Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Harmoni Cycling Club antara Tren dan Hobi Bersepeda di Tengah Pandemi

Edukasi Pakai Masker di Jarak Tertentu

01 Juli 2020, 15: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

LELAH: Anggota HCC berfoto bersama setelah mengayuh sepeda sejauh 50 kilometer Minggu (28/6).

LELAH: Anggota HCC berfoto bersama setelah mengayuh sepeda sejauh 50 kilometer Minggu (28/6). (FAJAR RAHMAD)

Share this          

Berdiam di rumah dan tidak bersepeda selama pandemi ternyata menyiksa para anggota HCC. Begitu aturan mulai longgar, mereka pun memilih bersepeda.Tentu saja dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

FAJAR RAHMAD, KOTA, JP Radar Kediri

Minggu pagi (28/6), masih senja, sepuluh orang terlihat berkumpul di alun-alun Kota Kediri. Masing-masing membawa sepeda road bike dan berseragam ungu.

Tepat pukul 05.30 WIB, sepeda-sepeda itu terparkir di tepi jalan, bersiap untuk melakukan olahraga sepeda bersama. Meski masih dalam kondisi pandemi korona, mereka masih bersemangat untuk bersepeda agar terus bergerak.

Sepuluh orang dengan pakaian ketat tersebut merupakan komunitas sepeda yang bernama Harmoni Cycling Club (HCC). Komunitas ini masih satu tahun. Meskipun begitu, kiprahnya di Kediri sudah banyak didengar sesama pengemar sepeda luar kota. Apalagi sejak pandemik, tren olahraga sepeda meningkat di Indonesia, yang juga berpengaruh pada HCC.

“Pengaruh tren sepeda bagi komunitas kami ya banyak yang menanyakan info jadwal gowes bareng dan semakin bertambahnya penjualan jersey,” ucap Eko Setiono, 32, salah satu anggota HCC.

Menurut Eko yang bertanggung jawab dengan sosial media HCC, ada lebih dari sepuluh akun yang menanyakan jadwal gowes. Hingga membuat Eko harus menjawab tiap pertanyaan yang diposting. Bahkan komunitas sepeda dari luar kota juga menanyakan jalur wisata di Kediri yang telah dibuka. Rasa ketertarikan itu muncul karena HCC sering mengunggah kegiatan bersepeda dengan latar belakang wisata Kediri.

Memang, sebenarnya saat pandemic, anggota HCC sebenarnya banyak yang tidak betah berdiam diri di rumah. Bahkan ketika work from home, banyak yang sering melakukan olahraga sepeda sendiri.

Hal itu membuat anggota HCC bosan melakukan olahraga sepeda sendiri hingga memutuskan kembali gowes bareng setelah lebaran. Karena tujuan utama komunitas yang diikuti Eko ini untuk mewadahi para pelaku sepeda agar dapat bersepeda bersama.

Selama pandemi ini, Eko sering berdiskusi tentang pemakaian masker selama bersepeda. Ada yang bilang memakai masker itu wajib karena mematuhi protokol kesehatan. Tetapi, untuk pesepeda dengan rute jauh membutuhkan oksigen yang lebih banyak. “Sempat timbul berdebatan, akhirnya saya edukasi. Bersepeda jarak jauh memang sebaiknya tidak bermasker,” jelas Eko.

Eko sendiri pernah membuktikan sendiri dengan bersepeda lebih jauh dari 10 kilometer dan memakai masker. Ternyata benar, dirinya kesulitan bernafas. Karena itu, pesepeda harus melihat rute yang akan ditempuh. Jika masih kurang dari 10 kilometer, Eko dapat bertahan bersepeda dengan memakai masker.

Bagi Eko, bersepeda telah menjadi kebutuhannya dan bukan ikut tren saja. Karena tubuh perlu gerak setiap hari secara santai. Karena bagi dia, bersepeda merupakan olahraga yang tidak terlalu memforsir gerak tubuh. Bahkan dia dan anggota HCC yang lain menyebut olahraga ini lebih dari sekadar hobi, karena keeratan pertemanan mereka timbul dari bersepeda. (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia