Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Usul Luruskan Sejarah Hari Jadi Kabupaten Nganjuk

Komisi IV DPRD Akan Lakukan Kajian

09 Juli 2020, 12: 31: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Sejarah

KARYA NGANJUK: Salah satu anggota komunitas pecinta sejarah menunjukkan wayang Anjuk Ladang dengan 37 tokohnya yang merupakan karya asli Kota Angin. Mereka meminta agar wayang tersebut bisa dipatenkan. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Belasan anggota  komunitas pecinta sejarah melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPRD Nganjuk. Mereka mengusulkan agar dilakukan pelurusan sejarah Nganjuk. Termasuk usia Kabupaten Nganjuk yang menurut mereka baru berusia 91 tahun.

Seperti diungkapkan pemerhati sejarah Nganjuk Rudi Handoko. Menurutnya  ada tiga peristiwa besar di Nganjuk yang harus diluruskan. “Pertama lahirnya nama Nganjuk, kedua Nganjuk sebagai kabupaten dan ketiga boyongan,” ungkap Rudi usai berdialog dengan anggota DPRD.  

Bagi pria berkacamata ini, Nganjuk sebagai kabupaten harusnya diperingati pada 1 Januari. Dasarnya adalah Undang Undang Pemerintah Hindia Belanda No. 310/1928. Disana disebutkan Kabupaten Nganjuk sebagai daerah otonom. “Efektif 1 januari 1929. Artinya nama Kabupaten Nganjuk yang resmi itu per 1 januari 1929,” lanjutnya.

Dasar itu diperkuat dengan data yang dia miliki berupa arsip tahun 1939. Isinya, dokumen foto sebagai peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk. “Artinya Nganjuk sebagai kabupaten kini baru berusia 91 tahun. Dari Kabupaten Berbek pindak ke ibu kota Nganjuk menjadi Kabupaten Nganjuk,” beber Rudi.

Lebih jauh Rudi menjelaskan, Kabupaten Nganjuk punya sejarah sendiri. Karenanya, harus dipisahkan dengan nama Nganjuk yang berasal dari kata Anjuk Ladang. “Kalau cikal bakal nama Nganjuk tertulis di Prasasti Candi Lor bait ke lima. Dari nama sang Pemagat Pu Anjuk Ladang. Yakni pada 10 April 937 Masehi,” tandasnya. 

Dari dua hal tersebut, menurutnya ada dua peristiwa bersejarah yang perlu diluruskan. Yakni, Nganjuk sebagai kabupaten dan Nganjuk sebagai nama wilayah. Dua hal tersebut punya sejarah yang berbeda. Komunitas pecinta sejarah Nganjuk menganggap hal itu perlu diluruskan.

Termasuk sejarah Boyongan. Menurut Rudi dan teman-temannya, boyongan itu dilakukan pada 6 Juni 1880. “Dasarnya dari surat keputusan pemerintah tahun 1975. Butuh lima tahun untuk persiapan upacara boyongan yang akhirnya dilaksanakan pada 6 Juni,” urai Rudi sembari menyebut kegiatan boyongan ini baru dilaporkan setelah upacara selesai pada 8 Juni 1880.

Dari tiga peristiwa besar sejarah itulah, komunitas pecinta sejarah Nganjuk ini berharap ada kajian ulang terkait penetapan hari jadi Kabupaten Nganjuk dan ritual boyongan. “Penetapan hari jadi Kabupaten Nganjuk dan boyongan ini ditetapkan pada tahun 1993.Besar harapan kami sejarah ini diluruskan agar warga Nganjuk tidak keliru memahami sejarah daerahnya sendiri,” pintanya.

Bukan itu saja, mereka juga mengusulkan hasil karya seni yang bisa dipatenkan. Yakni wayang Anjuk Ladang dengan 37 tokoh baru dalam pewayangan.

Mendapat usulan tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Edy Santoso mengapresiasi masukan komunitas tersebut. “Usulan ini perlu dikaji lagi, bila yang disampaikan komunitas ini benar, tidak ada masalah hari jadi dan hari lahir Nganjuk ditetapkan sebagai hari besar Nganjuk,” ungkap Edy menyebut DPRD akan menyampaikan usulan tersebut ke Pemkab Nganjuk.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia