaya,” tegas Cahya.

Dari belasan aduan yang masuk, diketahui bahwa isu perundungan tetap menjadi yang banyak dialami anak-anak. Mulai dari perundungan terkait fisik, latar belakang ekonomi, dikucilkan, hingga ada yang mendapat kekerasan fisik. Meski, hal itu tidak banyak dijumpai dilaporkan.

Selain menanggapi aduan, Fantasi juga berperan aktif untuk memberikan advokasi terhadap korban. Seperti halnya menjembatani masalah tersebut ke dinas atau instansi terkait.

 Cahya mengamini Fantasi masih belum dapat menyentuh anak-anak hingga ke pelosok daerah di Kota Angin. Meski, mayoritas kecamatan telah menunjukkan respons positifnya. “Tantangan atau target kami ke depannya adalah untuk menghidupkan Fantasi di seluruh kecamatan-kecamatan,” sebutnya.

Claudia Dewanti, fasilitator Fantasi mengatakan, sejatinya anak-anak hanya butuh untuk didengarkan semata. Namun, lantaran tidak adanya pendengar tersebut, kebanyakan akan berceloteh di media sosial. Bahkan, yang dikhawatirkan, mereka bercerita ke orang yang salah.

“Di sinilah Casa hadir untuk memberikan wadah bagi anak-anak di Nganjuk. Daripada curhat di media sosial yang tanpa ada solusinya, lebih baik memanfaatkan Casa,” ungkap perempuan 24 tahun tersebut.

Dalam Fantasi, ada tiga divisi yang menjadi motor penggerak. Diisi oleh 31 anak yang dirasa layak untuk mengisi posisi tersebut. Untuk bisa menjadi pengurus Fantasi harus lolos serangkaian tes dan wawancara untuk proses rekrutmen tersebut.

Menjadi agen perubahan dan membawa anak-anak menjadi pelopor pembangunan memang bukanlah hal mudah. Namun, itu semua bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia