Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Ketika Struktur Bersejarah Kian Banyak Ditemukan di Kabupaten Kediri

Terpendam 7 Meter karena Erupsi Gunung Kelud

04 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

CURAM: Petugas dari Disparbud Kabupaten Kediri dan anggota komunitas sejarah berada di lokasi penemuan struktur kuno di Dusun Lestari, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu kemarin.

CURAM: Petugas dari Disparbud Kabupaten Kediri dan anggota komunitas sejarah berada di lokasi penemuan struktur kuno di Dusun Lestari, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu kemarin. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

Share this          

Sejumlah struktur bersejarah kembali ditemukan. Hampir semuanya tertimbun tanah. Sebagian bangunan itu masih utuh, sebagian lagi tinggal puing-puing.

Temuan objek cagar budaya yang berada di lereng Gunung Kelud memang bervariasi. Kedalaman temuannya tergantung pada toprografi kewilayahan zaman dulu. Bahkan beberapa di antaranya bisa lebih dari 5 meter.

“Seperti di Candi Jatimulyo, Kepung, itu kedalamannya hampir 7 meter di bawah permukaan tanah,” terang Kasi Museum dan Purbakala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Eko Priatno.

Beda lagi di lokasi lain. Beberapa temuan hanya sedalam 2 hingga 3 meter dari muka tanah. Termasuk temuan terbaru di Dusun Lestari, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Struktur bangunan kuno yang diperkirakan peninggalan bersejarah itu berada di tebing. Kedalamannya 2 meter dari permukaan tebing.

“Daerah sini (Puncu, Red) merupakan dataran tinggi. Sementara yang Candi Jatimulyo lebih rendah,” ungkap Eko ketika ditemui saat melakukan pendataan objek diduga cagar budaya (ODCB) di Desa Wonorejo, Puncu kemarin.

Permukaan tanah yang cenderung rata pada saat ini tak lepas dari dampak erupsi Gunung Kelud sejak ratusan tahun lalu. Termasuk letusan dahsyat pada 1901 yang memuntahkan material mencapai 200 juta meter kubik. Hal itu, menurut Eko, sangat berdampak pada objek peninggalan dari zaman kerajaan saat itu.

Dampak material vulkanik yang ditimbulkan dari aktivitas Gunung Kelud memang sangat besar. Apalagi lokasi sejumlah ODCB di kawasan Kecamatan Puncu dan Kepung ini dekat dengan pusat letusan atau kawah Gunung Kelud.

“Otomatis daerah sini terdampaknya  lebih tinggi,” jelas Eko.

Sejauh ini cagar budaya di Kabupaten Kediri yang usianya paling tua rata-rata ada di wilayah timur. Seperti di Kecamatan Puncu, Kepung, dan Kandangan. “Di kawasan ini penemuan objek cagar budaya lebih tua secara periodenya,” ungkapnya.

Termasuk Candi Sapto, cagar budaya yang ada di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Bahan yang digunakan untuk membangun candi itu hampir sama dengan bahan yang digunakan membangun cagar budaya di kawasan timur Kabupaten Kediri.

“Dulu memang satu kesatuan wilayah. Hanya saja saat ini terpisah secara administrasi,” tandasnya.

Termasuk Prasasti Hantang yang pernah ditemukan di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Benda bersejarah itu termasuk prasasti tua yang dibuat di era Raja Jayabaya.

Sayangnya, peninggalan zaman kerajaan yang ada di kawasan Lereng Kelud sisi utara semuanya dalam kondisi tak utuh lagi. Hanya ada beberapa prasasti yang tulisan di permukaan masih terbaca. Seperti prasasti Gneng di Desa Brumbung dan  Prasasti Paradah di Desa Siman.

“Dan yang paling spektakuler dari daerah ini adalah peninggalan dari Desa Kampungbaru yakni Prasasti Harinjing yang menceritakan tentang pembuatan sudetan sungai,” ungkapnya. Prasasti yang saat ini berada di Museum Nasional itu diklaim menjadi prasasti yang menyebut kata Kediri pertama kali. (din/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia