Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Wayang Korona, Inovasi Pembelajaran dari Heru Pratama

Ciptakan si Jahat dan Bahaya ‘Ratu Korona’

07 Juli 2020, 14: 55: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

KREATIF: Kasek Heru Pratama (kiri) menunjukkan salah satu visualisasi korona ke guru yang mengikuti pelatihan Senin (6/7).

KREATIF: Kasek Heru Pratama (kiri) menunjukkan salah satu visualisasi korona ke guru yang mengikuti pelatihan Senin (6/7). (Fajar Rahmad)

Share this          

Berawal dari keresahan karena metode pembelajaran selama belajar di rumah dianggap membosankan, Kepala SDK Frateran 2 membuat terobosan. Membuat wayang korona bagi siswa dan orang tua.

Fajar Rahmad, Kota, JP Radar Kediri

Wayang-wayang yang tertata rapi di meja menyambut siapapun yang masuk ke sekolah yang ada di Jalan Jaksa Agung Suprapto 10, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto tersebut.

Siang itu, Senin (6/7), SDK Frateran 2 Kediri baru saja membuat pelatihan membuat wayang. Pesertanya adalah para guru. Mereka mewarnai sketsa wayang dari berbagai bentuk, seperti wayang berbentuk orang, hewan, hingga korona.

Pelatihan itu dipandu langsung sang kepala sekolah. Luhkita Heru Pratama memang memiliki jiwa seni tinggi. Empat tahun menjabat kepala sekolah di tempat tersebut, Heru sering membuat terobosan pembelajaran melalui bidang seni dan budaya. Termasuk saat mulai wabah korona. Semua harus stay at home. Heru pun harus berkreasi agar belajar tak membosankan.

“ Saya awalnya resah ketika masa stay at home karena bingung metode apa yang menyenangkan bagi siswa ketika masa pandemi,”  tuturnya.

Laki-laki yang tinggal di Kelurahan Dadapan, Kecamatan Kota Kediriitu akhirnya mendapatkan inspirasi untuk membuat wayang dari kebiasaan menggambarnya.

Memang, hampir setiap sore waktunya diisi menggambar berbagai tokoh wayang dari kertas bekas. Menariknya, dia membuat wayang berkarakter ratu korona, dengan wajah yang mirip seperti visualisasi kuman di iklan televisi.

Heru berpikir tokoh ratu korona ini merupakan seseorang yang memerintah virus korona hingga menyebar di dunia. Dengan itu, guru atau siswa yang melihat lakon tokoh tersebut akan membayangkan jahat dan bahayanya virus korona.

Setelah memiliki satu tokoh, Heru lalu memberi semangat kepada para siswa dengan mengadakan lomba selama stay at home. Tak hanya untuk siswa, tetapi juga para orang tua. Mereka dituntut berkolaborasi membuat wayang dan narasi yang bertemakan korona. Hasilnya wali murid dan siswa merespon dengan menghasilkan karya yang di luar ekspektasi Heru.

Dari video yang dikirimkan ke guru-guru, pagelaran wayang yang diciptakan siswa dan orang tuanya hampir mirip pertunjukan pada umumnya. Memakai media wayang ceritanya dikemas secara kreatif dan lucu. Ditambah iringan musik khas pertunjukan wayang, dan juga mereka menambahkan lampu di tengah latar tempat pertunjukan.

“Siswa dan orang tua terlihat kompak membuat pagelaran wayang, apalagi salah satu dari mereka ada yang orang tunya pelaku seni,” jelas Heru sambil menunjukkan video tugas dari siswa.

Selain membuat perlombaan bagi siswa dan orang tuanya. Guru juga dituntut untuk bisa membuat wayang dan narasi yang bagus, agar kelak dapat dicontoh oleh siswanya. 

Rencananya pada Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli dari SDK Frateran II akan mengadakan sebuah pertunjukan seni tradisional termasuk wayang yang digagas Heru. Dia nanti juga menampilkan tari-tari tradisional yang sebelumnya juara 2 pada ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Bagi Heru, sekolahnya ini memegang prinsip ‘ Kreanov’ dari singkatan Kreatif dan Inovatif. Dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat penunjang pendidikan untuk lebih berkembang.

Laki-laki paro baya itu menganggap dengan dikembangkannya seni dan budaya di sekolah, pendidikan akan ikut maju dengan rasa kepedulian, kreativitas, dan inovasi sebagai kunci utamanya. (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia