Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Upaya Produsen Tempe Bertahan di Tengah Pandemi

Pangkas Keuntungan dari Rp 400 Jadi Rp 200

09 Juli 2020, 10: 03: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Tempe

TETAP EKSIS : Amina tengah mengerjakan produksi tempe di rumahnya di Tanjungtani, Kecamatan Prambon. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Salah satu pelaku usaha mikro yang terpukul akibat pandemi korona adalah produsen tempe. Mereka sempat kelabakan karena kelangkaan bahan baku. Harga melonjak. Para produsen tersebut kemudian melakukan beragam cara agar bertahan.

REKIAN, PRAMBON, JP Radar Nganjuk

Puluhan keranjang berisi kedelai baru saja direbus berjejer di dapur belakang rumah Amina sabtu (4/7). Perempuan berusia 55 tahun asal Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon itu sibuk menyemprotkan bahan baku yang akan dijadikan tempe itu. Menggunakan selang khusus berwarna abu-abu, dia membersihkan kacang itu dengan hati-hati.

“Ini baru saja direbus,” ucap perempuan berambut ikal sebahu itu. Kepulan uap menandakan kacang itu masih sangat panas. Membersihkan kedelai yang baru saja direbus adalah tahap ketiga bagi Amini untuk memproduksi tempe.

Pekerjaan itu dia lakukan rutin setiap pagi dari pukul 05.00 sampai pukul 10.00. “Setelah dibersihkan dan dikeringkan, kedelai diberi ragi. Nanti dini hari baru disiapkan untuk dipasarkan,” ucap Amina.

Amina termasuk produsen tempe yang bertahan lama. Dia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha penjualan tempe. Usahanya memang sudah merambah di Kediri. Baik di kota maupun kabupaten. “Alhamdulillah sudah punya pelanggan tetap,” ucap nenek dua cucu ini.

Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini usahanya benar-benar diuji. Sejak pandemi virus korona menyebar pada bulan Maret lalu, usahanya sempat terganggu. Bahan bakunya impor sempat tersendat, sehingga terjadi kelangkaan. “Harga kedelai sempat tembus Rp 8.200 per kilogram,” ucapnya. Dalam sehari, dia bisa mengolah 1,5 kuintal kedelai atau sekitar 60 sak. 

Agar usahanya tetap jalan, Amina selalu mencari cara untuk tetap memproduksi. “Kami yang punya pelanggan tidak bisa menghentikan produksi,” akunya. Salah satu cara yang dia lakukan adalah dengan memangkas keuntungan. Jika biasa keuntungannya Rp 400 per potong, kini dia hanya cukup menerima Rp 200 per potong.

Jika dalam sehari Amina bisa menjual seribu potong tempe maka keuntungan idealnya dalam sehari bisa Rp 400 ribu. Sebulan bisa Rp 12 juta. Ketika diterpa korona, dia hanya bisa meraup setengahnya atau Rp 6 juta sebulan. 

“Tidak apa-apa keuntungan berkurang 50 persen, yang penting pelanggan puas. Ukuran tidak pernah dikecilkan,” ungkapnya. Tidak hanya memotong keuntungan, pemilik usaha tempe ini juga terpaksa merumahkan pekerjanya dengan alasan efisien.

Dari empat pekerja yang aktif, kini hanya ada tiga orang saja. “Satu orang terpaksa berhenti dan bekerja di tempat lain,” ucapnya. Jika usahanya kembali normal seperti biasa, Amina berencana akan memanggil lagi satu pekerjaanya agar tetap ikut membantunya memproduksi tempe.

Tidak hanya itu. Untuk jaga-jaga bila kondisi keuangan ekonomi mengalami masalah, Amina sudah menyiapkan sapi penggemukan yang dia pelihara sendiri di rumahnya. Punya enam sapi, perempuan yang rambutnya sudah memutih itu memanfaatkan limbah tempenya untuk pakan sapi. “Ini cara agar limbah tempe tetap bermanfaat. Syukur ternaknya bisa gemuk-gemuk,” bebernya.

Di bulan besar nanti, sapi-sapi yang dia gemukkan itu bisa dijual untuk menambal keuntungan tempe yang selama ini telah dipotong. “Semoga saja harganya nanti bagus,” ucapnya. Dia mengaku, penggemukan sapi itu sengaja dia lakukan untuk pemanfaatan limbah tempe sekaligus sebagai tabungan setiap tahun.

Amina selama ini tidak hanya memiliki pekerja untuk produksi tempe. Dia juga punya orang yang bertugas memasarkan tempe secara khusus menggunakan motor. Ada lima orang penjual keliling yang mengambil tempe dari rumah produksinya. “Mereka ada yang berangkat pagi dan siang,” ungkapnya. 

Khusus dua anaknya, menjual tempe di Pasar Pamenang dan Pasar Pahing. “Kalau ke pasar berangkatnya nanti jam 02.00,” kata Amina. Dia pun berharap wabah virus korona ini bisa segera berakhir. Dia bersyukur meski ketersediaan kedelai terbatas, tempe di tempatnya masih tetap bisa produksi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia