Jumat, 07 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Kembang Kempis Koperasi di Tengah Pandemi

Banyak Kredit Macet di Semua Tempat

12 Juli 2020, 15: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

DALAM MASA SULIT : Salah satu koperasi di Kabupaten Nganjuk yang saat ini mengalami kesulitan di tengah pandemi.

DALAM MASA SULIT : Salah satu koperasi di Kabupaten Nganjuk yang saat ini mengalami kesulitan di tengah pandemi. (rekian- radarkediri.id)

Share this          

Usaha koperasi tahun ini memasuki masa sulit. Salah satu pemicunya adalah pandemi korona yang terjadi sejak Maret lalu. Volume usahanya turun sampai 80 persen.

Sejak bu­lan April, ham­­pir se­mua bi­dang usaha ter­dampak pan­demi vi­rus korona. Tak terkecuali koperasi. Di masa pendemi, ada ratusan koperasi yang harus merasakan penurunan volu­me usaha. Angka penurunannya mencapai 80 persen. Meski begitu, tidak ada koperasi kolaps. Bahkan mam­pu bertahan tanpa ada karyawan yang dirumahkan atau kena pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Kondisi tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Mikro (Disnakerkop UM) Kabupaten Nganjuk Agus Frihannedy. Agus mengatakan, jumlah karyawan yang bekerja di koperasi se-Kabupaten Nganjuk ada ribuan orang dengan asumsi rata-rata satu koperasi punya lima sampai sepuluh karyawan. “Di Nganjuk itu ada 877 koperasi aktif,” katanya. Bila jumlah minimal satu koperasi punya lima karyawan, artinya ada 4.385 orang yang tetap bekerja meski terdampak pandemi. 

Yang paling parah terdampak wabah virus asal Wuhan, Tiongkok itu adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Serba Usaha (KSU). “Jumlahnya ada 75 koperasi,” ucap Agus. Selama pandemi, banyak pinjaman yang macet lantaran terjadi penolakan ketika dilakukan penagihan. Peristiwa itu merata hampir di semua tempat. 

Padahal menurut Agus, kebijakan untuk kelonggaran untuk penundaan pembayaran tersebut hanya berlaku untuk warga yang lokasinya rumahnya berada di titik zona merah atau anggota yang terdampak langsung. “Memang ada kebijakan dari pusat terkait penundaan pembayaran pinjaman dari lembaga keuangan, tapi itu di-gebyah uyah, harusnya tidak seperti itu,” ucap Agus. 

Penundaan tersebut mestinya berlaku khusus bagi anggota yang terdampak langsung atau satu tempat yang sudah masuk zona merah. Sementara untuk ratusan koperasi lainnya yang tidak terlalu terdampak seperti koperasi wanita (kopwan) yang berada di desa, Koperasi Unit Desa (KUD), koperasi pegawai Republik Indonesia (KPRI) dan koperasi karyawan. 

Seperti Kopwan yang jumlahnya ada 284 yang sehat hanya 225 koperasi. “Koperasi sehat itu artinya yang ada Rapat Anggota Tahunan (RAT), kalau total yang sehat dari 877 hanya ada 365 koperasi sisanya koperasi aktif tanpa RAT,” ungkap Agus. 

Dijelaskan Agus, kopwan bisa tetap eksis lantaran pergerakannya ada di desa dan kalaupun ada pinjaman jumlahnya tidak terlalu besar. “Modalnya kecil, sehingga tidak terlalu berdampak,” bebernya. Hal yang sama juga berlaku untuk koperasi karyawan dan pegawai negeri. Karena setiap bulan menerima gaji, koperasi tersebut paling tidak terdampak akibat wabah virus korona. 

Lantas apa langkah pemerintah untuk menyelamatkan keber­langsungan koperasi? Agus menjelaskan, dengan kondisi seperti ini, pemerintah memberikan bantuan dan stimulus guna penguatan kelangsungan usaha. Salah satunya adalah restrukturisasi kredit melalui lembaga pengelola dana bergulir (LPDB) koperasi. 

Untuk bantuan tersebut, ada dana bergulir, kemudahan akses, coverage pinjaman dan suku bunga murah. “Untuk koperasi melalui LPDB,” ucapnya. Selain itu juga diberikan relaksasi pajak. Yakni relaksasi pajak penghasilan pph, pajak penghasilan impor, pajak penghasilan dan pajak penghasilan pertambahan nilai (PPN). Upaya ini yang dilakukan pemerintah untuk penguatan keberlangsungan usaha. 

Sementara itu, salah satu upaya KSP Sentral Niaga Warujayeng yang terdampak Covid-19 terpaksa melakukan permohonan pinjman bunga diterima di depan. “Hal itu terpaksa kami lakukan untuk menutup kekurangan,” ucap Adi Basuki, Manajer KSP Sentral Niaga Warujayeng. Dengan cara itu, koperasinya yang mempekerjakan sepuluh karyawan masih bisa beroperasi hingga sekarang. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia