Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (16)

29 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

IRIGASI : Warga memanfaatkan aliran Kali Serinjing, yang menjadi sarana pengairan penting sejak era Kerajaan.

IRIGASI : Warga memanfaatkan aliran Kali Serinjing, yang menjadi sarana pengairan penting sejak era Kerajaan. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

Peran Kali Serinjing sangat vital sejak zaman dulu. Menjadi instalasi pengairan  yang penting bagi sektor pertanian dan kehidupan.

Mudahnya irigasi di timur Kabupaten Kediri tak lepas dari keberadaan Kali Serinjing. Aliran sungai ini membelah sebagian wilayah Kabupaten Kediri. Terutama di wilayah timur.

Kali Serinjing ini berhulu di Kali Konto, sungai yang berada di Kecamatan Kepung. Sedangkan ujungnya bermuara di Sungai Brantas di wilayah Kecamatan Papar. Mengular sepanjang lebih dari 35 kilometer.

Sungai buatan manusia itu terbilang istimewa. Lebarnya memang hanya 5 meter. Namun mampu ‘menghidupi’ ribuan hektare area persawahan. Mereka yang memanfaatkan sungai ini berada di 13 desa dari enam kecamatan.

Yang istimewa lagi adalah bentuk alirannya. Biasanya sungai yang terbentuk oleh alam mengalir dari Gunung Kelud sebagai hulu menuju ke Sungai Brantas. Aliran itu umumnya dari Selatan ke Utara. Sedangkan Kali Serinjing mengalir dari Timur ke Barat.

Sungai ini juga memiliki aliran sekunder yang menyebar ke berbagai desa lain di sekitarnya. Saluran ini juga bisa dimanfaatkan ketika musim kemarau. Tak ada istilah kekeringan bagi daerah di sekitar aliran sungai bersejarah ini.

Sejarah Kali Serinjing ini tak lepas dari kerja keras Bagawanta Bhari dan masyarakat Culangi kala itu. Pada masa Mataram Kuno, tokoh yang tercatat pada Prasasti Harinjing tersebut bisa membuat sudetan sungai untuk kesejahteraan rakyat di lereng utara Gunung Kelud.

Upaya itulah yang membuat dia menerima anugerah tanah sima dari raja yang berkuasa saat itu. Bukti pembuatan Kali Serinjing ini tertulis pada Prasasti Harinjing. Prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Layang Dyah Tulodhong pada 11 suklapaksa bulan Caitra tahun 726 Saka. Atau 25 Maret 804 Masehi.

Menurut Pemerhati Sejarah Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, Prasasti Harinjing ini ditemukan pada 1916. Di perkebunan kopi Onderneming Soekabumi, yang  sekarang masuk wilayah Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung. Masih di utara lereng utara Kelud. Prasasti ini menjadi bukti cerita tentang pemberian anugerah tanah bebas pajak kepada Bagawanta Bhari dan keluarganya.

“Jadi tidak hanya Bagawanta Bhari saja. Keturunannya juga mendapat anugerah serupa. Karena telah membuat mahakarya yang luar biasa dan bermanfaat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Pria yang juga Ketua Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri ini menyampaikan, hal menarik dari Kali Serinjing adalah tak seperti sungai pada umumnya di Kabupaten Kediri. Jika selama ini hulu semua sungai yang ada di timur Brantas adalah Gunung Kelud, tidak untuk Sungai Serinjing. Selama ini sungai yang menjadi sumber irigasi utama itu dikenal berasal dari sudetan Sungai Konto.

“Jadi sungai ini benar-benar sudetan. Kalau kita lihat rupa bumi, Sungai Serinjing ini memutus sungai-sungai corah (sungai alami) yang berasal dari Gunung Kelud,” kata Novi.

Ia menyebut bahwa biasanya karakter sungai itu dari daerah atas ke bawah dan menyebar. Namun untuk Serinjing, jika dilihat dari atas, karakternya adalah memotong sungai-sungai yang secara normal dari atas Gunung Kelud. Untuk itu, lanjutnya, pembuatan Kali Serinjing selain sebagai sarana irigasi utama zaman dahulu, juga disinyalir sebagai pemutus aliran lahar jika Gunung Kelud meletus.

Mahakarya itulah yang masih bisa dimanfaatkan hingga kini. Karya yang luar biasa penting, bisa mengairi sebagian besar persawahan di Kabupaten Kediri. Tak hanya sebagai pengairan saja, juga sebagai sarana penanggulangan banjir. (din/fud/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia