Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Sumardi, Korban Penganiayaan Asal Mukuh Kayenkidul

Si Pendiam Itu Berniat Melerai

09 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

RAMAI: Motor para pelayat terparkir di halaman rumah duka kemarin. Iwan, saksi yang juga jadi korban penganiayaan malam nahas itu (foto kanan).

RAMAI: Motor para pelayat terparkir di halaman rumah duka kemarin. Iwan, saksi yang juga jadi korban penganiayaan malam nahas itu (foto kanan). (RENDI MAHENDRA/JPRK)

Share this          

Kebahagiaan keluarga kecil ini terenggut. Sang kepala keluarga meninggal setelah jadi korban penganiayaan. Padahal, semasa hidup dia dikenal sebagai pria yang pendiam.

RENDI MAHENDRA, JP Radar Kediri, Kabupaten

Hari hendak beranjak siang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Rumah di salah satu sudut Desa Mukuh, Kecamatan Kayenkidul itu masih ramai dengan pelayat. Deretan motor terparkir di halaman sempit rumah yang berada di sisi utara jalan desa itu.

Rumah itu selama ini ditinggali oleh Sumardi. Pria yang dua hari lalu (6/7) mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Setelah beberapa waktu dirawat akibat menjadi korban penganiayaan.

Sebelumnya Sumardi sempat dirawat di RSUD SLG. Tak lama, hanya semalam. Sebelum akhirnya dipindah ke RS Bhayangkara. Hingga mengembuskan napas terakhirnya Selasa malam.

“Setelah maghrib jenazahnya baru dibawa pulang ke rumah. Dan, malamnya langsung dimakamkan,” terang Anwar, 70, ayah mertua Sumardi pada Jawa Pos Radar Kediri.

Saat menceritakan itu guratan wajah Anwar terlihat menahan sedih. Lelaki itu tak menyangka menantunya itu bakal meninggalkan untuk selamanya dua cucunya yang masih belia. 

Anak pertama mendiang adalah bocah perempuan. Berusia lima tahun. “Anak kedua laki-laki. Masih berusia dua tahun,” tambah Anwar sambil menunjuk dua anak yang tengah bermain di depan rumah.

Dua anak yang masih belia itu hasil pernikahan Sumardi dengan anak bungsu Anwar. Perempuan yang masih berusia 33 tahun. Istri Sumardi tak kelihatan saat itu. Kesedihan tampaknya masih menggelayuti. Membuat mentalnya masih belum stabil. “Masih trauma, kasihan, “ kata Anwar dengan nada iba.

Semasa hidup Sumardi adalah pekerja serabutan. Paling sering menjadi kuli bangunan. Sepulang kerja dia tak sering keluar rumah lagi. Paling sering nonton televisi bersama teman-temannya.

Memang, yang paling terkesan di hati Anwar adalah tabiat menantunya yang sangat pendiam. Menantunya itu juga tak pernah terlibat masalah dengan orang lain.

“Orangnya pendiam, ramah, dan tidak punya masalah dengan orang lain,” kenang Anwar yang kemarin hanya bercelana pendek dan berbaju batik saat menemui beberapa pelayat.

Saat menceritakan tentang menantunya itu rasa sedih tak bisa ditutupinya. Pria yang rambutnya sudah memutih itu hampir saja meneteskan air matanya.

Di malam nahas itu tak hanya Sumardi yang jadi korban penganiayaan. Ada juga Iwan Yulianto, 37. Rumah Iwan hanya 10 meter di timur rumah yang ditempati Sumardi. Lelaki yang sehari-hari menjadi perajin kandang burung ini di malam itu mendapat giliran menjaga portal desa bersama dengan Sumardi.

Iwan juga sempat dipukul oleh pelaku yang kini telah jadi tersangka, Didik Suprayitno, 36. Bahkan, sebenarnya yang dipukul pertama kali adalah dirinya.

Iwan menceritakan kejadian mengerikan malam itu. Waktu itu hampir tengah malam, sekitar pukul 23.00 WIB. Dia dan Sumardi berjaga di portal desa yang dibuat selama masa pandemi korona ini.

Saat itulah pelaku yang warga Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten hendak melintas. Mobil yang dia tumpangi berhenti karena portal dalam keadaan menutup.

“Pelakunya ini kan minta kami untuk buka portal. Terus kami suruh buka sendiri,” kata Iwan sambil menunjuk palang jalan yang berjarak sekitar 15 meter dari rumahnya.

Didik yang berada di mobil tetap meminta Iwan dan Sumardi membukakan palang. Akhirnya Iwan pun mengalah. Dia membuka palang jalan.

Namun, saat palang sudah terangkat, bukannya menjalankan mobilnya Didik justru turun. Kemudian mendatangi Iwan.

“Dia langsung memukul saya. Saya pun terjatuh ke aspal dan merasa pusing,” kata Iwan mengenang peristiwa nahas itu.

Menurut Iwan saat itu Sumardi datang hendak melerai. Namun Didik yang mata gelap karena pengaruh alkohol justru memukul Sumardi. Akibat pukulan itu, Sumardi pun tersungkur ke aspal. Kepala bagian belakang membentur benda keras.

“Akibat pukulan itu Sumardi mengeluarkan darah dari hidung dan telinga,” terang Kasi Humas Polsek Pagu Bripka Erwan Subagyo. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia