Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Daerah Nganjuk Utara Berpotensi Gempa

02 Juli 2020, 13: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Gempa

DEMO: Kepala BMKG Sawahan M. Chudori (dua dari kiri) menunjukkan cara kerja alat pendeteksi gempa kepada personel BPBD Nganjuk kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Bencana gempa bumi belum dapat diprediksi datangnya. Oleh karena itu, pemetaan dan deteksi dini sangat dibutuhkan. Terlebih, wilayah Nganjuk bagian utara yang berpotensi terjadi gempa. Tak lain karena dilewati oleh jalur sesar Kendeng.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sawahan M. Chudori, kemarin. Menurutnya, jalur sesar tersebut memanjang dari wilayah Rembang, Jawa Tengah hingga Surabaya, Jawa Timur. “Kebetulan jalurnya melewati wilayah Bojonegoro dan Nganjuk,” papar Chudori kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Meski telah memetakan jalur sesar tersebut, namun waktu datangnya gempa belum dapat diketahui. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, potensi gempa di sesar tersebut bisa mencapai magnitudo 6 skala richter (SR). “Termasuk besar,” timpalnya.

Sebagai bentuk pengingat agar masyarakat waspada, ukuran gempa tersebut diakui Chudori memiliki dampak bencana yang relatif tinggi. Hanya saja, selama pemantauan dan riwayat gempa di Kota Angin, menurutnya jarang terjadi gempa dengan magnitudo 5 SR.

“Jarang yang mencapai 5 SR. Namun, kita semua tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan meminimalisir dampaknya,” imbuh pria yang rambutnya mulai memutih tersebut.

Oleh karena itu, BMKG mendistribusikan sebuah alat deteksi gempa bumi ke Pemkab Nganjuk. Alat diletakkan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk.

Alat deteksi gempa yang juga dikenal dengan Warning Receiver System (WRS) itu dengan cepat akan dapat menerima atau mendeteksi apabila terjadi gempa. Mulai dari gempat bumi tingkat rendah hingga tinggi. “Alat ini akan menerima informasi sekitar dua hingga lima menit dari terjadinya gempa,” klaim Chudori.

Lebih jauh Chudori menjelaskan, WRS juga bisa menerima informasi terjadinya gempa di seluruh Indonesia. Semua akan terkoneksi ke alat yang memiliki layar lebar tersebut.

Bahkan, alat itu sejatinya tidak hanya untuk menerima informasi gempa bumi saja. Melainkan juga bencana tsunami. Hanya saja, lantaran Nganjuk berada jauh dari wilayah pesesir pantai, potensi bencana tersebut nihil.

Dengan adanya alat tersebut, Chudori berharaptim BPBD dapat segera menyalurkan informasi kepada masyarakat terdampak. Sehingga, dapat meminimalisasi atau mengurangi potensi korban jiwa dan material. “Tujuannya tentu agar dapat mengurangi dampak terhadap masyarakat,” pungkas Chudori.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia