Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Penjualan Sapi Kurban di Kediri Merosot Tajam, Ini Sebabnya

09 Juli 2020, 14: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

SIAP JUAL: Seorang pekerja membersihkan kandang sapi mili Suntoro di Semanding, Pagu kemarin.

SIAP JUAL: Seorang pekerja membersihkan kandang sapi mili Suntoro di Semanding, Pagu kemarin. (LU’LU’UL ISNAINIYAH - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hari Raya Idul Kurban kurang 20-an hari lagi. Namun, bagi pedagang sapi kurban, kondisi saat ini ibarat mimpi buruk. Omzet mereka menurun tajam bila dibandingkan Hari Raya Kurban tahun sebelumnya. Penurunan  yang merupakan imbas pandemi Covid-19 ini bahkan hingga 50 persen.

Penurunan ini diungkapkan oleh peternak Suntoro, 55. Warga Desa Semanding, Kecamatan Pagu ini mengatakan hingga kemarin penjualan sapi kurban sangat sepi.

“Ya ini sepi sekali. Tidak seperti tahun lalu. Biasanya sudah banyak yang datang ke kandang,” terang pria paruh baya tersebut kemarin (8/7).

Biasanya, menurut Suntoro, 30 hari sebelum pelaksanaan kurban dia sudah mampu menjual 30 ekor. Sementara saat ini dia baru bisa menjual lima ekor sapi saja. Padahal pelaksanaan kurban tinggal 20 hari.

“Kalau dulu kurang sebulan saja sudah banyak yang pesan. Ini saja baru hari ini ada pembeli kelima,” imbuhnya.

Suntoro mengaku tidak berani menyediakan sapi dalam jumlah banyak saat ini. Di kandangnya hanya ada 25 ekor saja. Berbeda dengan tahun lalu ketika dia berani menyiapkan stok sebanyak 50 ekor sapi kurban.

“Sekarang gak berani saya nyetok banyak-banyak. Takut gak laku,” akunya.

Suntoro membeli sapi yang akan dia jual itu dari kampung ke kampung di wilayah Kediri. Jenis sapi yang ia perjualbelikan ada tiga macam. Yaitu jenis limousin, pegon, serta simental.

Untuk sapi limousin paling banyak ia miliki. Karena jenis ini yang paling banyak dicari. Sedangkan untuk pegon dan simental dia tidak menyetok terlalu banyak.

Soal harga, juga tidak ada kenaikan dibanding tahun lalu. Per ekor sapi dia jual dengan kisaran harga antara Rp 19 juta hingga Rp 20 juta. “Harga segitu gak bisa diukur bobotnya Mbak,” ujarnya dengan menunjuk sapi yang berusia 2 tahun tersebut.

Dia mengaku juga menjual sapi dengan harga sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per ekor. Untuk sapi dengan harga seperti itu dia mengatakan bobotnya bisa mencapai 7 kuintal.

Suntoro menjelaskan, rekan-rekannya sesama pedagang sapi kurban juga mengeluhkan hal yang sama. “Teman yang lain juga mengeluh sapinya hanya laku sedikit,” ungkapnya.

Suntoro tak bisa memperkirakan apakah kondisi sepi ini akan berlangsung hingga pelaksanaan kurban. Atau, mungkin, pembeli melakukan transaksi mendekati pelaksanaan kurban. (luk/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia