Senin, 03 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Ekspedisi Peradaban Terpendam : Dari Mataram Kuno hingga Majapahit

Lenyap Tertelan Dahsyatnya Lahar Kampud

13 Juli 2020, 17: 15: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Terserak di Antero Kediri

Terserak di Antero Kediri (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Kediri punya peran penting dalam sejarah Indonesia. Peradaban tinggi sudah ada sejak zaman kuno. Sayang jejaknya banyak yang terkubur lahar letusan Gunung Kampud.

Bila membicarakan tentang sejarah nasional, terutama di era kuno, era klasik, nama Kediri tak bisa dilepaskan begitu saja. Sebaliknya, wilayah yang berada di lereng Gunung Kelud ini punya peran yang sangat vital. Merupakan bagian dari peradaban-peradaban besar di nusantara.

Sebagai penguat, temuan-temuan bersejarah bertebaran. Baik itu di wilayah Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri. Bahkan, ada penelitian yang mengindikasikan ada keterkaitan antara penemuan-penemuan itu.

Menariknya pula, berbagai temuan itu berasal dari periodesasi yang berbeda. Mulai Mataram Kuno, Kadiri, hingga Majapahit. Menjadi bukti bahwa wilayah ini selalu punya peran penting di berbagai era kerajaan besar.

Semua bukti itu bisa dijumpai di seluruh kecamatan. Sebagian situs-situs bisa ditemukan di permukaan. Sebagian yang lain harus digali karena tertimbun di kedalaman bumi. Dengan kata lain, di bawah tanah Kediri yang kita injak ini sangat mungkin ada bukti-bukti peradaban yang terpendam. Ibaratnya seperti Pompei yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.

Menganalogikan antara peradaban terpendam di Kediri dengan tragedi hancurnya Pompei ada benarnya. Sebab, peradaban besar di masa kuno itu juga terkubur akibat letusan gunung. Yaitu letusan Gunung Kampud, yang pada masa kini disebut sebagai Gunung Kelud.

Sejauh ini, benda kuno yang ditemukan juga bermacam-macam. Mulai dari prasasti, arca dewa, struktur bata, candi, petirtaan, dan serpihan benda kuno  yang diduga peralatan kuno.

Ditemukan pula tata kelola kehidupan masyarakat di zaman kuno. Seperti sistem pengairan yang menjadi penopang pertanian. Pada masa itu pertanian merupakan penopang utama tata kehidupan masyarakat. Semuanya melengkapi bukti sejarah kejayaan peradaban kala itu.

Terpendamnya bukti-bukti sejarah itu tak terlepas dari aktivitas vulkanik Gunung Kelud. Aliran laharnya bisa menyapu hingga Sungai Brantas. Membuat semua bangunan yang dilewati hancur. Hanya menyisakan beberapa bagian saja.

Fakta seperti itu diungkapkan oleh arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito. Menurut sang arkeolog, akibat letusan Gunung Kelud itu banyak bangunan masa kerajaan yang tertimbun.

“Ada yang (tertimbun) hanya separo. Ada juga yang tertimbun penuh. Dan itu yang belum banyak diketahui. Terutama di lereng sisi utara Gunung Kelud,” ungkapnya.

Nugroho menambahkan, peradaban di wilayah Kediri tak lepas dari keberadaan Gunung Kelud. Gunung itu menjadi satu dari tujuh gunung suci di Jawa. Sebagai gunung suci, gunung yang dulu disebut Kampud ini berperan penting dalam keyakinan masyarakat zaman Hindu-Budha saat itu.

“Mereka membuat banyak sekali candi di sekitar Gunung Kelud secara merata. Mulai dari selatan, timur utara, dan barat. Hampir semuanya dikelilingi bangunan suci,” ujarnya.

Pendirian tempat suci itu juga punya tujuan. Agar wilayah sekitar Kelud terhindar dari bencana. Kalaupun ada bencana, pengharapan lainnya adalah tetap diberi kemakmuran.

Cerita tentang Gunung Kelud, lanjut Nugroho, ada di dalam Kitab Negarakertagama. “Artinya bahwa Gunung Kelud atau Kampud itu dianggap sebagai salah satu dari 7 gunung suci di Pulau Jawa,” jelasnya.

Terkait peninggalan bersejarah itu, wujudnya saat ini bervariasi. Ada yang dalam kondisi baik dan  berada di permukaan tanah. Ada juga yang terpendam di kedalaman tanah.

Bahkan, ada yang terpendam lebih dari lima meter. Seperti temuan Candi Kepung. Peninggalan berupa petirtaan kuno ini terpendam di kedalaman 7 meter. Setelah di-ekskavasi pada 1980-an, candi yang ada di Dusun Jatimulyo, Desa Kepung yang dekat dengan aliran Kali Serinjing itu ditimbun lagi. Beberapa arca dan benda lainnya diamankan di Museum Trowulan.

Candi atau Petirtaan Kepung ini salah satu penemuan istimewa. Strukturnya terpendam akibat letusan Gunung Kelud. Dari pengamatan terhadap stratigrafi yang menutup situs Jatimulyo yang dilakukan oleh Tony Djubiantono pada 1984, sedimen yang menutup situs ini terdiri dari empat lapisan. Yang merupakan satuan batuan vulkanik.

Demikian pula beberapa temuan lain. Rata-rata terpendam dengan dugaan akibat material vulkanik Gunung Kelud. Seperti kompleks Candi Tondowongso di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, kemudian  Situs Adan-adan dan Candi Dorok di Desa Manggis, Kecamatan Puncu.

Yang terabaru, penemuan struktur yang diduga gerbang ke kawasan tempat peribadatan di aliran lahar Kelud di Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Termasuk temuan di Watu Tulis, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung yang disinyalir terpendam akibat aktivitas gunung berapi yang terakhir meletus pada 2014 tersebut.

Sementara bukti peradaban tertua di wilayah Kediri adalah penemuan Prasasti Harinjing dari Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung. Prasasti itu dikeluarkan oleh Rakai Layang Dyah Tulodhong, Raja Mataram Kuno pada 804 Masehi.

“Dan Harinjing ini adalah prasasti pertama di Indonesia yang ditemukan dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno,” ujar Kasi Museum dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Eko Priyatno.

Prasasti dengan bahasa Jawa Kuno menjadi sesuatu yang baru masa itu. Sebelumnya pada masa yang sama, rata-rata penulisan prasasti saat itu menggunakan aksara Jawa kuno dengan bahasa sansekerta.

“Jadi (bahasa) Jawa Kuno muncul muncul ya dari Prasasti Harinjing ini,” ungkapnya.

Sejauh ini Eko menyebut bahwa cagar budaya di Kabupaten Kediri yang usianya paling tua ada di wilayah timur. Seperti Kecamatan Puncu, Kepung, dan Kandangan. “Di kawasan ini penemuan objek cagar budaya, kalau kami lihat rata-rata memang lebih tua secara periodisasinya,” jelas Eko.

Termasuk cagar budaya yang ada di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, yakni Candi Sapto. Bahan yang digunakan juga hampir sama dengan cagar budaya di kawasan timur Kabupaten Kediri. “Dulu memang satu kesatuan wilayah, hanya saja saat ini terpisah secara administrasi,” tandasnya. Termasuk Prasasti Hantang yang pernah ditemukan di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang juga termasuk prasasti tua yang dibuat di era Raja Jayabaya.

Terserak di Antero Kediri

Puluhan peninggalan sejarah atau yang masih berstatus objek diduga cagar budaya (ODCB) tersebar di antero Kediri. Berikut ini sebagian di antaranya:

Candi Surowono :

-       Desa Canggu, Kecamatan Badas

-       Dibangun 1400 Masehi, Kerajaan Majapahit

-       Sebagai pendarmaan Bhre Wengker

Prasasti Harinjing :

-       Ditemukan di Perkebunan Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung

-       Dibangun Raja Mataram Kuno Rakai Layang Dyah Tulodhong, 804 Masehi

-       Penghargaan pemberian tanah perdikan atas jasa pembuatan Sungai Serinjing untuk mencegah banjir dan peningkatan hasil pertanian

Kawasan Watu Tulis Brumbung :

-       Dekat Kali Ringin Putih Desa Brumbung, Kecamatan Kepung

-       Raja Sri Bameswara, Kerajaan Kadiri hingga Raja Tribuawana Tunggadewi Raja Majapahit

-       Ditemukan sejumlah artefak, struktur bata, dan arung kuno, termasuk bagian-bagian pelengkap candid an petirtaan.

Situs Adan-adan :

-       Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah.

-       Peninggalan Kerajaan Kadiri, kepercayaan Budha.

-       Berada di kedalaman 3 meter, terdapat struktur bangunan candi lengkap dengan dwarapala, makara, dan arca Budha.

Situs Tondowongso :

-       Desa Gayam, dan Desa Adan-adan Kecamatan Gurah.

-       Dibangun 1006 M (dari analisis karbon) oleh Raja Darmawangsa Teguh.

-       Kedalaman 1-3 meter, tertimbun material vulkanik Kelud.

-       Kompleks peribadatan dan permukiman kuno.

Candi Kepung :

-       Dusun Jatimulyo, Desa/Kecamatan Kepung.

-       Berada di kedalaman 5-7 meter di bawah permukaan tanah.

-       Petirtaan Kuno yang saat ini sudah ditimbun lagi sejak 1990-an

Candi Klotok :

-       Kelurahan Pojok, Kota Kediri.

-       Terbuat dari bata merah, disinyalir dibangun masa Kadiri.

-       Kompleks peribadatan yang masih satu kawasan dengan Selomangleng

Arca Totokkerot :

-       Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu.

-       Peninggalan Kerajaan Kadiri akhir (dilihat dari aksesori tengkorak yang dominan)

-       Dwarapala penjaga pintu gerbang daerah penting kerajaan

Prasasti Lusem/Puhsarang :

-       Desa Puhsarang, Kecamatan Semen.

-       Dibangun 1012 M, aksara Kadiri Kwadrat dari Masa Kadiri.

-       Membahas tentang pelurusan patok batas jalan yang ditandai pohon beringin

(din/fud)  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia