Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Daftar Belajar di Rumah

09 Juli 2020, 09: 53: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Catatan

Catatan (radarkediri.id)

Share this          

Liburan semester tahun ini terasa berbeda. Panjang. Sangat panjang. Terlalu panjang bahkan. Sebelum masa libur pun, para pelajar sudah tidak “bersekolah”. Namun, belajar di rumah masing-masing lantaran adanya pandemi korona.

Tanggal 13 Juli depan akan menjadi pembeda. Pasalnya, pemerintah telah menetapkan tanggal tersebut sebagai tahun ajaran baru. Yang mana, biasanya menjadi hari di mana para pelajar kembali menjalani rutinitasnya. Ya, bangun pagi. Mandi. Berangkat ke sekolah. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun, tahun ini sedikit berbeda. Tahun ajaran baru tersebut akan dihadapi seperti bagaimana. Pasalnya, belum ada kepastian atau ketetapan bahwa pada tanggal tersebut, siswa akan masuk sekolah lagi. Bersekolah dalam pengertian yang biasanya kita kenal selama ini tentunya.

Masuk tahun ajaran baru kali ini belum tentu berarti masuk sekolah. Seperti yang diketahui, kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka belum diputuskan kapan. Alhasil, solusi transfer ilmu kembali lagi seperti yang dilakukan beberapa bulan terakhir. Yaitu belajar secara daring.

Yang agak mengganjal, kita tahu penerimaan peserta didik baru (PPDB) telah berjalan. Yang kebetulan, seperti tahun lalu, masih menggunakan sistem zonasi atau jarak. Namun, ironisnya, alih-alih mendaftar agar bisa kembali bersekolah, yang ada tetap belajar di rumah.

Jika mengingat zaman dahulu, mendengar istilah “belajar di rumah” rasanya gembira. Banyak sedapnya, sebenarnya. Yakin, mayoritas pelajar tidak benar-benar menerapkan konsep tersebut. Yang ada, bermain atau melakukan hal selain belajar.

Rasanya, kalau bisa setiap hari belajar di rumah sajalah. Tetapi, doa tersebut tidak pernah tercapai. Lucunya, justru generasi selanjutnya yang menikmati doa para pelajar terdahulunya tersebut. Pertanyaan besarnya, apakah semenyenangkan itu belajar di rumah bagi pelajar sekarang?

Saya yakin, mayoritas akan sepakat menjawab tidak. Kebanyakan atau hampir semua pelajar pasti sudah rindu dengan suasana KBM di kelas. Sudah kangen dengan yang namanya berangkat sekolah. Entah, maksud dan tujuan selaras atau tidak masing-masing individu yang tahu.

Motivasi bersekolah boleh saja berbeda. Namun, rasa gatal menunggu datangnya bertemu bapak/ibu guru tentu sudah tidak terbendung. Kalau sudah seperti ini, agaknya kapok ingin bolos sekolah.

Sebenarnya, sistem belajar daring apabila benar-benar dilakukan dengan serius, juga tidak begitu jauh berbeda. Intinya adalah perpindahan dan membagi ilmu maupun pengetahuan. Hanya saja, bedanya kita sendirian. Tidak ada teman sebangku di kanan atau kiri kita. Sendirian.

Tantangan belajar daring begitu banyak. Mulai dari sarana dan prasarana hingga aspek psikis yang harus dirasakan para siswa. Tak bisa dipungkiri, belajar dengan metode yang jauh berbeda tentu sangat menantang. Terlebih, kita adalah manusia sosial.

Namun, bukan berarti belajar secara daring tersebut lebih banyak negatifnya. Tidak bisa lantas ditarik kesimpulan seperti itu. Mengingat, adanya pembelajaran secara daring ini tak lain dikarenakan adanya pandemi Covid-19.

Yang artinya, aktivitas belajar di rumah secara daring tersebut ada untuk menjaga kesehatan generasi penerus bangsa. Sembari tetap memberikan bekal ilmu dan pengetahuan dari para guru.

Namun, sangat disayangkan pada kenyataannya. Jika menengok kondisi di lapangan, tak sedikit dijumpai remaja usia sekolah yang justru ada di luar rumah saat masa belajar daring. Mulai dari di warung kopi, kafe, atau sekadar nongkrong bersama teman sebayanya.

Kalau sudah seperti itu, apa esensinya belajar di rumah? Bukankah itu sama saja dengan doa dari para pelajar di generasi sebelumnya? Yang ingin belajar di rumah sebagai dalih menghindari pertemuan tatap muka di sekolah?

Belum lagi, dengan kesiapan orang tua mendidik anak-anaknya yang beberapa bulan terakhir ini belajar di rumah. Tugas orang tua bertambah. Berlipat-lipat. Yang sebelumnya hanya membantu tugas sekolah di malam hari, sekarang menjadi full satu hari.

Beruntung apabila memiliki keluarga yang memiliki privilege atau keistimewaan. Hal tersebut akan terasa sedikit ringan. Tidak seberat keluarga yang sehari-harinya memang pas-pasan untuk makan. Belum lagi harus dibebani mengajar anak di rumah.

PPDB tahun ini memang terasa berbeda. Kita mendaftar, namun untuk belajar di rumah. Cukup menggelikan sebenarnya. Namun, kondisi sekarang memang sedang tidak memungkinkan. Belum lagi, jika harus belajar dengan tatap muka, serangkaian protokol kesehatan harus ditetapkan.

Tentu, dengan kenormalan baru, wajah dunia pendidikan juga akan sedikit “berubah” seiring perkembangan zaman. Namun, jika harus dipaksakan tatap muka, apa para pelajar sudah siap berkomitmen menjalankan protokol kesehatan tersebut? Kita sendiri yang bisa menjawabnya. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia