Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
catatan

--Oranye--

19 Juli 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

--Oranye--

Share this          

Kabar itu mengejutkan warga Kota Kediri. Ledakan kasus di saat lama tak ada yang terkonfirmasi. Mengentak saat banyak rencana indah green zone sudah di depan mata. Mulai tempat wisata dibuka, tak lagi ada jam malam untuk kafe dan rumah makan, bioskop sudah bisa diputar, sekolah pun bisa tatap muka, dan tak lagi ada penutupan jalan. Ternyata alih-alih ke green zone, yang ada adalah ancaman kembali masuk ke zona oranye. Seperti halnya wilayah kabupaten yang mengelilingi Kota Kediri.

 Ya, Kabupaten Kediri sudah cukup lama bertahan di zona oranye. Kasus tak juga mereda. Puncaknya, dalam sehari, ada 15 kasus yang terkonfirmasi. Bahkan, jika tak juga turun dan grafik yang terus meningkat, bukan tak mungkin warna oranye itu akan kembali masuk ke red zone.

Meski angka tinggi itu membuat kaget, tapi lebih banyak yang tidak lagi peduli. Warna oranye yang menandai wilayah Kabupaten Kediri dan kuning yang masih dimiliki Kota Kediri seperti hanya jadi warna-warna biasa yang tak lagi membuat takut.

Cek saja pagi ini di sekitar pusat wisata Simpang Lima Gumul, tak hanya banyak yang nekat berolahraga dan menikmati keindahan pagi di SLG, tetapi juga para pedagang yang memenuhi jalan raya sekeliling monumen kebanggaan Kabupaten Kediri itu. Jalur yang bukan lagi menjadi jangkauan Satpol PP.

Di kota, berkelilinglah saat malam hari. Cek saja, angkringan mana yang sepi? Nyaris tak ada. Semuanya dipenuhi anak muda. Berkelompok, mengobrol, dan bercanda. Dan yang membuat geleng-geleng kepala, sedikit yang menggunakan masker.

Jika di jalanan padat, berbeda lagi saat memasuki mall. Tak seramai saat awal-awal mall kembali dibuka. Kesulitan ekonomi yang dialami banyak masyarakat rupanya membuat mereka berpikir keras dalam menerapkan prioritas penggunaan uang.  Seorang pengelola mall mengaku harus benar-benar harus berpikir memutar dana operasional. Dalam sebulan, harus mengeluarkan minimal ratusan juta hanya untuk listrik. Sementara pengunjung dan yang mau berbelanja turun drastis. Sementara mereka harus tetap membayar karyawan. Yang ada akhirnya, sebagian besar AC dan lampu harus dimatikan untuk mengurangi dana operasional. Jadi, jangan heran kalau saat ini ada yang ke mal dan merasa gerah atau tak nyaman.

Meski sulit, masyarakat yang ‘bandel’ memang akhirnya membuat perekonomian mulai bergerak. Tapi, seperti buah simalakama, kasus tak juga turun. Menunjukkan masyarakat masih sulit menerapkan protokol kesehatan saat pandemi. Sulit beradaptasi di era AKB. Istilah baru dari new normal. Tambahan angka terkonfirmasi positif tak lagi membuat gerah warga. Hanya cukup heboh saat ada tetangga ternyata ada yang terkena. Setelah itu, ya tetap saja beraktivitas biasa.

Entah kondisi ini sampai kapan.. Yang pasti, mau tak mau kehidupan harus terus berjalan. Entah itu hitam, merah, oranye ataupun kuning, masyarakat memang harus tetap beraktivitas. Kreativitas tinggi pun diperlukan. Mereka yang bergerak di bidang entertainment pun tak bisa terus menyalahkan kondisi untuk tidak mampu berkreasi. Tapi, terus mencari upaya agar tetap bertahan. Mengubah cara beraktivitas menjadi kebiasaan baru selama pandemi. Tetap menghibur tanpa harus mengumpulkan massa.

Mereka yang bergerak di bidang makanan pun harus berpikir keras agar tetap bertahan dengan mengedepankan protokol kesehatan. Rela saat harus mengurangi kuota hingga 50 persen agar konsumen pun nyaman berada di dalam rumah makan. Membuat kemasan yang aman sehingga makanan tidak terkontaminasi. Membuat terobosan dengan membuat kemasan take away agar tidak perlu lagi berkumpul di rumah makan dan banyak terobosan lainnya.

Termasuk mereka  yang bergerak di bidang-bidang lainnya. Semuanya menyesuaikan. Sepertinya tak perlu lagi menyalahkan orang lain. Menjaga diri agar tidak tertular, menulari orang lain dan tetap sehat menjadi satu-satunya upaya terbaik selama pandemi ini. Saling membantu yang berkesusahan dan menjaga diri tetap waras sehingga mampu melewati kesulitan selama pandemi ini dengan baik-baik saja.  (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia