Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Cegah Wabah, Santri Bawa Surat Sehat

11 Juli 2020, 13: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

MULAI NORMAL: Sejumlah santri usai mengaji di Ponpes Mojosari kemarin. Aktivitas di salah satu pesantren Nganjuk itu sudah mulai berjalan meski belum semua santri kembali ke pondok setelah libur selama beberapa bulan.

MULAI NORMAL: Sejumlah santri usai mengaji di Ponpes Mojosari kemarin. Aktivitas di salah satu pesantren Nganjuk itu sudah mulai berjalan meski belum semua santri kembali ke pondok setelah libur selama beberapa bulan. (andhika attar- radarkediri.id)

Share this          

Mayoritas santri Ponpes Mojosari telah kembali lagi ke pesantren sejak Selasa (16/6) lalu. Untuk mencegah masuknya virus Covid-19, pengurus mewajibkan santri melampirkan surat kete­rangan karantina atau surat keterangan sehat dari rumah.

Pengurus Ponpes Mojosari M. Muhibin mengatakan, surat keterangan harus mendapat paraf dari orang tua dan pihak desa setempat. “Surat menerangkan bahwa santri yang bersangkutan sudah karantina mandiri. Serta tidak ada kontak dengan ODP, PDP, terlebih pasien positif korona,” jelasnya saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Surat tersebut, lanjut pria yang akrab disapa Gus Ibin ini, meru­pakan salah satu upaya Ponpes Mojosari untuk mencegah penye­baran Covid-19 di sana. “Kami melakukan sebisa yang kami bisa,” lanjutnya. Tak hanya itu, selama kepulangan ke pon­dok yang dilakukan secara ber­tahap tersebut, pihaknya juga terus mengawasi kesehatan santri-santri di sana. Apabila menderita sakit seperti batuk, pilek, dan demam yang berke­pan­jangan, pihaknya akan mempersilakan untuk melakukan karantina mandiri.

Pengurus pondok juga mem­per­ketat keluar-masuknya santri di pesantren. Santri yang saat ini sudah berada di pondok, dilarang keras keluar dari lingkungan pondok. Hal itu dilakukan untuk membatasi aktivitas santri dengan orang luar.

“Para santri interaksinya ya dengan sesama santri yang telah berada di pondok. Mereka tidak boleh berinteraksi terlebih keluar pondok,” tegas pria yang hobi otomotif tersebut.

Bahkan, para orang tua atau wali pun diminta untuk segera pulang dan meninggalkan anak-anaknya usai mengantar ke pondok. Tak hanya itu, kunjungan juga dibatasi oleh pengurus. 

Orang tua atau wali yang ber­kun­jung tidak boleh menje­nguk langsung. “Kalau memang akan mengantar barang atau sema­camnya bisa dititipkan di gerbang penjagaan,” tutur Gus Ibin.

Hampir menginjak satu bulan kembalinya santri ke pondok, pihaknya tidak langsung menga­dakan kegiatan mengaji. Ia memberi jeda satu minggu. Sete­lah lewat satu minggu, baru­lah para santri mulai rutin menga­ji selepas Dhuhur dan Maghrib.

Meski sudah banyak santri yang kembali ke pondok, menu­rut Gus Ibin awal Juli ini belum memasuki tahun ajaran baru. Karenanya, pihak pesantren juga tidak mewajibkan santri untuk kembali ke pondok Juni lalu. Namun, mayoritas santri me­mang sudah ingin kembali ke pesantren. “Santri lama mayo­ritas sudah kembali. Sekitar 660-an santri. Tinggal menyisa­kan santri yang tahun ajaran baru saja,” tandasnya.  (tar/ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia