Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Siswa MAN 2 Kota Kediri yang Bikin Rangka Drone Berbahan Sampah

Idenya Berawal dari Kebosanan saat Stay at Ho

04 Juli 2020, 12: 29: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

JUARA : Azhar menunjukkan drone ramah lingkungan karyanya, diapit  Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim (kanan) dan guru pembina Achmad Fachris.

JUARA : Azhar menunjukkan drone ramah lingkungan karyanya, diapit Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim (kanan) dan guru pembina Achmad Fachris. (MAN 2 KOTA KEDIRI for JPRK)

Share this          

Remaja ini mampu mengubah kebosanan akibat stay at home menjadi kegiatan produktif. Membuat karya yang sangat bermanfaat. Frame drone berbahan sampah plastik.

IQBAL SYAHRONI, KEDIRI JP Radar Kediri

Samar-samar terdengar suara mendesis yang diakibatkan putaran baling-baling sebuah drone. Mesin terbang itu melayang sekitar empat meter dari tanah. Dikendalikan seorang remaja berjaket MAN 2 Kota Kediri yang berjarak 20-an meter dari posisi drone tersebut.

Remaja berkaca mata itu terlihat sedikit kesulitan saat berusaha mendaratkan drone. Meskipun mampu mendarat di tangannya tapi terasa kurang mulus.

“Masih banyak yang harus dibenahi,” ucap pemuda bernama lengkap Muhammad Azhar Syahrudin itu.

Saat berucap itu, Azhar mengamati drone warna biru metalik itu. Mencopoti tempat baterai. Kemudian menggerak-gerakkna baling-balingnya.

Drone yang dipegang siswa MAN 2 Kota Kediri ini terlihat berbeda bila dibandingkan dengan drone pada umumnya. Terlihat ringan. Dan ternyata, frame drone tersebut terbuat dari plastik yang sangat ringan.

“Ini frame  saya buat sendiri,” terang remaja berusia 17 tahun itu.

Azhar memang membuat frame tersebut dari limbah plastik yang ia temui di di sekitar rumahnya. Ide ini justru muncul dari keisengannya karena merasa bosan selama berada di rumah akibat pandemi korona. Saat ada kesempatan keluar rumah sebentar matanya selalu berburu sesuatu yang dianggapnya bisa berguna.

“Biasanya pas jalan keluar rumah  lihat ada sampah plastik, botol, atau ember terutama,” terang pemuda yang beralamat di Desa Bogo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini.

Siswa yang duduk di kelas 12 IA-1 ini mengaku awalnya hanya coba-coba. Kemampuannya membuat frame drone juga didapat dari otodidak. Setelah baca-baca buku terkait mesin itu. Kegiatan yang dia lakukan dalam rentang waktu setahun terakhir.

Azhar hanya membuat frame drone-nya saja. Sedangkan mesin hingga baling-baling masih diambil dari drone asli. Sebagian kompenennya dia dapatkan dari peralatan elektronik bekas.

“Seperti penerima sinyal infra merah yang saya ambil dari remote bekas,” terangnya.

Sulung dari pasangan Slamet Santoso dan Erlina Sri Sundari ini mengakui mendapat banyak kendala saat proses berkaryanya. Terutama saat proses pembuatan frame. Terutama saat melebur plastik-plastik bekas sebagai bahan frame. Pemanasan itu harus dilakukan dengan hati-hati. Beberapa kali lelehan plastik panas itu jatuh ke lantai atau karpet.

“Kadang saya lepaskan pegangannya karena panas,” kenangnya sambil mengaku sempat dimarahi sang ibu karena karpet mereka kotor terkena lelehan plastik.

Kemarahan sang ibu itu bukan berarti menghalangi tekad Azhar. Karena sebenarnya kedua orang tuanya sangat mendukung upayanya itu. Sang ayah, Slamet, mengatakan memang anaknya jarang minta bantuan saat melakukan proses kreatif. “Memang anaknya (Azhar, Red) ini suka umeg. Harus gerak dan bikin apa saja. Kalau memang misal tidak tahu kadang ya minta tolong,” ujar Slamet dan Lina senada.

Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh muridnya itu. Ia menjelaskan bahwa Azhar memiliki potensi yang luar biasa. “Azhar ini juga bergabung di kelompok ilmiah remaja (KIR) An-Nahl MAN 2 Kota Kediri. Di mana ekstra yang dapat mengambangkan potensi di bidang riset,” terang Nursalim.

Selain membuat frame drone dari sampah Azhar juga pernah membuat beberapa karya inovatif lain. Seperti baju hangat pendeteksi TBC, alat pendeteksi ikan yang sakit, juga bata merah dengan komponen elektro untuk isi ulang daya baterai handphone. “Alat untuk ikan ini sudah ada kerja sama dengan Dinas Perikanan Kota Kediri juga,” jelas Nursalim.

Nursalim berharap temuan Azhar ini dapat dikembangkan lebih mutakhir. Agar menjadi produk yang membantu masyarakat dalam memanfaatkan teknologi drone.

Memang, Azhar seperti tak lelah untuk mengembangkan karyanya itu. Berkali-kali dia mengecek aerodinamika frame dan berat mesin terpasang. Kadang-kadang jatuh ke tanah dan ia pun berlari mengambilnya. Dicoba lagi. Begitu seterusnya. Impiannya tidak pudar. Dia ingin terus mengembangkan drone yang ia buat ini untuk kemaslahatan umat

“Sekarang masih prototipe. Masih banyak kurangnya. Ini sedang saya modifikasi terus,” ucapnya penuh semangat.(fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia