Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Situs Puncu: Tebing Tak Mampu Tahan Struktur Kuno

Pemdes Wonorejo Amankan Daerah Temuan ODCB

09 Juli 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

TUTUP : Warga Desa Wonorejo memberi batas tali rafia pada kawasan tempat penemuan ODCB yang berada di tebing aliran lahar yang rawan longsor.

TUTUP : Warga Desa Wonorejo memberi batas tali rafia pada kawasan tempat penemuan ODCB yang berada di tebing aliran lahar yang rawan longsor. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Warga yang penasaran dan ingin melihat penemuan struktur bata kuno di Dusun Lestari, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu, harus bersabar. Mereka hanya bisa melihat bangunanan yang masuk objek diduga cagar budaya (ODCB) itu dari kejauhan. Pemerintah desa (pemdes) setempat masih menutup lokasi tersebut untuk alasan keamanan dan keselamatan.

Penyebabnya, kondisi tanah tempat ODCB itu berada tergolong berbahaya. Berada di aliran lahar Gunung Kelud. Lokasinya juga berada di tebing dengan kemiringan tajam. Sangat rawan longsor.

Kepala Desa Wonorejo Wahyu Wiyono menegaskan, kondisi tanah itu bisa membahayakan bila ada yang nekat mendekat. Berbahaya untuk kelestarian ODCB tersebut dan keselamatan orangnya.

“Kami dari pihak desa berkoordinasi untuk melakukan penutupan dahulu terkait keamanan pada penemuan ini. Karena kondisi tanah rawan longsor,” ujar Wahyu.

Setelah kunjungan dari BPCB Jatim, pihak desa juga merencanakan segera membenahi area tersebut. Agar lebih aman bagi pengunjung. Menurut Wahyu, rencananya tebing yang terdapat struktur bata kuno itu akan diberi penahan. Kemudian memberi akses menuju lokasi.

“Tentunya agar cagar budaya ini tetap lestari,” jelasnya.

Awalnya, kawasan aliran lahar tersebut merupakan tanah pasir. Hanya saja saat ini pasir sudah habis sehingga penambang melakukan penggalian tanah untuk keperluan lain. Seperti untuk tanah urug dan pembuatan genteng di desa lain.

“Yang jelas rata-rata penambang di sini dari luar daerah,” sebut Wahyu.

Terkait rekomendasi dari BPCB, sang kades mengaku bahwa pihak pemdes akan mendukung langkah pelestarian cagar budaya di wilayahnya. “Otomatis kami juga memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya,” terangnya.

Hanya saja karena lokasi rawan longsor mereka melakukan penutupan untuk sementara. Terutama menutup aktivitas penambangan liar yang masih terjadi. “Sebenarnya desa juga tidak punya pemasukan dari aktivitas tambang ini. Jadi ya sementara ditutup untuk mengamankan cagar budaya,” tandasnya.

Sebelumnya, pada peninjauan 4 Juli lalu, arkeolog BPCB Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito juga menekankan soal pengamanan ODCB tersebut. Salah satunya adalah dengan menghentikan aktivitas pengerukan tanah di sekitar ODCB.

“Kami harapkan pada masyarakat tidak meneruskan aktivitas menggali tanah di area ini. Supaya tanah yang menopang struktur bisa menahan beban agar tidak longsor,” sarannya.

Jika aktivitas penggalian terhenti maka ancaman longsor bisa direduksi. Seandainya tetap longsor maka itu karena faktor alam. Bukan perusakan oleh manusia.

Pihak BPCB juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Wonorejo. Merekomendasikan apa yang perlu dilakukan setelah ini. Baik upaya menutup sementara atau upaya membuat talud untuk mengamankan cagar budaya.

Tak hanya itu, sosialisasi pada warga untuk ikut menjaga penemuan ini juga sangat perlu dilakukan. Perilaku masyarakat dalam menghargai cagar budaya ini sangat diharapkan. Cara apresiasinya adalah dengan tidak merusak atau melakukan aktivitas yang memicu kerusakan benda bersejarah tersebut. (din/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia