Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Panen Buruk gara-gara Ulat Sulur

Menancap di Daun Sawi dan Bikin Bolong

30 Juni 2020, 13: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

HIJAU: Para pemborong mengikat daun-daun sawi usai memanen di lahan milik Hendro Kartiko di Desa Sekoto, Kecamatan Badas kemarin.

HIJAU: Para pemborong mengikat daun-daun sawi usai memanen di lahan milik Hendro Kartiko di Desa Sekoto, Kecamatan Badas kemarin. (LU’LU’UL ISNAINIYAH/JPRK)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri– Sebenarnya, menanam sawi merupakan hal yang mudah. Sayuran ini tidak memerlukan cuaca atau iklim tertentu untuk mulai  masa tanam. Artinya, di semua cuaca petani bisa menanamnya.

Sayangnya, kali ini para petani sawi terganggu dengan serangan hama ulat. Namanya ulat sulur gantung. Ulat yang menyerang daun ini membuat pendapatan petani sawi menurun dibanding biasanya.

Salah satu petani yang merasakan dampak serangan ulat sulur gantung ini adalah Hendro Kartiko, asal Desa Sekoto, Kecamatan Badas. Petani berusia 55 tahun ini mengaku kesulitan mengatasi serangan hama di tanaman sawinya.

“Biasanya ulat ini sudah mulai nyerang saat daunnya sudah pupus,” terang Hendro Senin (29/6).

Ia menjelaskan jika ulat ini berukuran sangat kecil seperti jarum. Ulat ini juga tidak memakan daun sawi. Tapi hanya menancap di daunnya saja. Meskipun demikian efeknya parah. Karena membuat daun sawi berlubang dan jadi menguning.

Imbasnya, jika daun sudah mulai terserang ulat maka saat besar hasil panennya tidak laku jual. “Kalu sudah berlubang ya gak ada yang mau beli. Otomatis ya dibuang apa dijadikan pakan ternak,” imbuhnya.

Kali ini hasil panen yang ia dapatkan termasuk kurang baik. Walaupun Hendro sudah berusaha mengobati tanaman sawi tersebut dengan insektisida. Jika daun sudah terserang ulat, obat yang diberikan pun tidak akan membantu. Daunnya akan tetap berlubang.

Sawi yang dipanen Hendro termasuk sawi jenis tosakan. Jenis itu sudah termasuk yang bagus. Meskipun tak sebagus yang jenis shinta. “Tosakan itu jenis sawi yang daunnya lonjong,” terang pria berkaos hitam tersebut.

Kemarin panenan sawi Hendro diborong oleh pedagang besar dari Sidoarjo. Nilainya mencapai Rp 3 juta untuk lahan seluas 125 ru (1 ru = 14 meter persegi). Rinciannya, sawi dijual per bongkok yang berisi 10 ikat. Harga per bongkok Rp 7 ribu.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Suwandi, petani sawi dari Desa Sekoto. Ia juga mengatakan sawinya diserang oleh ulat. “Sawi ya itu hamanya ulat yang sangat kecil itu, kayak jarum,” terang Suwandi.

Untuk mencegah hama ini menyerang lebih luas, dia lebih dulu menyemprot dengan cairan insektisida. Berbeda dengan Hendro, sawi miliknya saat ini belum panen dan masih berumur sekitar 15 hari. Masa panen sawi hanya satu bulan sejak ditanam. “Kalau sawi cepat Mbak, apalagi sebelumnya bekas tanam bawang merah palingan umur 28 hari nanti sudah panen,” ujar pria yang kemarin bertopi biru tersebut.

Sementara itu saat dikonfrmasi ke Plt Dinas Pertanian dan Perkebunan Anang Widodo mengatakan jika hama ulat memiliki dua jenis. Yakni ulat tanah dan ulat daun. “Kebanyakan yang di petani kita itu yang menyerang ulat daun sejenis grayak,” terang Anang.

Menurutnya, penanganan ulat tersebut dapat menggunakan insektisida dan pestisida hayati yang dikembangkan sendiri. Sedangkan bagi para petani dapat menghubungi petugas lapangan jika membutuhkan obat-obatan untuk menangani hama tersebut. “Sedini mungkin apabila ada serangan hama sesegera mungkin petani untuk menghubungi kami. Sehingga bisa ditangani sebelum berdampak lebih buruk,” imbuh Anang. ­­­(luk/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia