Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

BPCB Jatim Kaji Temuan ODCB di Desa Brumbung

Ada Struktur Bata Kuno saat Bikin Kolam

07 Juli 2020, 14: 25: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

UPAYA PENYELAMATAN : Petugas BPCB Jatim melakukan pengukuran ODCB yang baru saja ditemukan di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung kemarin (6/7).

UPAYA PENYELAMATAN : Petugas BPCB Jatim melakukan pengukuran ODCB yang baru saja ditemukan di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung kemarin (6/7). (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Struktur batu bata kuno yang merupakan objek diduga cagar budaya (ODCB) lagi-lagi ditemukan. Kali ini temuan benda bersejarah tersebut terletak di kawasan Wisata Kali Tempur Dusun Kebonagung, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur masih melakukan kajian untuk mengetahui lebih lanjut ODCB yang disinyalir peninggalan Kerajaan Kediri tersebut.

Struktur batu-bata kuno ini pertama kali ditemukan warga saat melakukan penggalian di sekitar lokasi wisata desa. Yakni pada Minggu (5/7) lalu. Kepala Dusun Kebonagung Mohamad Sulton sekaligus pemilik lahan menyampaikan, penggalian itu rencanannya akan digunakan sebagai kolam.

“Akan dibangun kolam renang anak-anak yang nantinya sebagai pendukung wisata Kali Tempur,” ujarnya.

Tak disangka, saat menggali lahan yang lokasinya tak jauh dari sungai itu, warga menemukan bongkahan batu bata kuno. Lokasi penggalian awal masih 6 x12 meter.

Sulton menyebut, sebenarnya di lokasi yang sering disebut dengan kawasan Watu Tulis ini sebelumnya sempat ada penemuan benda-benda kuno. Yakni berupa arca, yoni, dan prasasti. “Saat ini benda-benda itu berada di balai desa, sudah dibuatkan tempat berupa pendapa,” jelasnya.

Sementara Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko memastikan bahwa temuan ini telah dilindungi oleh undang-undang. Yang pasti struktur tersebut masuk dalam objek diduga cagar budaya (ODCB).

Terkait penemuan ini, pihaknya menyerahkan pada BPCB Jatim untuk tindakan observasi dan penelitian. “BPCB yang akan meneliti dan nantinya bisa diketahui langkah apa saja yang perlu dilakukan,” ungkap Yuli saat peninjauan di lokasi penemuan.

Kasi Museum dan Purbakala Eko Priatno belum bisa memastikan bangunan itu berdiri  pada masa apa. Sebab untuk menentukan angka tahun atau periodisasi butuh data yang lengkap. Hanya, jika terkait waktu, kata Eko bisa dilihat dan dibandingkan dengan temuan-temuan lain yang masih berhubungan.

“Jika kita lihat temuan di Kecamatan Kepung ini ternyata objek sebaran cagar budaya sangat banyak. Untuk periodenya pun hampir semasa,” terangnya.

Cagar budaya yang bisa menjadi bukti periodisasi itu antara lain Prasasti Paradah di Desa Siman dan Prasasti Gneng yang berasal dari kawasan penemuan ODCB ini. Termasuk cagar budaya lain yang masih banyak lagi.

“Dengan kondisi seperti ini, prediksi awal dari disparbud benda ini dibuat satu masa dan berkelanjutan ke masa selanjutnya. Karena di sini pernah ditemukan prasasti dari dua masa. Yakni Prasasti Gneng I dari masa Bameswara. Sementara Prasasti Gneng II dari masa Tri Buwana Tunggadewi,” jelasnya.

Dari hasil observasi BPCB Jatim yang dilakukan kemarin (6/7), Pamong Budaya sekaligus Arkeolog BPCB Jatim Ichwan menjelaskan, ini menunjukkan sebuah struktur kaki bangunan kuno. Ukuran yang masih tampak adalah 5 x 3,30 meter. “Struktur ini layaknya bagian dari kaki candi, ini dugaan awal. Tentunya nanti akan ada kajian lebih lanjut dengan perlakuan ekskavasi,” ujarnya.

Ekskavasi tersebut, kata Ichwan untuk mengetahui bentuk dan ukuran objek yang ditemukan ini. Struktur yang tampak, bahan utamanya adalah batu-bata merah. Dengan bentuk persegi panjang dan ada hiasan berupa palang.

Ke depan, Ichwan menegaskan bahwa BPCB Jatim dengan Disparbud Kabupaten Kediri akan melakukan tindakan pelestarian terhadap situs yang baru saja ditemukan tersebut. “Otomatis kami akan melakukan tindakan ekskavasi atau penggalian arkeologis untuk menyelamatkan objek diduga cagar budaya yang memiliki nilai penting. Baik ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan maupun agama tersebut,” pungkasnya.

Saat ini temuan tersebut telah digaris polisi. Untuk upaya penyelamatan dan menghindari kerusakan ODCB, BPCB menyarakan tidak ada aktivitas penggalian lebih lanjut terhadap kawasan tersebut sembari menunggu rekomendasi selanjutnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia