Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

BPCB Minta Stop Penggalian Tanah

05 Juli 2020, 15: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

RAWAN : Petugas BPCB Jatim Wicaksono mengukur struktur kuno yang diduga pintu gerbang di jalur lahar Kelud Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu kemarin.

RAWAN : Petugas BPCB Jatim Wicaksono mengukur struktur kuno yang diduga pintu gerbang di jalur lahar Kelud Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu kemarin. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/JPRK)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur merespon temuan struktur batu-bata di jalur lahar Dusun Lestari, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu kemarin (4/7). Dari peninjauan itu, objek diduga cagar budaya (ODCB) tersebut diduga kuat merupakan pintu gerbang bangunan suci.

Arkeolog BPCB Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito mengungkapkan, dari hasil peninjauannya kemarin bahwa struktur tersebut memang sebuah ODCB. “Dugaan awal merupakan pintu gerbang. Ada dua, yang satu masih utuh, satu lagi sudah tinggal puingnya saja. Gerbang ini menuju sebuah tempat di sebelah timurnya,” jelas Nugroho.

Kenapa ke timur? Menurutnya itu mengarah ke Gunung Kelud yang menjadi gunung suci di Pulau Jawa. Dan itu tidak menutup kemungkinan menjadi lokasi sakral atau tempat pemujaan masyarakat pada masa itu.

Karena lokasinya berada di tebing, Nugroho mengungkapkan bahwa kondisinya tidak aman. Untuk upaya pelestarian dan pengembangan pun bakal sulit. Yang pasti bentuk lanskap kawasan itu menurutnya rentan terjadi longsor.

“Apalagi kondisi tanah yang terdiri dari material vulkanik ini tidak begitu kuat dalam menopang beban,” ungkap Nugroho ditemui ketika melakukan peninjauan bersama tim arkeologi dari BPCB di lokasi kemarin.

Yang jelas tak bisa dipungkiri bahwa karena kondisi alam demikian struktur ini sulit untuk diselamatkan. Terlebih akses menuju lokasi yang medannya lumayan sulit. Hal itu menjadi hambatan upaya pengamanan.

Yang menjadi catatan Nugroho, upaya yang bisa dilakukan untuk mengamankan kawasan bersejarah ini adalah dengan menghentikan aktivitas pengerukan tanah di dekat ODCB. “Kami harapkan pada masyarakat tidak meneruskan aktivitas menggali tanah di area ini. Supaya tanah yang menopang struktur bisa menahan beban agar tidak longsor,” sarannya.

Jika aktivitas itu benar-benar berhenti bila terjadi longsor karena kondisi alam yang tidak mendukung. Bukan perusakan dari aktivitas manusia. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Wonorejo dalam rekomendasi apa yang perlu dilakukan setelah ini.

“Kami harap pemerintah desa bisa melakukan sosialisasi pada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas penggalian di lokasi ini,” tegasnya.

Dia menambahkan, perilaku masyarakat dalam menghargai cagar budaya ini sangat diharapkan. Cara mengapresiasinya adalah dengan tidak merusak atau melakukan aktivitas yang memicu kerusakan benda bersejarah tersebut. “Misalnya ingin dimanfaatkan mungkin pihak desa bisa membuatkan jalan setapak yang lebih aman bagi masyarakat,” ungkapnya.

Nugroho menambahkan, daerah Puncu dan Kepung memang banyak peninggalan dari masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit. “Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa daerah ini merupakan daerah penting pada masa lalu,” tandasnya.

Terkait rekomendasi dari BPCB, Kepala Desa Wonorejo Wahyu Wiyono mengaku bahwa pihak pemerintah desa akan mendukung langkah pelestarian cagar budaya di wilayahnya. “Otomatis kami juga memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya,” terangnya.

Hanya saja dengan kondisi di lokasi karena rawan longsor, pihak desa akan melakukan penutupan penambangan liar. “Kami juga akan berupaya mengamankan benda cagar budaya ini agar tetap lestari,” pungkasnya. (din/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia