Sabtu, 19 Sep 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Melihat Latihan Tim Gabungan Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Dianggap Kompeten, Polisi pun Jadi Modin

16 Juli 2020, 13: 15: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

SIMULASI: Tim gabungan pemulasaraan jenazah Covid-19 berlatih memandikan hingga salat jenazah di halaman Polres Nganjuk kemarin.

SIMULASI: Tim gabungan pemulasaraan jenazah Covid-19 berlatih memandikan hingga salat jenazah di halaman Polres Nganjuk kemarin. (andhika attar- radarkediri.id)

Share this          

Angka kasus Covid-19 di Nganjuk masih terus naik. Untuk memastikan penanganan bisa optimal, Polres Nganjuk dan Kodim 0810 membentuk tim gabungan untuk membantu pemulasaraan jenazah pasien positif korona.

ANDHIKA ATTAR. NGANJUK,      JP Radar Nganjuk.

Pemandangan di halaman tengah Mapolres Nganjuk mendadak berubah kemarin siang. Sepuluh orang yang memakai hazmat berwarna putih serta alat pelindung diri (APD) secara lengkap, bersiaga di sana. 

Sepintas, sepuluh pria berbadan tinggi besar itu terlihat seperti hendak mengevakuasi pasien Covid-19 dari Polres Nganjuk. Anggapan itu langsung ditepis setelah mereka mengeluarkan peti mayat dari dalam ambulans. Lengkap dengan kantong berwarna kuning menyala.

Kontan saja, kehadiran mereka jadi perhatian anggota Polres Nganjuk dan para tamu yang ada di sana. Bahkan, Kapolres Nganjuk AKBP Handono Subiakto dan Wakapolres Kompol Bagus Tri juga berada tak jauh dari lokasi. Pandangan mereka tertuju pada aktivitas sepuluh orang tersebut.

“Kami sedang melakukan simulasi dan latihan menangani jenazah Covid-19,” ujar Ketua Tim Gabungan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Nganjuk AKP Sumadi kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin.

Ya. Adegan tersebut hanyalah simulasi. Latihan. Polres Nganjuk kemarin dalam kondisi aman terkendali. Tidak ada anggota korps baju cokelat yang terpapar Covid-19.

Adegan tersebut hanyalah bentuk persiapan. Jika nantinya memang dibutuhkan untuk proses pemula­saraan jenazah yang teridentifikasi  positif Covid-19, tenaga Polri dan TNI sudah siap.

Tak hanya pemulasaraan saja. Namun, seluruh prosesi pemaka­man mulai dari awal hingga akhir juga menjadi materi latihan tersebut. Seperti halnya meman­dikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah pasien positif tersebut.

“Tim ini dibentuk sebagai langkah antisipasi apabila tim pemulasaraan di rumah sakit kewalahan atau kekurangan personel. Kalau ada panggilan permintaan bantuan kami akan berangkat,” lanjut Sumadi.

Total, ada sepuluh orang yang tergabung dalam tim tersebut. Delapan orang merupakan anggota Polres Nganjuk. Sedang­kan dua orang lainnya anggota Kodim 0810/Nganjuk.

Sumadi mengaku, tim tersebut ada lantaran angka kasus Covid-19 di Jawa Timur secara keseluruhan masih tergolong tinggi. Begitu pula yang ada di Kota Angin yang termasuk zona oranye.

Alhasil, terbentuk lah tim gabungan tersebut. Sumadi mengatakan delapan anggota Polres Nganjuk yang terlibat sengaja dipilih berdasarkan keahliannya di tiap satuan. “Ada yang ahli agama, ada yang ahli di bidang kesehatan,” timpal perwira dengan tiga balok emas tersebut. 

Dengan keahlian tersebut, ada anggota yang ditugaskan memim­pin salat jenazah. Ada pula yang didapuk menjadi modin. “Mereka dinilai mampu mengerjakan tugas itu,” beber Sumadi.

Pada simulasi tersebut, ber­bagai tahapan dalam pemu­lasaraan jenazah dilakukan. Mulai dari hal yang teknis hingga yang umum. Dalam pelatihan, Paurkes Polres Nganjuk Iptu Hamid Soleh langsung yang memberikan materi.

Perwira dengan dua balok emas itu mempraktikkan proses pemu­lasaraan dengan menggunakan media boneka. Beralaskan meja, Hamid menjelaskan secara detail teori yang harus dilakukan. Tim diminta langsung praktik saat itu juga.

Secara prinsip dan teori, pemu­la­saraan jenazah tidaklah jauh berbeda dengan pemulasaraan jenazah pada umumnya. “Sama saja sebenarnya. Namun, kalau untuk pasien positif Covid-19 harus dilengkapi dengan protokol kesehatan dan memakai APD lengkap,” sambungnya.

Selain itu, yang terasa cukup berbeda adalah penggunaan disinfektan. Alat penyemprot itu jadi bagian penting dalam pemulasaraan jenazah ini. Hampir di setiap tahapan yang dilakukan tidak boleh lupa untuk menyemprotkan disinfektan. Mulai dari kantong jenazah, peti mayat, dan sebagainya.

“Protokol kesehatan dan kesela­matan anggota harus diutamakan di sini,” tegas polisi yang pernah menjabat Kasatresnarkoba Polres Nganjuk tersebut. Oleh karena itu, ia sangat tegas dan ketat terhadap penggunaan APD dan segala protokol kesehatan lainnya.

Sumadi mengakui, mengenakan APD sangat lah menguras tenaga. Terlebih ketika digunakan di tengah teriknya matahari sembari beraktivitas keras. Rasa gerah dan panas sudah tak bisa dihindari lagi.

“Panasnya itu yang paling menantang. Sumuk rasane (gerah rasanya, Red),” celetuknya sembari tertawa lepas. Bahkan, Sumadi mengibaratkan berada di dalam APD yang lengkap tersebut seperti sedang sauna.

Meski menghadapi tantangan yang berat, tugas itu harus tetap dilaksanakan. Peran serta Polri dan TNI dalam pemulasaraan jenazah ini menurut Sumadi memiliki beberapa tujuan. Salah satunya agar tidak terjadi insiden dari pihak keluarga atau masyarakat yang nekat mengambil paksa jenazah pasien positif Covid-19. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia