Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (15)

Antara Berkah dan Bencana

28 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

SUBUR : Lereng utara Gunung Kelud yang dari dulu terkenal sebagai kawasan agraris.

SUBUR : Lereng utara Gunung Kelud yang dari dulu terkenal sebagai kawasan agraris. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK

SUBUR : Lereng utara Gunung Kelud yang dari dulu terkenal sebagai kawasan agraris.

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (15)

Antara Berkah dan Bencana

Banyaknya peninggalan bersejarah di lereng utara Kelud tak lepas dari kondisi tanahnya yang subur. Kondisi itu sudah berlaku sejak zaman kerajaan. Hidup di tengah ancaman bencana dan kemakmuran.

Letusan periodik Gunung Kelud sering menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Beberapa letusan tercatat menjadi salah satu yang terdahsyat dari masa ke masa. Beberapa kali juga memorak-porandakan kehidupan yang ada di sekitar gunung yang dianggap suci ini.

Meski demikian, banyak ahli mengungkapkan bahwa lereng Kelud menjadi berkah tersendiri bagi penduduk yang ada di sana. Baik penduduk saat ini juga penduduk saat era kerajaan. Tak ayal jika di kawasan tersebut banyak ditemukan peninggalan bersejarah.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Andi Muhammad Said menyebut bahwa kawasan ini banyak bangunan bersejarah. Baik yang sudah ditemukan maupun yang masih terpendam. Dipastikan banyak permukiman sejak zaman dulu.

“Pasti banyak pemukimnya. Ya, hal itu karena daerahnya subur. Sering terkena paparan hujan abu vulkanik,” ujarnya.

Bukti bahwa lokasi ini sudah ditempati adalah banyaknya penganugerahan tanah sima atau perdikan. Sumbernya dari prasasti-prasasti yang telah ditemukan.

“Ada permukiman kuno dan rata-rata bukan masyarakat kalangan bawah,” ungkapnya.

Apalagi, saat upacara penetapan sima itu juga mengundang warga desa-desa perbatasan atau wanua tepisiring. Cerita tentang itu juga ditulis dalam prasasti tersebut.

Sejarawan yang juga dosen sejarah Universitas Negeri Malang (UM) M. Dwi Cahyono menyebut bahwa di era kuno daerah ini sudah ada kumpulan desa yang berdekatan. Sejak masa Mataram Kuno, Kediri, hingga Majapahit. Dan itu tertulis pada prasasti-prasasti.

Keberadaan desa-desa itu, kata Dwi, adalah karena kawasan ini merupakan kawasan agraris. “Termasuk kebaradaan sungai-sungai tidak bisa dilepaskan dengan kepentingan agraris. Pada masa lalu, meskipun daerah ini rawan terkena erupsi Gunung Kelud, tapi karena tempat yang subur maka mereka ya enjoy saja tinggal di sini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Dwi mengungkapkan, di satu sisi Kelud merupakan berkah kesuburan. Nmun di sisi lain adalah bencana.

“Nah karena ada dua fakta itu orang tidak menjauh dari Kelud. Ada paparan peristiwa vulkanik itu hanya cobaan sementara. Meskipun mengungsi pasti kembali lagi karena kesuburannya,” ujarnya.

Dan tempat ini merupakan tempat yang terpilih untuk permukiman. Selain potensi air, juga potensi kesuburan. Walaupun terbilang rawan karena secara periodik terkena paparan Kelud yang juga telah memendam peradaban kala itu. (din/fud/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia